MANDAILING NATAL ~ Zonadinamikanews.Oknum TNI berinisial Lubis yang mencoba intimidasi para jurnalis di Mandailing Natal ketika menyoroti aktivitas Penambangan Emal Tanpa Izin (PETI) yang selama ini di Mandailing Natal.
Dengan gaya preman kampung mencoba melakukan tekanan bernada ancaman “Sudah keras tulangmu, bro?” pada wartawan ketika para jurnalis melakukan klarifikasi terhadap dirinya, wartawan bukanya mendapat klarifikasi dari oknum TNI bermental ” Penjahat” tersebut, melainkan intimidasi secara verbal.
Fungsi TNI yang juga termasuk menjaga alam, berfokus pada penanggulangan bencana alam, pelestarian lingkungan, TNI aktif dalam mitigasi bencana, edukasi lingkungan, serta pengamanan sumber daya alam seakan hancur di tangan oknum TNI ini.
Diduga hal itu di lakukan, hanya untuk melindungi pata penjahat kekayaan alam, serta demi memperkaya diri dan keluarga dengan ikut serta merusak alam.
Belakangan ini, bahwa dugaan keterlibatan oknum prajurit dalam aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Mandailing Natal, semakin terbuka lebar dan menjadi perhatian publik, menyusul keluarnya ucapan tidak etis dan manusiawi dari mulut oknum TNI inisial Lubis tersebut, dengan melemparkan sebuah intimidasi terhadap jurnalis.
Setelah intimidasi terhadap jurnalis tersebut menjadi konsumsi pemberitaan, oknum TNI tersebut pada media ini mengatakan ” saya kordinasi dulu dengan komandan ya” jawabnya di ujung telepon, tanpa menjelaskan maksud dan tujuan kordinasi tersebut.
Sejumlah tokoh masyarakat menyayangkan atas tindakan oknum TNI yang merangkap jadi “penjahat” yang diduga nekat melindungi para mafia PETI di Mandailing Natal, selain terindikasi kuat telah ikut merusak alam, juga menjadi prajurit sosok penakut nakuti rakyat demi melancarkan aksinya bersama para mafia PETI, demi “tumpukan” rupiah dari hasil kejahatan.
“Kami mengutuk keras oknum TNI inisial Lubis tersebut, semoga kelak dirinya mendapat karma atas segala tindak tanduknya dalam melindungi para mafia PETI tersebut, bila benar dirinya menjadi “pembackup” aktivitas PETI yang telah merusak alam, maka wajib laknat alam” tegas masyarakat.
“Jadilah prajurit yang berguna bagi masyarakat, jangan jadi “penjahat” berbaju TNI yang di bayar negara, sebab seragam yang anda pakai dan jagi yang anda terima adalah dari hasil pajak rakyat” pesan tokoh masyarakat tersebut.
Diberitakan sebelumnya, bahwa dalam sepekan terakhir, isu ini berkembang luas di masyarakat. Sejumlah media online menyoroti dugaan adanya peran oknum aparat dalam pengamanan aktivitas tambang ilegal di wilayah tersebut.
Sejumlah jurnalis yang melakukan penelusuran ke lokasi tambang mengaku menemukan informasi mengenai sosok yang diduga terlibat. Nama A. Lubis disebut sebagai pihak yang diduga memiliki peran dalam aktivitas tersebut.
Upaya konfirmasi dilakukan oleh salah seorang jurnalis melalui sambungan telepon ke nomor yang beredar. Namun, respons yang diterima justru dinilai bernada intimidatif dan tidak pantas.
“Sudah keras tulangmu, bro?” ujar oknum yang diduga prajurit tersebut, sebagaimana disampaikan Nasution, jurnalis yang turut mendengar percakapan, Senin (20/04/2026).
Peristiwa ini kemudian mendapat tanggapan dari aktivis mahasiswa Sumatera Utara, Muhammad Amarullah. Ia menilai respons tersebut tidak mencerminkan sikap profesional dan berpotensi menghambat kerja jurnalistik.
Menurutnya, konfirmasi merupakan bagian penting dalam proses peliputan yang sah dan dilindungi undang-undang. Ia menegaskan bahwa jurnalis memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi kepada publik secara berimbang.
“Sebagai insan pers, melakukan konfirmasi adalah kewajiban profesional. Sangat disayangkan jika ada oknum aparat yang merespons dengan bahasa yang tidak pantas,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa institusi TNI memiliki semboyan “Bersama Rakyat TNI Kuat”, yang seharusnya tercermin dalam sikap humanis dan terbuka terhadap masyarakat, termasuk jurnalis.
Sejumlah jurnalis dan aktivis kini mendesak pimpinan Kodam I/Bukit Barisan untuk segera melakukan klarifikasi dan investigasi internal. Jika dugaan tersebut terbukti, mereka meminta adanya penegakan hukum secara tegas.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai dugaan keterlibatan oknum prajurit dalam PETI maupun terkait dugaan intimidasi verbal terhadap jurnalis.(tim)









