Kekuatan Gaib Kuburan Datuk Keramat Darah Putih Tempat Berhajat Untuk Sukses

0
3841

Oleh : Abah Rahman—

DI Jalan Palang Merah Medan terdapat sebuah makam keramat.  Datuk Darah Putih namanya. Setiap hari Kamis dan Jumat makam ini ramai dikunjungi orang untuk berziarah. Tua muda, miskin kaya. Fenomena ini telah berlangsung bertahun tahun, ditengah derap kehidupan kota berpenduduk 2 juta jiwa lebih ini.
Aroma dupa dan semerbak kembang kontan menyambut kedatangan. Di depan pintu masuk terdapat penjual bunga dan pengemis. Sebagai bentuk penghormatan, saya  pun berdoa bagi jasad di kuburan keramat tersebut. Beberapa pengunjung yang dominan dari masyarakat Tionghoa itu sangat khusuk berdoa di sisi kanan kuburan itu.

Menelusuri sejarah kuburan keramat ini ada banyak versi yang ada. Bahkan, Nana, salah seorang juru kunci di tempat itu mengaku tidak tahu pasti sejarahnya. Ia  mengaku kalau makam itu sudah ada sejak dirinya kecil.

“Sejak saya kecil ini sudah ada . Ya, makam ini sudah raturan tahun lho.,” katanya ringan. Setidaknya, terdapat sekitar 1.000 orang yang datang dari pagi hingga malam hari sekitar pukul 00.00 WIB.

“Paling sedikit ada 1.000 orang yang datang. Mulai dari kalangan etnis Tionghwa, orang Muslim hingga orang India yang berasal dari Medan, Binjai dan sekitarnya,” ujar Tukiran, Penjaga dan pembersih kuburan Datuk Keramat Darah Putih mengiyakan.

Meskipun demikian, dia mengatakan bahwa setiap minggunya pengunjung yang datang khusus pada hari Kamis dan Jumat saja.Itu pun pada hari Jumat jumlahnya sangat sedikit. Di hari biasa, kuburan Datuk Keramat Darah Putih sama sekali tidak pernah didatangi masyarakat. Memang, menurut tradisi yang sudah berjaan turun temurun tersebut, waktu untuk berziarah dan melakukan  permohonan adalah pada malam Jumat.

Penziarah datang dengan berbagai maksud. Ada yang sekedar melihat-lihat saja. Ada juga yang berniat untuk berobat. Menurut salah seorang penziarah yang ditemui, kedatangannya dengan maksud untuk usaha yang dibangunnya agar bisa berjalan lancar dan memperoleh laba yang besar.

“Aku mendatangi kuburan keramat ini, yach… dengan niat untuk memajukan usaha aku,” bilang Adi yang mengaku sudah dua kali berziarah di makam keramat itu.

Menurut Iskandar, warga sekitar, awal mula keramaian ini terjadi, diakibatkan dari seorang penjual es keliling. Dari situ, keramat ini banyak didatangi para penziarah. Begini ceritanya. Ketika itu si penjual es berjalan melewati makam. Keletihan, si tukang es berteduh di bawah pohon rindang, tak jauh dari makam. Ari yang lelah karena satu harian berjalan, akhirnya tertidur.

Didalam tidurnya Ari bermimpi didatangi lelaki tua berjubah putih. lalu lelaki itu menanyakan keinginan yang ada di hatinya. Dengan polos ia menjawab, “Aku ingin hidupku berubah,” jawabnya singkat. Saat terbangun, si tukang es merasakan mimpi yang dialaminya seperti kenyataan.

Keesokan harinya, es yang dijualnya habis lebih cepat dari biasanya, begitu seterusnya. Hitungan bulan, usaha es – nya berkembang. Dari sinilah cerita itu meluas. Hingga makam keramat itu diyakini mampu memberikan barokah kepada orang yang menziarahinya.

“Ada ratusan orang yang datang setiap Kamis sampai Sabtu. Mereka datang dengan niat yang berbeda-beda. Namun kebanyakan orang yang datang untuk berobat dan untuk kemajuan usaha,” ucap penjaga kuburan keramat Datuk Darah Putih, Elisia.  Wanita ini menyatakan, makam ini telah ada sejak 500 tahun lalu. Untuk melestarikan makam yang dikeramatkan itu, pihak pengelola membatasi lokasi makam dengan dinding batu.

Dari keterangan warga setempat, di makam itu bersemayam seorang alim ulama. Datuk Darah Putih adalah seorang keturunan dari Kerajaan Deli. Karena sikapnya yang ditunjukkan, masyarakat setempat pun menganggapnya wali. Menurut warga sekitar, Ali, Datuk Darah Putih dan Datuk Panglima Poso yang ada di Denai, hidup di tahun yang sama. Mereka berdua mempunyai ikatan darah.

Namun, keduanya memilih jalan yang berbeda. Datuk Darah Putih lebih memilih untuk mempelajari ilmu agama dan ilmu pengobatan. Dan beliau melakukan pertapaan di tempat yang tersembunyi. Hingga sampai akhir hayatnya, Datuk Darah Putih selalu membantu mengobati orang-orang yang sakit atau orang yang sakit seperti diguna-guna.

Sementara Datuk Panglima Poso, memilih untuk mempelajari ilmu kanuragan, yakni ilmu untuk berperang. Hingga akhirnya beliau diberi galar Panglima oleh Kerajaan Deli. Meski dalam bidang yang berbeda, namun keduanya masih tetap di jalur yang sama. Yaitu sama-sama berjuang untuk kerajaan Deli. Di tempat ini terdapat dua makam. Makam Datuk Keramat Darah Putih dan istrinya.

Selain itu, lewat cerita turun temurun, versi lain kisah Datuk Darah Putih juga diwarnai dengan balutan asmara. Ada sepasang kekasih yang merupakan pangeran dan putri dari kerajaan yang bertetangga, mereka menjalin kasih sehidup semati tetapi belum dinikahkan, karena ayah dari putri itu tidak setuju. Tetapi karena merupakan putri tunggal dia satu-satunyanya, maka raja tersebut mencari akal untuk memisahkan mereka.

Si raja ayah putri itu akhirnya menyebarkan fitnah bahwa pangeran itu berselingkuh dan menghianati putri raja itu. Tetapi karena si pangeran itu bersikukuh mengatakan tidak, maka dia ingin membuktikan dia tidak bersalah. Diambilnya sebilah pisau, dan mengucapkan sumpah.

“Jika saya menancapkan pisau ini ke hati saya yang tulus dan suci serta setia ini, pastilah keluar darah, jika darah saya keluar putih, maka saya tidak bersalah. Tetapi jika darah saya keluar merah kehitaman, maka saya terbukti bersalah” Setelah mengucapkan sumpah, ditusuklah pisau itu ke hatinya, maka terjadi muzijat, darah yang keluar memang darah putih.

Akhirnya tiba-tiba seluruh saksi disana berlutut dan menyembah pangerah itu, karena pada zaman itu, mereka percaya, bahwa manusia yang berdarah putih itu adalah utusan dari Dewa. Maka sejak saat itu, mereka menyebut pangeran itu datuk darah putih dan Jalan Palang Merah itu konon merupakan kuburan pangeran tersebut.   (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here