TAPUT-Zonadinamikanews.Program Sanitasi Perdesaan (Sandes) Tahun Anggaran 2025 di Tapanuli Utara yang terpantau di Desa Hutapea Banuarea, Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara.
Hal ini dikarenakan akibat dugaan praktek korupsi dalam program tersebut. sebagian besar warga penerima bantuan sanitasi dari program Sandes ini, belum merasakan atas mamfaat toilet sesuai peruntukanya.
Dari puluhan warga penerima bantuan program Sandes di Desa Hutapea Banuarea, tidak dapat mempergunakan toilet bantuan, diduga dampak dari oknum yang menjadikan azas manfaat guna mencari keuntungan semata oleh oknum-oknum bermental maling.
“Kami benar-benar tidak bisa memanfaatkan toilet tersebut, selain pemasangannya asal-asalan, juga tidak terlepas dari azas manfaat oleh oknum-oknum, dampaknya tidak ada alias gagal fungsi,bagaimana tidak gagal fungsi, sistem pemasangan bilik nya yang terbuat dari seng, juga tiang penyangga dari baja ringan pun asal-asalan, termasuk pemasangan Septic tank dan fiber yang kedap air untuk menampung, di pasang lebih tinggi dari toilet, sehingga aliran dari
toilet tidak berjalan dengan baik, baik pipa paralon dari bilik toilet banyak tidak di kubur dengan baik” ujar warga.
Semua toilet tidak di pasang atap, sehingga saat hujan turun, otomatis toilet sangat sulit untuk di pakai, perna kami tanya kenapa tidak pakai atap, tukangnya menjawab “tidak perlu pakai atap, sementara kami liat sisa seng di bawah pulang, artinya sisa seng tersebut bila di pakai untuk atap masih cukup.
Program SANDES (Sanitasi Desa atau Sanitasi Perdesaan Padat Karya) yang di sebut program Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk membangun infrastruktur sanitasi dasar bagi masyarakat pedesaan berpenghasilan rendah. Dengan tujuan Membangun bilik jamban, tangki septik (septic tank) kedap air, dan sistem pengolahan air limbah domestik, yang katanya padat karya atau kerja swadaya, namun prakteknya dilapangan di kerjakan oleh orang luar.
“Katanya pembuatan toilet ini di kerjakan secara swadaya. namun faktanya saat pekerjaan kami tidak di libatkan, kami juga tidak tahu pekerja yang dikirim, kami tidak tahu, sehingga hasil begini lah sangat reot dan tidak berfungsi, jadi program untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat hanya sebatas slogan saja”tambah warga.
“Kami sangat kecewa terhadap program ini, kami agaknya sudah di permainkan mereka, kami berharap pemerintah melakukan pemantauan akan hasil pembangunan toilet ini, jangan kami di jadikan jadi dasar praktek korupsi oleh para bajingan-bajingan uang negara tersebut” harap warga.
Sementara itu, camat Tarutung saat di hubungi media ini via pesan WhatsApp membenarkan bahwa toliet tersebut adalah Program Sanitasi Perdesaan (Sandes).
“itu dari dana pusat, Program Sanitasi Perdesaan (Sandes), sejenis program bedah rumah, kalau tidak salah anggaranya Rp.10 juta per unit, tapi lebih jelasnya bisa di tanyakan Ke dinas perkim (Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman)” pesan Camat Tarutung.(tim) bersambung










