Gerejaku adalah Keluargaku dan Keluargaku adalah Gerejaku

0
1011

Oleh Yulian Anouw.S.Th, M.Th

Menyikapi aksi pembongkaran Rumah Ibadah kembali terjadi di Kabupaten Dogiyai, Ditrik Mapia Umat dari Gereja Kemah Injil Indonesia membongkar Rumah Ibadah Gereja Kemah Injil (KINGMI) di Tanah Papua Pos PI Mapia. Aksi pembongkarang. Berdirinya berkembangnya gereja di Indonesia, tidaklah lepas dari pelayanan organisasi-organisasi misi, yang dimulai dengan pekabaran injil Kristus sampai pendewasaan jemaat , dengan mengubah mereka menjadi orang Kristen sejati.

Gereja yang merupakan hasil pelayanan misi ‘ Peran organisasi misi atau lembaga pendamping gereja-gereja Kemah Injil, berdampak positif. Bahkan ada yang berlanjut hingga kini dalam rangka mencapai sebuah gereja yang mandiri. Selain dampak positif yang terjadi oleh pelayanan lembaga misi atau lembaga pendamping gereja, maka terdapat juga dampak negative, oleh karena kebergantungan gereja atas lembaga-lembaga misi. Hal ini telah menjadikan tantangan bersama untuk mewujudkan kemandirian gereja.

Kini pemikiran bahwa sudah saatnya gereja-gereja di Indonesia mengatur dirinya sendiri, tanpa diatur oleh lembaga-lembaga misi atau lembaga pendamping gereja , sehingga program kemandirian gereja haruslah diupayakan dengan serius. kemandirian gereja dalam tulisan ini, merupakan sebuah pemikiran yang dapat membuka wawasan gereja pada masa kini. Sekilas Tantangan Gereja Masa Kini.

Spiritualitas yang tidak memiliki dasar kebenaran mutlak. Akibat dari relativisme adalah penolakan terhadap suatu dasar kebenaran yang mutlak, termasuk dalam hal spiritualitas. Ketika dasar kebenaran ditolak, maka yang disorot hanyalah bentuk luar dari spiritualitas. Hal ini bisa dipahami karena bentuk luar dari agama-agama yang ada cenderung sama sehingga bentuk luar inilah yang dijadikan “alat pemersatu.” Semua agama mengajarkan perbuatan baik; itu sudah cukup. Demikianlah kira-kira cara pandang orang postmodern. Makan spiritual masyarakat postmodern direduksi menjadi moralitas belaka.

Situasi di atas diperparah dengan gerakan ekumenikal yang berusaha untuk mengingkari perbedaan esensial antar agama. Keunikan masig-masing agama coba untuk diminimalisasi (jika perlu dihilangkan sama sekali), padahal secara logis toleransi tanpa batas merupakan sebuah mitos. Kebersamaan bagi mereka dipahami sebagai kesamaan. Kesatuan dibatasi pada keseragaman. Tidak heran, ketika mereka mencari alat pemersatu antar agama, mereka menemukan perbuatan baik (moralitas) sebagai media yang tepat. Perbedaan esensial dalam taraf motivasi atau dasar moralitas diabaikan supaya kesamaan lebih mengemuka.

Hal Yang Penting Dalam Etika Postmodern “Orang postmodern mulai memperdebatkan esensi etika, yang dahulu selalu dihubungkan dengan konsep komunal. Sesuatu dianggap etis atau tidak sangat ditentukan oleh persepsi masyarakat (paling tidak persepsi mayoritas) terhadap suatu tindakan. Sekarang etika tidak lagi dinilai dari sesuatu yang “baku”. Orang berpendapat bahwa etika adalah masalah yang sangat pribadi dan tidak terkait dengan orang lain. Sebagian orang Kristen bahkan berpikir bahwa “etika Kristen” seharusnya hanya diaplikasikan kepada orang Kristen.

Aplikasi etika Kristen dianggap sebagai produk dari imperialisme kekristenan.Orang Kristen dianjurkan untuk kembali pada jaman Perjanjian Lama atau pra-Konstantin ketika gaya hidup Yahudi / Kristen bukan untuk dipaksakan atau dijadikan alat ukur kepada orang lain, tetapi untuk didemonstrasikan. Mari kita mengambil sikap yang dikatakan Hang Kung ,dalam bukunya Etika Kristen”Kalau tidak ada perdamaian antar agama ,tidak ada perdamaian antar bangsa” Serta harus ada tindakan yang tegas kepad Badan Pengurus Gereja Kemah Injil untuk hidup dan melayani Tuhan di tanah Papua dengan penuh saling mengasihi dan mengampuni . Dengan demikian saya mengakiri dengan sebuah Moto : “Gereja Ku adalah KeluargaKu dan Keluargaku adalah Gereja Ku”

**(Penulis Mahasiswa Dokotoral pada STT Jafray Jakarta)**

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here