KARAWANG-Zonadinamikanews.com. Praktek penggelembungan anggaran masih saja dilanggengkan di negeri ini. Padahal, mark up jelas-jelas merupakan modus laten korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Pejabat pemerintah sepertinya tidak pernah mau belajar dari kesalahan pengelolaan anggaran masa lalu.
Dugaan tersebut, agaknya juga terjadi pada pekerjaan Pemeliharaan Bangunan Gedung kantor terminal Cikampek yang didanai oleh APBD Karawang tahun 2025 dengan nilai kontrak Rp.197.941.536,00 yang dikerjakan oleh CV. Perkasa Utama Abadi, dengan nomor kontrak 03.0007/SPK/PEMELIHARAAN TERMINAL CIKAMPEK-DISHUB/X/2025. Dengan metode pendagaan langsung.
“Coba kalian cek itu proyek pemeliharaan Gedung kantor terminal cikampek sangat mencurigakan, kuat dugaan terjadi mark up anggaran, karena pekerjaan itu bukan rehap berat, itu ketegori rehap ringan, dengan cara mengganti plesteran yang sudah mulai keropos, atau hanya mengupas plesteran lama hingga pengecatan tembok, artinya tidak ada pekerjaan yang berat, saya yakin ada dugaan mark up biaya pemeliharaan, apalagi gedungnya kan kecil” kata salah seorang staf dinas perhubungan yang bertugas di kantor pengujian cikampek.

Semen yang di pakai juga termasuk semen kualitas kurang mumpuni, tidak seperti Semen Gresik, Tiga Roda, Holcim atau Dynamix, Padang, dan Merah Putih, ya jauhlah lebih berkualitas dari semen rajawali, sementara ketebalan plesteran yang akan di kupas kurang lebih 2 Cm, tambah sumber.
Sementara itu, salah seorang pekerjaan dilokasi saat di ajak media ngobrol-ngobrol juga mengakui, bahwa pekerjaan dalam proyek pemeliharaan Gedung kantor terminal cikampek hanya sebatas penggantian plesteran saja.
“Ya pak tidak ada pekerjaan berat, pekerjaan ini hanya sebatas pengupasan plesteran lama dan di ganti plesteran baru, ya tebalnya sekitar 2 CM, material yang butuhkan juga hanya semen, pasir dan cat saja” jawab salah seorang tukang yang sedang mengupas plesteran lama.
Saat di tanya siapa pelaksananya, tukang tersebut mengaku kurang tahu, namun mandornya bernama Ono, tapi sekarang sedang tidak ada. Ujarnya.
Saat ditanya perbandingan adonan semen dan pasir yang dipakai, para pekerja mengatakan, “ketentuan tidak ada, karena tidak ada arahan harus pakai banding berapa, yak arena kita sudah biasa bekerja seperti ini, ya tebak-tebak aja, tidak ada ketentuan harus pakai berapa semen dan berapa pasir” terangnya (B)











