PADANG PARIAMAN-Zonadinamikanews.com,-Perebutan kursi Ketua KONI di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat makin menyerupai pertarungan politik praktis. Di balik spanduk dan musyawarah olahraga, sesungguhnya berlangsung kompetisi senyap antara kepentingan politik, ambisi pribadi, dan kekuatan modal. Padahal, jabatan Ketua KONI bukan kursi kekuasaan itu amanah pembinaan prestasi.
Kita tidak sedang memilih kepala daerah, apalagi membagi proyek. Tapi itulah yang terjadi. Proses pemilihan yang seharusnya berorientasi pada rekam jejak dan dedikasi di dunia olahraga, kini dibajak oleh mereka yang menjadikan olahraga sebagai batu loncatan ajang politik.
Hal ini, terbukti dari adanya salah satu Pengurus Cabor bernama Bandaro mengatakan Kalau Bisa semua Surat Dukungan Untuk Asmadi, Soalnya Jika Asmadi tidak duduk Menjadi Ketua KONI Padang Pariaman, Bupati Padang Pariaman JKA tidak akan Memperhatikan KONI.”ucapnya melalui Via Telfon dengan Salah satu Ketua Cabor PSOI.
“Ketua KONI yang tulus membangun olahraga bukan sekadar hadir saat pembukaan turnamen. Ia harus paham bahwa olahraga adalah medan perjuangan yang membutuhkan ketekunan, bukan sekadar lobi. Ia tak menjadikan jabatan sebagai alat branding, tapi sebagai alat pengabdian.” Ucap Purn. AKBP Maymuspi,SE.,MM.
Ketua KONI bukan datang karena dibekingi kekuatan modal, tapi karena panggilan hati untuk memajukan anak-anak muda yang punya mimpi besar dari gelanggang kecil, agar Olahraga yang ada di Padang Pariaman lebih maju dan berkembang”sambungnya Purn. AKBP Maymuspi,SE.,MM.
“Kita harus waspada. Ketika relasi vertikal lebih kuat dari suara cabang olahraga, ketika nama pejabat lebih menentukan dari prestasi, maka KONI tak lagi jadi rumah pembinaan, tapi jadi anak tangga kekuasaan”. Tutupnya.
Dunia olahraga memiliki kultur tersendiri. Ia tumbuh dari semangat sportivitas, dedikasi, dan kedisiplinan. Memimpin olahraga tidak sama dengan mengelola proyek atau birokrasi; ia menuntut kepekaan, empati, serta pengalaman langsung dalam membina atlet dan organisasi cabang olahraga.
KONI tidak boleh terjebak dalam pusaran politik kekuasaan yang menjauhkan semangat sportivitas. Kepemimpinan olahraga harus kembali pada ruhnya: membina, menginspirasi, dan mencetak prestasi. (Z)













