KAB AGAM- Zonadinamikanews.Dalam menanggapi akan pemberitaan media ini yang berjudul “Membongkar Dugaan Korupsi dan Pungli di SMAN 1 Tanjung Mutiara Kabupaten Agam” Ketua MKSS SMAN Kabupaten Agam langsung menyampaikan ultimatum kepada Yepi Herpanda, S.Pd sebagai kepala sekolah SMAN 1 Tanjung Mutiara.
‘Terimakasih atas perhatiannya pada lingkungan sekolah kami, dan saya sudah komunikasi dengan kepala sekolah Yepi Herpanda terhadap kerusakan sebagaimana yang muncul dalam berita, saya tegaskan ke ibu Yepi Herpanda, sebelum saya ke sekolah ibu, apa benar kondisi seperti dalam berita tersebut, dan bila benar, ini bisa bahaya sama ibu, tali ibu kepsek membantah, dan mengatakan bahwa foto yang muncul dalam berita tersebut adalah foto lama” Jawab Hendra Putra di ujung telepon 23/4.
Aksi “kebohongan” Yepi Herpanda pada ketua MKKS yang mengaku bahwa kerusakan plafon dan tidak mengalirnya ke sejumlah WC sekolah, semakin membuka tabir dugaan korupsi dana pendidikan, bahwa laporan penggunaan dana BOS di SMAN 1 Tanjung Mutiara dari tahun ke tahun disinyalir tidak terlepas dari dugaan rekayasa dokumen laporan.
Pasalnya, hasil investigasi media ini pada tanggal rabu 22 April 2026, bahwa banyak kejanggalan yang ditemukan media ini, termasuk di temukan nya sejumlah titik, bahwa kondisi plafon yang jebol dan Sejumlah WC tidak di aliri air.
” sudah lama itu pak WC tidak ada airnya, dan juga kerusakan plafon tidak tahu kenapa kepala sekolah tidak memperbaiki, kasihan siswa kalau mau kencing, juga tumpukan sampah yang di samping kantin sudah lama menumpuk” kata petugas keamanan sekolah yang juga di amini oleh pemilik kantin.
“Ya pak benar itu, lihat aja ke dalam banyak WC tidak ada airnya, juga plafon banyak yang hancur, miris banget liatnya, WC jauh dari kebersihan, air tidak mengalir ke WC itu sudah hampir satu tahun, hanya di WC kepala sekolah yang lancar airnya, ucap pemilik kantin.
Ditanya, apakah ada perbaikan intalasi air dalam tahun 2925, pemilik kantin yang juga di amini oleh satpam sekolah, bahwa setahu mereka tidak ada perbaikan intalasi air, kalau ada air sudah pasti mengalir ke WC.
“Setahu kami tahun 2025 tidak ada perbaikan intalasi air, kalau ada ya sudah pasti air bisa mengalir ke sejumlah WC, buktinya sampai sekarang tidak ada air” ujarnya.
Dengan keterangan kedu sumber tersebut semakin membuka “borok” oknum kepsek, bahwa dugaan “manipulasi” dokumen dana BOS semakin mengkristal, sebab pada media ini, Yepi Herpanda mengatakan, sala satu item kegiatan sekolah dari dana BOS tahun 2025 adalah perbaikan intalasi air, namun data tersebut diduga keras bertolak belakang dengan fakta di lapangan, dan diduga kegiatan perbaikan intalasi tersebut adalah “fiktif”.
Yepi Herpanda, S.Pd sebagai kepala sekolah SMAN 1 Tanjung Kabupaten Agam saat di minta tanggapannya terkait pemberitaan media ini, hingga berita ini terbitkan masih tutup mulut.
Membongkar Dugaan Korupsi dan Pungli di SMAN 1 Tanjung Mutiara Kabupaten Agam
Diberitakan sebelumnya, pada tahun ajaran 2025 yang menganggarkan dana BOS untuk biaya pemeliharaan sarana dan prasarana sebesar tahap satu Rp.104.815.006,tahap dua Rp.156.147.381 Termasuk perbaikan intalasi air, namun melihat fakta di lapangan dengan kondisi WC tidak mengalirnya air, patut diduga,bahwa kegiatan perbaikan intalasi air di duga fiktif.
Dalam catatan media ini, SMAN 1 Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam mengalokasikan dana BOS sejak tahun 2023-2025 sebesar Rp.611.980.161.
Pada tahun 2023 pada tahap satu Rp.67.908.000 tahap dua Rp.16.925.000, tahun 2024 tahap satu Rp.94.536.000 tahap dua Rp.171.621.780, tahun 2025 tahap satu Rp.104.815.006,tahap dua Rp.156.147.381.
Dugaan praktek korupsi dan indikasi pungutan liar, agaknya juga tidak bisa terbantahkan lagi, setiap siswa juga mengaku di bebankan bayar bulanan Rp.85.000/siswa dan kabarnya siswa juga kerap mendapat ancaman tidak boleh ikut ujian bila tidak melunasi bayaran tersebut.
Sementara sarana sekolah seperti WC terlihat tidak berfungsi dengan maksimal, sehingga setiap siswa hendak buang air kecil dan besar selalu kebingungan, karena kondisi WC tidak memiliki air, sehingga bau pesing yang menyengat selalu ada di lingkungan sekolah, dan kesehatan siswa pun dikhawatirkan terganggu, sehingga perilaku sehat para tenaga pendidik di lingkungan sekolah sangat di ragukan.
Sebab Toilet sekolah itu berfungsi sangat utama sebagai sarana pembuangan kotoran manusia (buang air besar/kecil) yang higienis, sekaligus menjaga kesehatan siswa dari penyakit. Selain itu, toilet sekolah berperan sebagai sarana edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), membentuk karakter peduli lingkungan, dan meningkatkan kenyamanan serta konsentrasi belajar.
Namun dari hasil investigasi media ini di lingkungan sekolah, sejumlah WC sekolah tidak terawat dan tidak ada aliran air, sehingga kloset dan lantai terlihat kumal dan bau pesing.
Dengan kondisi WC yang tidak memadai, kerap membuat sejumlah murid kebingungan saat hendak buang air kecil dan besar.
Fakta ini agaknya bertentangan dengan keterangan Yepi sebagai kepala sekolah saat menjawab surat konfirmasi yang di kirimkan media ini, Yepi mengatakan pada tahun ajaran 2025 yang menganggarkan dana BOS untuk biaya pemeliharaan sarana dan prasarana sebesar tahap satu Rp.104.815.006,tahap dua Rp.156.147.381 Termasuk perbaikan intalasi air, namun melihat fakta di lapangan dengan kondisi WC tidak mengalirnya air, patut diduga,bahwa kegiatan perbaikan intalasi air di duga fiktif.
Sama halnya bahwa masih banyaknya plafon sekolah yang rontok tanpa ada perbaikan, sehingga menambah kecurigaan, bahwa oknum kepsek tidak peduli dengan keindahan akan bangunan sekolah, di tambah lagi dengan adanya pemandangan yang menjijikan atas tumpukan sampah yang berada dekat kantin sekolah.
Terkait pungutan sejumlah siswa mengatakan.
” Kami di bebankan bayar Rp.85 .000 tiap bulan, bahkan bila menjelang ujian, bagi siswa yang belum membayar kerap dapat ancaman tidak bisa mengikuti ujian” terang siswa.
Terkait tidak adanya air di WC mereka mengaku bahwa hal itu sudah terjadi lama dan hampir satu tahun .
” oh kondisi WC tidak ada, itu sudah hampir setahun, kami juga bisa hendak buang air kadang kebingungan” ucap siswa.
Salah seorang warga kepada media ini mengatakan bahwa pemandangan sekolah hanya manis di depan, dalamnya memprihatinkan. Bahkan oknum kepsek di nilai kurang perhatian pada lingkungan sekolah.
” Kepala sekolah disini kurang perhatian pada lingkungan sekolah, walau perempuan tapi tidak memiliki prinsip bersih, lihat saja sejumlah WC nyaris semua tidak ada air, sampah berserakan tidak terurus, taman atau air mancurnya tidak berfungsi, yang jelas kepsek walaupun perempuan seperti tidak memelihara kebersihan lingkungan sekolah, saya dengar-dengar juga, pengajuan perbaikan intalasi air juga sudah sejak tahun lalu, namun sampai sekarang tidak ada, buktinya Banyak WC tidak bisa di aliri air sehingga menimbulkan mau” ucap warga sekitar.
Dengan fakta-fakta di lapangan, selain adanya dugan pungutan liar, indikasi kuat dugaan korupsi dana BOS sangat rawan terjadi, sehingga banyak pihak meminta penegak hukum agar memeriksa Yepi Herpanda, S.Pd sebagai kepala sekolah, karena di duga selama kepemimpinan dirinya sebagai kepala sekolah diduga keras tidak terlepas dari indikasi praktek korupsi dana pendidikan demi kepentingan pribadi dan keluarganya.(tim) bersambung













