TOBA — Zonadinamikanews.Suasana khidmat dan sakral langsung terasa saat irama Gondang Sipitu Lili bergema di tepian Danau Toba, tepatnya di Pantai Pakkodian, Kecamatan Tampahan, pada Sabtu (24/10/2026). Irama pembuka yang penuh kelembutan sekaligus keagungan ini menandai dimulainya pelaksanaan tradisi Marpangir 2026 yang digelar Pemerintah Kabupaten Toba melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
Gondang Sipitu Lili bukan sekadar musik pengiring. Dalam tata urut kesenian Batak Toba, irama ini merupakan pembuka yang paling sakral dan dihormati. Dinamakan “Sipitu Lili” karena tujuh melodi yang tersusun berurutan, melambangkan tujuh lapisan langit sekaligus tujuh syarat kesempurnaan dalam hidup manusia. Irama ini dimainkan saat suasana masih hening, sebelum dimulainya segala kegiatan adat, sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus penghormatan tulus kepada roh para leluhur.
Begitu irama Gondang Sipitu Lili dimainkan, seluruh peserta yang hadir sejenak menunduk hening, menyadari kehadiran Yang Maha Agung dan kebesaran tradisi yang diwariskan nenek moyang.
Wakil Bupati Toba, Audi Murphy O. Sitorus, dalam sambutannya menyampaikan makna mendalam dari irama pembuka ini.
“Gondang Sipitu Lili adalah jendela jiwa kita. Saat iramanya bergema, kita diingatkan untuk merendahkan hati, mensyukuri kehidupan, dan menjaga keharmonisan sesama manusia serta dengan alam. Melestarikan Gondang Sipitu Lili berarti kita menjaga akar dan identitas kita sebagai orang Toba,” ujar Audi Murphy.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Toba, Rikardo Hutajulu, menegaskan bahwa menjaga keaslian dan makna Gondang Sipitu Lili adalah bagian penting dari pelestarian budaya.
“Jangan sampai irama sakral ini kehilangan maknanya. Gondang Sipitu Lili harus tetap dimainkan dengan tata cara dan penghormatan yang layak, agar generasi muda memahami kedalaman filosofi yang terkandung di dalamnya,” tegas Rikardo.
Setelah suasana terbuka dengan khidmat melalui Gondang Sipitu Lili, rangkaian acara dilanjutkan dengan Marhata Adat, Tortor Pangurason, prosesi inti Marpangir, hingga Tortor Rindu Matogu.
Melalui momen ini, masyarakat diharapkan semakin memahami keindahan dan keagungan budaya leluhur, sehingga warisan seperti Gondang Sipitu Lili tidak hanya dikenal namanya, tetapi juga dipahami maknanya dan dilestarikan sepanjang masa.
Hadir dalam kegiatan ini mantan Bupati Toba periode 2000–2005, Sahala Tampubolon; Ketua DPRD Kabupaten Toba, Franshendrik Tambunan; Kapolres Toba, AKBP Vinsensius Jimmy Parapaga; perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Utara dan BPODT, jajaran pemerintah daerah, akademisi, tokoh adat, tokoh agama, serta masyarakat luas. (JP).























