PADANG PARIAMAN-Zonadinamikanews.Kelompok Tani Pintu Aie yang berlokasi di Korong Toku Duku, Nagari Bisati Sungai Sariak, hingga kini mengalami kekurangan pupuk subsidi pemerintah. Kondisi ini dinilai sangat merugikan petani karena tidak hanya jumlah penerima yang berkurang drastis, tetapi juga penyaluran pupuk yang terlambat dan tidak sesuai dengan musim tanam.
Berdasarkan Surat Keputusan Wali Nagari Bisati Sungai Sariak tanggal 08 Maret 2017 Nomor 05/Kep/WN.BSTSS/2017 tentang revitalisasi susunan pengurus Kelompok Tani Pintu Aie, tercatat 25 Kepala Keluarga (KK) sebagai anggota resmi kelompok tani dan berhak diusulkan sebagai penerima pupuk subsidi. Namun fakta di lapangan menunjukkan, nama yang tercantum dalam RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) hanya 10 KK, sementara 15 KK lainnya tidak terakomodir tanpa kejelasan.
Ironisnya, pada tahun-tahun sebelumnya ketika harga pupuk masih mahal (non-subsidi), seluruh anggota kelompok tani yang tercantum dalam SK justru masih mendapatkan alokasi pupuk. Namun pada tahun ini, saat pupuk subsidi sangat dibutuhkan, sebagian besar petani malah tersingkir dari daftar penerima.
Tak hanya itu, distribusi pupuk dari PT Pupuk Indonesia ke kios-kios pupuk juga dinilai terlambat dan tidak sinkron dengan jadwal musim tanam petani. Akibatnya, banyak petani terpaksa menanam tanpa pemupukan yang cukup, yang berdampak langsung pada menurunnya produktivitas hasil panen.
Ketua Kelompok Tani Pintu Aie, Azwar Anas, saat ditemui awak media mengatakan bahwa kondisi ini sangat memprihatinkan.
“Saat ini anggota kelompok tani kami sangat membutuhkan pupuk untuk sawah dan ladang mereka. Dulu, ketika pupuk masih mahal, nama yang keluar di RDKK sesuai dengan yang ada dalam SK. Tapi tahun ini hanya keluar 10 nama, sementara 15 nama lainnya hilang,” ujarnya.
Ia juga menyoroti dampak serius keterlambatan pupuk terhadap pertumbuhan tanaman padi.
“Yang lebih miris, pupuk datang ke kios tidak sesuai dengan masa tanam. Saat padi harus diberi pupuk, pupuk tidak ada. Akibatnya hasil panen tidak maksimal. Samo jo urang kalau makan ndak diagiah makan, tantu panyakik nan ka tibo,” tambahnya.
Azwar berharap pemerintah nagari dan pihak terkait dapat segera meninjau ulang data RDKK serta memperbaiki sistem distribusi pupuk subsidi agar benar-benar tepat sasaran dan sesuai kebutuhan petani.
“Kami berharap pemerintah nagari lebih memperhatikan nasib para petani di Nagari Bisati Sungai Sariak. Pertanian adalah tulang punggung masyarakat, jangan sampai petani dirugikan oleh sistem yang tidak berpihak,” tegasnya.
Kondisi ini menjadi sinyal kuat perlunya evaluasi serius terhadap pendataan penerima pupuk subsidi dan mekanisme distribusinya, agar tujuan subsidi untuk meningkatkan kesejahteraan petani benar-benar tercapai, bukan justru sebaliknya.













