KARAWANG-Zonadinamikanews.com.Pembangunan RTH/ Taman Kecamatan Cikampek yang menghabiskan APBD Karawang tahun 2025 sebesar Rp.443.880.000 yang dikerjakan oleh CV.Ayodya Gumelar dengan SPK.027/08/PK-01.TMN-CKP/DLH/PPK02/VIII/2025, dengan kontrak kerja selama 90 hari, dengan luas lokasi 480 M2
yang di plot di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Karawang.
Hasil pengamatan media di lokasi pekerjaan, diduga keras oknum pelaksana lebih fokus untuk mengejar keuntungan tanpa memperdulikan akan kualitas pekerjaan, hal itu diduga dapat dukungan dari di Dinas Lingkungan hidup kabupaten Karawang.
Pasalnya, walaupun sistem pekerjaan terlihat jelas asal jadi, namun pihak DLH seakan tidak mau tahu, alias membiarkan, yang patut diduga ada permainan kotor antar oknum pelaksana dengan oknum dinas yang melakukan pengawasan.
Bahkan pihak pelaksana tidak memberikan RAB pada mandor sehingga tidak memilih acuan akan konstruksi yang akan di laksanakan di lapangan.
Seorang bapak yang mengaku sebagai mandor saat berbincang-bincang di lokasi pada media ini mengaku, tidak memili acuan terkait perbandingan akan adonan semen dan pasir, bahkan mengaku terkadang memakai 1: 3 dan 1:6 dengan alasan karena tidak ada beban di atas pasangan baru.
” Ya tidak ada acuan soal RAB, kadang pakai 1:3 kadang 1:6 karena tidak ada beban, dan hal itu sudah biasa di pakai”
Saat di tanda apakah tidak pakai besi sebagai pengunci, sang mandor mengatakan tidak ada pakai besi, jawabnya.
Kenapa baru bata langsung di tempelkan di atas tanah tanpa melakukan galian? Ya begitu katanya jawab mandor.
Ketika ditunjukan bahwa kualitas campuran yang sudah kering dan terpasang, saat di remas langsung hancur seperti demi, lagi-lagi mandor menjawab tidak apa-apa nanti juga di plester dan tertutup jawabnya berdalih seraya berusaha meninggalkan media dan pergi mutar-mutar di lokasi.
Buruknya kualitas campuran adonan semen pasir akibat perbandingan antara semen dan pasir membuat kualitas pasangan baru merah di yakini tidak akan bisa bertahan lama, yang terindikasi bahwa pelaksana proyek taman tersebut asal-asalan.
Hal itu diduga terjadi akibat pihak Dina lingkungan hidup tidak melakukan pengawasan yang maksimal, sehingga kesempatan oknum pelaksana melaksanakan pekerjaan semaunya berpeluang besar terjadi.
Salah seorang staf kecamatan Cikampek saat berbincang bincang dengan media ini mengatakan, “Bila saya perhatikan cara kerja pekerja taman ini, saya yakin pasangan baru merah itu tidak akan bisa bertahan lama, akan berantakan dalam waktu yang singkat, pasalnya, campuran adukan nya sangat mengerikan asal-asalan, ya kita lihat aja nanti tidak akan bisa bertahan lama, pasangan bata pasti pada rontok, apalagi sistem pasangan begitu, pelaksana jelas-jelas tidak memikirkan akan kualitas pekerjaan, semoga dinas terkait buka mata dan buka hati, jangan hanya maunya enak saja, ucap staf kecamatan tersebut.
Seharusnya, di lakukan galian lah, biar bata terikat pada tanah, ini mah tidak sama sekali, hanya rumput yang bersihkan langsung di timba adukan dan bata, meding campuran semen dan pasir bagus, yang ada seperti lumpur aja tidak ada daya rekatnya sama sekali.
Jadi wajah terlihat tapi kualitas sangat parah, karena oknum pemborong lebih fokus cari untung dari pada memikirkan kualitas pekerjaan, ucapnya. (zdn)












