KOTA PADANG-Zonadinamikanews. Keberadaan hotel De Laguna Almero dengan ketgori hotel kelas melati diduga keras jadi tempat penyakit masyarakat (pekat) seperti prostitusi, penyalahgunaan narkoba, serta pasangan ilegal di luar nikah.
Hotel yang berlokasi di Muara Anai Pantai Jambak ini di sebut sudah berdiri sejak tahun 2000 dan memasang tarip Rp.200.000 sekali nginap, dan setiap pasangan lain jenis yang nginap, pihak hotel di sebut tidak pernah menanyakan akan status pemesan identitas penyewa.
Ironisnya, hotel kelas melati ini tidak perna di razia oleh pihak keamanan baik dari kepolisian maupun Satpol PP, sehingga kegiatan di hotel yang diduga rentan praktek Prostitusi ini berjalan aman tentram.
“Nginap di tempatnya bayar Rp 200 ribu,dan rata-rata yang memesan kamar selalu berpasang pasangan atau lain jenis, diduga pemesan kamar hanya ingin memuaskan hasrat birahi, selain diduga keras jadi tempat prostitusi, diduga juga jadi tempat barang haram seperti narkoba, tapi aneh kami sebagai warga di sini tidak pernah ada razia dari polisi maupun Satpol PP, kami menduga pengelola hotel bermain cantik dengan oknum aparat atau mungkin ada setoran sebagai tutup mulut untuk oknum aparat” terang warga sekitar.
Hotel De Laguna Almero yang berjarak sekitar 10 KM dari keramaian kota ini diduga tidak memiliki perizinan lenkap, layaknya hotel bahkan kontribusi pada pemerintaha kota padang pun tidak ada.
Ketika media ini mencoba berbincang bincang dengan salah seorang di dalam hotel mengaku asal jakarta dan juga sebagai pemilik.
Sebagai pemilik Hotel yang berlokasi di Muara Anai Pantai Jambak juga disebutkan mengakui tidak mengetahui detail data penyewa kamar. Pengelola hotel juga tidak mewajibkan penyewa meninggalkan KTP di front office, dan memasang tarif kamar dari Rp.200.000 sekali ngamar.
Masyarakat sekitar dan juga sejumlah tokoh agama meminta pihak penegak hukum untuk melakukan sidak ke dalam hotel yang diduga tempat transaksi narkoba dan prostitusi tersebut, sebab keberadaan tempat penginapan tersebut, selain menyediakan esek-esek juga berpotensi merusak mental masyarakat.
“Kami sebagai masyarakat berharap agar pemerintah tangan tutup mata, tolong di razia hotel tersebut, berikan saksi yang pantas bagi penyewa dan pengelola, karena setiap tamu yang datang kami duga keras bukan pasangan suami istri, tapi kami duga adalah pasangan selingkuhan dan para pelaku narkoba.(tim)










