TAPUT-Zonadinamikanews.Pada tahun 2025 Pemerintahan Tapanuli Utara mendapatkan Program Sanitasi Perdesaan (Sandes) Desa Hutapea Banuarea, Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, di plot jadi desa Percontohan pada program tersebut.
Tujuan utama program ini adalh untuk menyediakan sarana layak atau Membangun prasarana sanitasi dan jamban sehat yang berkualitas serta ramah lingkungan untuk Mengurangi kebiasaan buang air besar sembarangan (BABS) guna menekan angka penyakit akibat lingkungan kotor. Memutus rantai penyakit infeksi pencernaan pada anak agar status gizi dan kesehatan balita di desa meningkat. Membuka lapangan kerja lewat sistem padat karya yang memberi tambahan upah harian bagi warga local, Mendorong pemahaman warga tentang pentingnya Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Agaknya program ini telah di sulap oleh oknum untuk mencari keuntungan tanpa memperdulikan akan fungsi pada program tersebut. Program ini terpantau dilapangan hamper 90 persen gagal fungsi karena system pengerjaanya asal-asalan bahkan diduga di biarkan mangkrak.
Program ini di kerjakan pada akhir tahun 2025, dan hingga saat bulan agustus tahun 2026, sejumlah titik pembanguan SANDES tersebut juga tak kunjung tuntas.bahkan pengerjaan terkesan amburadul, Godwin dari Dina Perkim tapanuli utara, saat di temui media ini di kantornya, berjanji bulan Juli 2026 akan di perbaiki.
“Y aitu kegiatan kita, tolonglah tidak usa di ramaikan, kami janji bulan 7 akan kami perbaiki” jawabnya saat itu.
Ketika di tanya berapa unit semua MCK yang di bangun tersebut, Godwin Siallangan menjawab, ada sekitar 30 unit di Desa Hutapea Banuarea, Des aini sebagai desa percontohan, berapa anggaran yang di butuhkan dalam pembangunan setiap MCK? Godwin menjawab kurang lebih Rp.10 juta/unit.
Pengakuan besaran anggaran tersebut, selaras dengan pengakuan camat Tarutung saat di hubungi media ini via pesan WhatsApp.
“itu dari dana pusat, Program Sanitasi Perdesaan (Sandes), sejenis program bedah rumah, kalau tidak salah anggaranya Rp.10 juta per unit, tapi lebih jelasnya bisa di tanyakan Ke dinas perkim (Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman)” pesan Camat Tarutung.beberapa waktu lalu.
Sejumlah masyarkat Desa Hutapea saat di hubungi media ini mengaku, bahwa hingga saat ini tidak perbaikan, semua di biarkan berantakan, bohong kalua dinas perkim taput, janji bulan 7, sekarang sudah bulan Agustus, kami lihat tidak ada perbaikan, jawab warga.
Terkait gagal fungsinya program tersebut, puluhan warga penerima bantuan program Sandes di Desa Hutapea Banuarea, tidak dapat mempergunakan toilet bantuan tersebut, karena banyak pengerjaan tidak tuntas alias asal-asalan, diduga dampak dari perlakuan oknum yang menjadikan azas manfaat guna mencari keuntungan semata oleh oknum-oknum bermental maling.
“Kami benar-benar tidak bisa memanfaatkan toilet tersebut, selain pemasangannya asal-asalan, juga tidak terlepas dari azas manfaat oleh oknum-oknum, dampaknya tidak ada alias gagal fungsi,bagaimana tidak gagal fungsi, sistem pemasangan bilik nya yang terbuat dari seng, juga tiang penyangga dari baja ringan pun asal-asalan, termasuk pemasangan Septic tank dan fiber yang kedap air untuk menampung, di pasang lebih tinggi dari toilet, sehingga aliran dari
toilet tidak berjalan dengan baik, baik pipa paralon dari bilik toilet banyak tidak di kubur dengan baik” ujar warga.
Semua toilet tidak di pasang atap, sehingga saat hujan turun, otomatis toilet sangat sulit untuk di pakai, perna kami tanya kenapa tidak pakai atap, tukangnya menjawab “tidak perlu pakai atap, sementara kami liat sisa seng di bawah pulang, artinya sisa seng tersebut bila di pakai untuk atap masih cukup.
“Katanya pembuatan toilet ini di kerjakan secara swadaya. namun faktanya saat pekerjaan kami tidak di libatkan, kami juga tidak tahu pekerja yang dikirim, kami tidak tahu, sehingga hasil begini lah sangat reot dan tidak berfungsi, jadi program untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat hanya sebatas slogan saja”tambah warga.
“Kami sangat kecewa terhadap program ini, kami agaknya sudah di permainkan mereka, kami berharap pemerintah melakukan pemantauan akan hasil pembangunan toilet ini, jangan kami di jadikan jadi dasar praktek korupsi oleh para bajingan-bajingan uang negara tersebut” harap warga.
Sementara itu, camat Tarutung saat di hubungi media ini via pesan WhatsApp membenarkan bahwa toliet tersebut adalah Program Sanitasi Perdesaan (Sandes).
Kami minta pada bupati Tapanuli Utara untuk turun lapangan guna meninjau kondisi program tersebut, jangan biarkan kami jadi sarana korupsi bagi mereka-mereka, juga penegak hukum harus turun tangan, pesan warga.(B)










