Menjadi Manusia Bahagia

0
132

Oleh: Achmad Shiva’ul Haq Asjach:

Jadi begini “bahagia itu sederhana, bahagia itu indah” kira-kira seperti itulah kata-kata mutiara dari orang-orang bijak yang sering penulis dengar.

Nah, lalu pertanyaannya begini, siapa sih yang tidak ingin bahagia? Setiap dari kita pasti ingin bahagia. Namun, terkadang caranya yang berbeda-beda. Dan dalam memaknai bahagia itu sendiri, pasti setiap dari kita memiliki perbedaan, baik itu perbedaan dalam cara memaknainya yang kita gunakan dan maupun bahagia yang sesuai dengan keadaan lingkungan sekitar yang tengah kita hadapi, tentunya akan berbeda.

Ada orang yang kadang rela bekerja keras dalam mencari rezeki, pergi pagi (bahkan) hampir pulang pagi (lagi) -ya begitulah- dan tujuannya pasti karena ingin bahagia di dalam kehidupan yang dilihat dari konteks finansial. Kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Keringat dari kening menetes sampai tumitnya demi sesuap nasi dan menafkahi keluarganya, pasti orang yang seperti itu juga kalau ditanya untuk apa melakukannya, akan menjawab ingin bahagia.

Bahkan ada lagi, orang yang mencari harta dengan cara yang tidak benar. Ada yang merampok misalnya, membegal, bahkan sampai korupsi ratusan, bahkan ada yang sampai milyaran rupiah. Pasti kalau ditanya orang yang seperti itu pun juga akan menjawab ingin bahagia di dalam hidupnya. Walaupun dengan cara pun juga jalan yang tidak benar, salah dan mendzalimi dirinya sendiri.

Nah kalau begitu, pada dasarnya bahagia itu yang seperti apa? Bahagia itu sederhana sekali dan relative, tergantung bagaimana cara kita menikmati dan memaknai arti serta hakikat sebuah kebahagiaan.

Kalau tolak ukurannya dunia, materi, atau bahkan kekuasaan, jabatan, dan gemerlapnya dunia, saya rasa tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa indikator kebahagiaan itu bisa didapat dan dicapai dengan materialisme tersebut. Sebab sejauh ini saya belum pernah menemukan referensinya.

Dan sejauh ini pula, yang sering saya dengar dari kajian-kajian yang diadakan oleh para ustadz, bahwa kalau seseorang itu mendasarkan kebahagiaan tersebut diukur dengan materi atau dunia serta isinya ini, jelas akan fana’ atau rusak. Materi itu akan rusak di telan zaman maupun waktu. Kekuasaan/jabatan akan sirna seiring berjalannya waktu. Kecantikan fisik akan lekang ditelan masa. Dunia dan isinya ini pun akan lenyap pada saatnya.

Tidak ada yang permanen dan kekal. Sehingga, kebahagiaan yang sifatnya materialisme tidak bisa dijadikan ukuran yang absolut. Dan materi itu sifatnya hanya pelengkap dalam kehidupan kita saja. Tidak boleh lebih daripada itu.

Mengutip dari Nashaihul ‘Ibad, manusia yang paling bahagia itu adalah:

1. Man Lahu Qalbun ‘Aalimun: orang yang memiliki hati, dimana hatinya itu selalu paham dan mengerti akan keberadaan Allah. Dan merasa Allah selalu bersamanya.

2. Badanun Shaabirun:  Orang yang selalu bersabar. Dalam situasi dan kondisi apapun. Karena Sabar itu tidak berbatas. Sabar dalam ketaatan (Al Shabru fiy Al Thaa’at), dan sabar dalam menghadapi musibah (Al Shabru fiy Al Musibah).

3. Wa Qona’ah bi Maa fiy Al Yad: Selalu menerima (pemberian Allah) atas apa yang ada (sedang berada) di tangannya. Apa yang Allah berikan kepadanya, ia nikmati dan ia syukuri. Sebesar apapun, atau sekecil apapun sama-sama ia terima dengan ikhlas dan lapang dada. Tidak ngresulo, tidak meratapi nasib, (apalagi) menyalah-nyalahkan Allah.

Jadi, tiga jenis orang inilah yang nantinya benar-benar akan menjadi manusia yang paling berbahagia. Kebahagiaan yang abadi dan hakiki.

Akhirnya, mari kita bersama-sama berbenah diri. Dan semoga kita selalu berada di Jalan yang semoga Jalan-Nya. Aamiin.Wallahu alam bisshowab.
Semoga bermanfaat.

Penulis Adalah: Pengasuh Majelis Thibbi al-Qulub, Desa Sidorejo 04/02 Kecamatan Pamotan Kabupaten Rembang. Penggagas Suluk Ndalanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here