Menyibak Keangkeran Sungai Denai

0
707

 

Oleh : Abdurrahman Sinaga

 

 

 

Sungai Denai punya cerita mistis. Sepanjang alur sungai Denai ini, dihuni segerombolan makhluk gaib. Berikut penelusurannya.

 

Ruas sungai Denai ini, tak ada bedanya dengan sungai sungai lain, dipenuhi lumpur. Sungai ini banyak dihuni ikan sapu kaca, lele dumbo, baung dan masih banyak lagi jenis ikan air tawar lainnya.

 

Sucipto, warga asli tempat ini mengatakan, kalau sungai Denai ini menyimpan sisi mistis.

 

“Sungai ini dihuni sepasang makhluk gaib. Kakek dan nenek. Mereka gaib penunggu sungai ini,” ujar Sucipto.

 

Ceritanya begini, Sucipto mengatakan, sekitar tahun 80 an,  sungai ini dilanda banjir besar. Karena itu pula, orang tua dari Sucipto berencana mau pindah. Namun sebelum pindah, orang tua Sucipto di datangi dalam mimpinya.

 

“Dalam mimpi itu, orang tuaku di datangi pasangan kakek nenek. Mereka mengatakan, penunggu Sungai Denai,” Ujar Sucipto menceritakan.

 

Masih menurut Sucipto, dalam mimpi itu, Kakek Nenek itu berpesan, agar tidak jadi pindah karena ia tidak akan memangsa warga sekitar.

 

“Janganlah pindah dari sini, jangan takut,” pesan pasutri itu dalam mimpi.

 

Karena pesan dalam mimpi itu, akhirnya orang tua Sucipto tidak jadi pindah dari pinggir sungai Denai tesebut.

 

Sucipto  

Sungai Denai ini, memang sering menelan korban. Teranyar, jenazah siswa SMP, Habib Ansori (15) warga Jalan Denai Gang Jati, Tegal Sari 1, Medan Area akhirnya ditemukan terapung di aliran sungai Titi Runtuh Desa Bandar Setia, Percut Sei Tuan, Senin (11/4/16). Diketahui, Habib tenggelam terbawa arus gara-gara menyelamatkan temannya.

 

Jenazah siswa SMP kelas 3 itu dtemukan warga sekitar pukul 06.00 WIB dalam kondisi tewas dan terapung di permukaan sungai. Atas temuan itu, kemudian warga memberitahukannya ke polisi. Selanjutnya, petugas Polsek Medan Area memberitahukannya ke pihak keluarga korban yang

berada di Jalan Denai, Gang Jati, Tegal Sari 1, Medan Area. Dengan uraian air mata, pihak keluarga datang menuju lokasi menjemput jenazah Habib untuk disemayamkan. Senin siang, jenazah akhirnya dikebumikan kelarga di tempat pemakaman umum (TPU) di Jalan Halat.

 

Sebelumnya, Minggu (10/4/16) siang, Habib Ansori (15) tenggelam dibawa arus sungai Denai, persis di bawah jembatan Pasar Merah usai menyelamatkan temannya, David. Dia tenggelam saat menggiring tubuh temannya itu ke pinggir sungai. Habib yang datang ke lokasi bersama 7

orang temannya, kemudian mandi ke dalam sungai yang dalam dan arus yang cukup deras. Saat itu, seorang temannya berteriak meminta tolong lantaran hanyut terbawa arus sungai.

 

Melihat itu, Habib langsung berenang untuk menyelamatkan David. Namun naas bagi Habib, dia terperosok dan kembali jatuh lalu dibawa arus saat menggiring tubuh temannya itu ke pinggir sungai. Meski Minggu siang itu tim Basarnas dan warga telah berupaya melakukan pencarian hingga malam hari, namun akhirnya jenazah Habib ditemukan warga Senin pagi dalam kondisi sudah tidak bernyawa.

 

Kapolsek Percut Sei Tuan, Kompol Lezman Zendrato ketika dikonfirmasi mengatakan, pihaknya mendapatkan informasi dari warga atas temuan jenazah siswa SMP itu.

 

“Setelah kita ke lokasi, tak lama pihak keluarga datang menjemput jenazah anaknya. Kini jenazah sudah dibawa keluarga untuk disemayamkan di rumahnya guna proses pemakamannya,” ujar Lesman.

 

Istana Putri

Setelah dijajaki dari keterangan warga sekitar, konon, katanya aliran sungai Denai yang tampak tenang dengan arus yang tidak seberapa deras itu ternyata menyimpan cerita mistik. Sobri (54), warga sekitar menuturkan, aliran sungai Denai dahulunya sudah banyak menelan korban

jiwa.

 

Menurut cerita yang ia dapat dari orang tua (sesepuh) yang telah terdahulu, di bawah aliran sungai Denai itu terdapat Istana yang dihuni para putri. Namun pilihan untuk korban jiwa yang ditelan Sungai itu kebanyakan dari anak remaja.

 

“Di bawah aliran sungai Denai itu, menurut cerita sesepuh dan juga pawang terdapat sebuah istana Putri. Konon, para Putri biasa tampak di aliran sungai dengan perawakannya yang cantik, setiap malam Suro sekitar pukul 01.00 WIB.

 

Itu pernah dilakukan orangtua (sesepuh) yang sudah terdahulu. Para jin itu tidak bisa dipindahkan lantaran keberadaannya sudah dari zaman dahulu. Meskipun sudah banyak orang pintar (Dukun) berbagai cara untuk memindahkannya, istana itu tepat berada di bawah Jembatan Pasar

Merah,” kata Sobri, yang sudah 54 tahun bermukim di sekitar lokasi. (***)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here