KAB AGAM- Zonadinamikanews. Dalam catatan media ini, SMAN 1 Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam mengalokasikan dana BOS sejak tahun 2023-2025 sebesar Rp.611.980.161.
Pada tahun 2023 pada tahap satu Rp.67.908.000 tahap dua Rp.16.925.000, tahun 2024 tahap satu Rp.94.536.000 tahap dua Rp.171.621.780, tahun 2025 tahap satu Rp.104.815.006,tahap dua Rp.156.147.381.
Dugaan praktek korupsi dan indikasi pungutan liar, agaknya juga tidak bisa terbantahkan lagi, setiap siswa juga mengaku di bebankan bayar bulanan Rp.85.000/siswa dan kabarnya siswa juga kerap mendapat ancaman tidak boleh ikut ujian bila tidak melunasi bayaran tersebut.
Sementara sarana sekolah seperti WC terlihat tidak berpungsi dengan maksimal, sehingga setiap siswa hendak buang air kecil dan besar selalu kebingungan, karena kondisi WC tidak memiliki air, sehingga bau pesing yang menyengat selalu ada di lingkungan sekolah, dan kesehatan siswa pun dikhawatirkan terganggu, sehingga perilaku sehat para tenaga pendidik di lingkungan sekolah sangat di ragukan.
Sebab Toilet sekolah itu berfungsi sangat utama sebagai sarana pembuangan kotoran manusia (buang air besar/kecil) yang higienis, sekaligus menjaga kesehatan siswa dari penyakit. Selain itu, toilet sekolah berperan sebagai sarana edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), membentuk karakter peduli lingkungan, dan meningkatkan kenyamanan serta konsentrasi belajar.
Namun dari hasil investigasi media ini di lingkungan sekolah, sejumlah WC sekolah tidak terawat dan tidak ada aliran air, sehingga kloset dan lantai terlihat kumal dan bau pesing.
Dengan kondisi WC yang tidak memadai, kerap membuat sejumlah murid kebingungan saat hendak buang air kecil dan besar.
Fakta ini agaknya bertentangan dengan keterangan Yepi sebagai kepala sekolah saat menjawab surat konfirmasi yang di kirimkan media ini, Yepi mengatakan pada tahun ajaran 2025 yang menganggarkan dana BOS untuk biaya pemeliharaan sarana dan prasarana sebesar tahap satu Rp.104.815.006,tahap dua Rp.156.147.381 Termasuk perbaikan intalasi air, namun melihat fakta di lapangan dengan kondisi WC tidak mengalirnya air, patut diduga,bahwa kegiatan perbaikan intalasi air di duga fiktif.
Sama halnya bahwa masih banyaknya plafon sekolah yang rontok tanpa ada perbaikan, sehingga menambah kecurigaan, bahwa oknum kepsek tidak peduli dengan keindahan akan bangunan sekolah, di tambah lagi dengan adanya pemandangan yang menjijikan atas tumpukan sampah yang berada dekat kantin sekolah.
Terkait pungutan sejumlah siswa mengatakan.
” Kami di bebankan bayar Rp.85 .000 tiap bulan, bahkan bila menjelang ujian, bagi siswa yang belum membayar kerap dapat ancaman tidak bisa mengikuti ujian” terang siswa.
Terkait tidak adanya air di WC mereka mengaku bahwa hal itu sudah terjadi lama dan hampir satu tahun .
” oh kondisi WC tidak ada, itu sudah hampir setahun, kami juga bisa hendak buang air kadang kebingungan” ucap siswa.
Salah seorang warga kepada media ini mengatakan bahwa pemandangan sekolah hanya manis di depan, dalamnya memprihatinkan. Bahkan oknum kepsek di nilai kurang perhatian pada lingkungan sekolah.
” Kepala sekolah disini kurang perhatian pada lingkungan sekolah, walau perempuan tapi tidak memiliki prinsip bersih, lihat saja sejumlah WC nyaris semua tidak ada air, sampah berserakan tidak terurus, taman atau air mancurnya tidak berfungsi, yang jelas kepsek walaupun perempuan seperti tidak memelihara kebersihan lingkungan sekolah, saya dengar-dengar juga, pengajuan perbaikan intalasi air juga sudah sejak tahun lalu, namun sampai sekarang tidak ada, buktinya Banyak WC tidak bisa di aliri air sehingga menimbulkan mau” ucap warga sekitar.
Dengan fakta-fakta di lapangan, selain adanya dugan pungutan liar, indikasi kuat dugaan korupsi dana BOS sangat rawan terjadi, sehingga banyak pihak meminta penegak hukum agar memeriksa Yepi Herpanda, S.Pd sebagai kepala sekolah, karena di duga selama kepemimpinan dirinya sebagai kepala sekolah diduga keras tidak terlepas dari indikasi praktek korupsi dana pendidikan demi kepentingan pribadi dan keluarganya.(tim) bersambung










