Heboh, Kampung Janda di Perkebunan Langkat

0
1286

SUMUT-Zonadinamika.com. Bagaimana jadinya jika kehidupan seksual puluhan wanita sebuah desa terganggu akibat ditinggal massal suami mereka? Itulah pangkal petaka lahirnya Kampung Janda di Langkat. Di mana letak persisnya?

Hampir tak ada yang tak kaget atau tanpa senyum saat mendengar soal perkampungan rada tak lazim ini.

Nah, Khaidir (26), lajang yang bermukim di Batang Kuis, Deli Serdang, pun tak kalah kaget. “Apa!? Kampung janda!?” Ia setengah memekik saat mendengar sebait pengakuan temannya soal perkampungan janda di tengah perkebunan sawit, tak jauh dari Stabat, ibukota Kabupaten Langkat. “Betul! Aku tak bohong,” Romi, si pembuat heboh sesaat, itu coba meyakinkan Khaidir, termasuk wartawan Anda yang kontan nimbrung mendengar kabar unik itu. Suasana jadi gerr.

Obrolan berbuah info syurr itu terjadi saat Kisah Nyata bertandang ke rumah Khaidir, belum lama ini. Ya, 2 teman Kisah Nyata itu, Romi dan Khaidir, adalah warga Batang Kuis. Dan, tempo 5 menit pasca pengakuan Romi, info menarik itu wajib dipercaya.

“Kalau mau bukti, ayok… kapan kita ke sana?” sambar Romi, serasa menantang. Romi adalah sales barang elektronik yang sering berdagang ke banyak wilayah pedalaman propinsi ini. Menurutnya, fenomena perkampungan janda di Langkat, dapat ditemukan di 2 wilayah berdekatan. Pertama di kawasan perkebunan menuju Batang Serangan, dan lokasi kedua berada di perkampungan sekitar Gohor Lama.

Info hampir senada soal 2 wilayah perkampungan janda, juga diucap Darwis. “Tapi yang sering kudengar, (Kampung Janda) itu ada di sekitar Gohor Lama,” kata Darwis, saat dikontak. Meski ada 2 titik, imbuh Romi, perkampungan yang banyak dihuni janda, berada di kawasan Gohor Lama.

Begitulah. Tantangan Romi dijawab. Sore itu, meski akhirnya tanpa keikutsertaan Romi yang terhalang kesibukan, Kisah Nyata berangkat ke perkampungan istri-istri ‘Bang Toyib’ itu.

Pun tak ikut, lewat Khaidir yang turut serta dalam peliputan ini, Romi menitipkan info soal rute jalan menuju 2 perkampungan janda. Ia juga memberitahu alamat rumah sebuah keluarga yang ibu serta 2 anak wanitanya berstatus janda. Ini berada di sebuah dusun menuju Batang Serangan. Di rumah keluarga itulah Romi mengaku pernah menginap beberapa malam saat ia berdagang keliling di wilayah perkampungan itu.

“Nanti (setiba di sana) bilang aja kalian saudaraku. Mereka sekeluarga baik kok,” kata Romi. “Hahaha….” sambungnya terkekeh soal tudingan Khaidir nan rada porno yang dialamatkan padanya.

Karena tertarik menginap di rumah anak beranak janda seperti pengalaman Romi, rute pelacakan pertama diarahkan ke kawasan menuju Batang Serangan. “Pokoknya, begitu jumpa titi panjang, ada jalan ke kanan. Nah, ikuti saja terus jalan kampung itu,” pesan Romi soal titik perkampungan janda di wilayah menuju Batang Serangan.

Dari jalan lintas Medan – Banda Aceh, rute menuju target pertama ini dimasuki dari Simpang Beringin. Ini persimpangan tiga yang di dua sisinya terdapat areal terminal serta pos polisi. Jaraknya sekira 15 kilometer dari Kota Stabat. Simpang Beringin adalah rute menuju Batang Serangan, juga Tangkahan yang dikenal sebagai objek wisata.

Awan gelap pukul 20.15 Selasa malam itu, tampak berarak di langit Simpang Beringin. Dan baru melaju sekira 10 kilometer memasuki Simpang Beringin, irama sebuah lagu dangdut langsung mencuri perhatian. Tembang dangdut populer itu digeber dari pesawat tivi di bangunan 6 warung remang yang bersusun paku di tepi kanan jalan. Hanya berjarak sepelemparan batu dari barisan warung berfasilitas ‘karaoke alakadar’ itu, terdapat sebuah titi kecil.

“Mari sini, Bang,” sambut seorang wanita paruh baya, begitu sumringah.
“Minum apa?” desis wanita berbaju motif belahan V besar di dada itu. Pakaiannya jauh dari kesan mahal. Make-up nya pun menor. Nah, di belakangnya, 3 wanita berdandan tak beda, tampak bangkit dari kursi, lalu celingak-celinguk, seolah ingin mencuri perhatian. Mereka kemudian duduk berjejer dengan latar dinding warung yang penuh coretan.

‘Kem Marissa Citra Kayu Larang’, demikian bunyi salah satu coretan dinding warung yang di belakangnya ternyata kolam pancing. Tak ada penjelasan soal arti coretan sebait kalimat itu. “Kalau mau gedot, kami juga siap Bang,” rayu salah satu dari mereka yang dari bibirnya terukir sesungging senyuman. Gedot ternyata kata sandi pengganti istilah hubungan syahwat. Benarkah kwartet wanita 40-an tahun ini berasal dari Kampung Janda? Demikian dugaan yang ternyata meleset.

“Di mana itu Kampung Janda, kami nggak pernah dengar,” tukas wanita yang belahan dadanya sangat terlihat dan belakangan mengaku bernama Wati, janda asal Banten. Pengakuan senada juga dilontar 3 wanita temannya. Bahkan, saking kaget mendengar adanya perkampungan yang lebih separuh dari jumlah wanita dewasa warga desa itu berstatus janda, kepala mereka satu per satu diolengkan ke kanan dan ke kiri sebagai ekspresi ketidakpercayaan.

Meski tak mendapat petunjuk tambahan soal Kampung Janda di kawasan Batang Serangan, pelacakan tetap dilanjutkan. “Betul ya nanti mampir ke sini lagi,” harap Wati.

Jembatan panjang yang diucap Romi sebagai penanda jalan masuk menuju Kampung Janda, ternyata titi Sungai Batang Serangan. Lokasi ini berjarak sekira 25 kilometer (masuk) dari Simpang Beringin atau melewati Mapolsek Padang Tualang. Dan, benar (seperti kata Romi). Tak sampai 1 kilometer dari jembatan, di sisi kanan terdapat jalan tanah. Jalan itu diapit barisan rumah warga yang berada di sisi kanan, dan perkebunan karet di sisi kiri. Benteng Rejo, demikian nama desa tersebut.

“Haaah… kampung janda!?” seorang remaja kaget mendengar wartawan Anda bertanya pada petugas jaga sebuah Warnet dekat jembatan Sungai Batang Serangan, tempat laki ABG itu bermain game. Saking kaget, kepalanya kontan mendongak (ke luar bilik) begitu mendengar ‘kampung janda’. Tapi idem ditto. Sama saja. Petugas jaga Warnet itu juga tak tahu soal kampung janda di wilayahnya. “Entah kalo di Ubi Rambat sana ya. Memang kudengar di sana banyak ceweknya,” katanya.

Ubi Rambat adalah nama wilayah di ujung Benteng Rejo. Ya, pelacakan kemudian diarahkan ke sana. Tapi hingga di ujung malam itu, dari hasil sodok sana sini tak ditemukan fakta perkampungan janda. Begitu pula dengan alamat rumah keluarga janda, seperti disebut Romi. Pun nihil, benang merah soal perkampungan janda di wilayah itu terbetik juga dari pengakuan  Min (32). Pedagang bandrek di Benteng Rejo ini rupanya kenal dengan keluarga anak beranak janda seperti disebut Romi.

Sayang, keluarga itu telah mandah beberapa bulan lalu. “Tak tahu ke mana (mereka pindah),” ucap Min, yang membuka warung bandrek di depan rumahnya. Menurutnya, suami dan menantu laki keluarga itu telah lama pergi ke Malaysia dan sampai sekarang tak pernah berkirim kabar. Meski sama menjadi TKI, menantu dan mertua itu pergi terpisah. Itu sebab yang membuat ibu dan 2 anak wanita di keluarga itu serentak menyandang gelar janda.

“Ada beberapa keluarga di wilayah (Benteng Rejo) sini hingga Ubi Rambat yang anggota keluarganya jadi janda,” sebut Min, tak tahu pasti soal jumlah. Pun demikian, dia tak pernah mendengar kawasannya bergelar Kampung Janda. Hasil penelusuran,  istilah Kampung Janda di Langkat memang dipopulerkan sekalangan hidung belang. Istilah itu menyebar dari mulut ke mulut, dan bertahan dari zaman ke zaman.

Rupanya, di kalangan lelaki hidung belang, fenomena Kampung Janda di kawasan Gohor Lama telah lama menjadi kehebohan terselubung. Ya, sesungguhnya lokasi perkampungan itu berada di balik perkebunan sawit PT. Langkat Nusantara Kepong (LNK) di Gohor Lama, Langkat.

Kendati wilayah ini bukan lokalisasi pelacuran, tetapi kalau mau mencari perempuan nakal, wah… ’banyak tempat’ yang bisa menyediakan wanita untuk pemuas nafsu itu. Tentu, secara ilegal. Ini hasil penelusurannya.

“O iyo, uwak juga pernah dengar (Kampung Janda) itu. Katanya di kawasan Gohor Lama,” tukas Wak Bujing (62), pedagang makanan di Pasar Kaget, Stabat, saat wartawan Anda menyambanginya. Nenek 4 cucu ini mengaku mendapat info itu saat menelpon seorang teman anaknya yang lama tak bersua dengannya. “Awak sekarang kerja ngawas di kebun Kampung Janda, Wak,” Wak Bujing mengulang pengakuan petugas security perkebunan itu.
Gohor Lama adalah nama sebuah desa di wilayah Kecamatan Sei Wampu, Langkat.

Kawasan hamparan perkebunan sawit dan karet ini bisa dimasuki dari persimpangan Desa Stabat Lama di jalan lintas Medan – Banda Aceh. Dari Kota Stabat (menuju Tanjung Pura), persimpangan ini hanya berjarak sekira 3 kilometer. Persisnya sebelum Simpang Beringin. Nah, dari persimpangan ini, lokasi Kampung Janda berjarak sekira 20 kilometer.

“Nanti pas di ujung sana ada tikungan ke kiri yang menuju Bukit Dinding, adik ambil jalan kebun yang ke kanan. Jangan ambil jalan kebun yang lempang. Nah, dari jalan ke kanan itu, adik terus saja dan setiba di persimpangan 4 yang ada bangunan pos jaga security kebun, ambil belok ke kiri, lalu terus saja sampai menemukan tanda ucapan selamat datang di Desa Sumber Mulyo. Di dalam kawasan desa itulah letak Kampung Janda. Orang-orang dulu menyebut wilayah itu dengan nama Bukit Batu.”

Demikian pesan seorang wanita penjual lontong, yang warungnya pas berada di sisi kanan jalan besar Desa Stabat Lama menuju Gohor Lama.

Penjelasan rute yang detail dari wanita paruh baya ini ternyata berlatar sejarah emosionalnya terhadap image miring Kampung Janda. Usut punya usut, wanita yang minta identitasnya tak dicatut ini, mengaku punya kebencian terhadap wanita Kampung Janda. Itu karena ayah kandungnya mengkhianati cinta ibunya. Ya, gara-gara sering main ke Kampung Janda, sang ayah pun punya wanita simpanan di sana.

“Tak terhitung habis sudah harta ibu saya dikuras oleh ayah saya yang tak pulang-pulang dari Kampung Janda. Emas, tanah, semua habis dijual ayah saya untuk membiayai wanita simpanannya di Kampung Janda itu,” urainya dengan mata tampak berkaca-kaca.

3 Lokasi Terkenal Menurut sejumlah warga Desa Stabat Lama, keberadaan Kampung Janda telah ada minimal sejak 4 dekade lalu. Tapi pangkal soal awal tercipta massalnya wanita menjanda, diurai Kek Gimin (66), warga Bukit Batu, setiba di Kampung Janda. Ceritanya melayang ke kisaran abad 18, sebelum ekspansi perkebunan besar-besaran dibuka di Gohor Lama.

“Wilayah ini dulu semua sawah. Tapi akibat daerah ini selalu terjadi banjir besar, panen pun selalu gagal. Karena itulah, banyak lelaki dewasa desa ini kala itu mulai merantau untuk mencari kerja. Ini kisah jaman nenek saya yang ditinggal kakek saya,” urainya.

Nah, pangkal soal musibah para istri ditinggal massal suami ini faktanya terus berkembang meski kawasan Gohor Lama selanjutnya jadi basis ekspansi banyak perusahaan perkebunan. Karena minimnya lowongan kerja di kampung, banyak suami tetap bekerja di tanah rantau, seperti Pekan Baru atau Malaysia. Apalagi, imbuh Kek Gimin, sejak ada seorang pengusaha berdarah Tionghoa, menikahi seorang wanita Kampung Janda. Ac, inisial pengusaha itu, dikenal selalu membawa banyak suami di Kampung Janda guna bekerja di perkebunannya, seperti di daerah Riau.

Tug (41), kakak ipar Ac, yang ditemui di kediaman mewah adiknya di Kampung Janda, secara tersirat mengakui nilai erotisme sangat kental mewarnai desa tempat tinggalnya. Menurutnya, sejak ditinggal massal suami, sekalangan istri jablay mengaku selalu ‘haus’ karena saban malam seorang diri di tempat tidur.

“Ya seperti ini, mereka selalu curhat asal kumpul-kumpul di rumah ini,” tutur Tug, wanita bertato burung di dada, seraya menunjuk 2 perempuan sebaya di sampingnya. Ya, saat disambangi siang itu, trio wanita berkaos u can see ini ditemukan sedang sibuk bergunjing. Tug dan 2 teman sebayanya adalah wanita dengan kategori tidak begitu cantik juga tidak tergolong jelek.

Minus Tug, 2 temannya yang ternyata janda, tampak menunjukkan wajah bergairah saat seorang teman bergabung ngerumpi dengan trio Kampung Janda ini. Setidaknya, kesan bagai tak sabar mengikuti permainan paling asyik di dunia ini terlihat dari sejumlah adegan duduk 2 teman Tug yang semakin menampakkan belahan dada mereka.

Dari trio inilah didapat info soal lokasi sejumlah rumah umbar syahwat di Kampung Janda. Rumah Mak B**, warung Ny**, kedai nasi Buk Ma****, demikian 3 lokasi syurr paling terkenal di Kampung Janda. “Kecuali warung Ny** dan kedai nasi Bu Ma****, hanya di rumah Mak B** yang ada wanita-wanita dari luar kampung ini,” jelas Tug. “Nggak tahu dari mana asal perempuan-perempuan itu. Mereka datang (ke rumah Mak B**) saban pagi, dan malam sudah pulang,” sambung Tug.

Saat kediaman Mak B** disambangi, Wartawan Anda memang menemukan 4 wanita umur 30-an tahun bersama 2 lelaki yang baru datang ke rumah itu dengan mengendarai motor. “Mak B** lagi pergi, Bang. Nggak ada nomor hapenya dengan kami,” kelit seorang wanita mengenakan daster, sambil tiduran di depan pesawat tivi di ruang dapur rumah batu tanpa plester itu.

Sosok janda pemuas syahwat juga ditemukan di Warung Ny**. “Sini tak gigit Bang, enaklah pokoknya. Alah, kerjamu kan gitu aja: selalu ngincar cewek yang mau cerai.” Demikian cukilan obrolan via hape seorang cewek bercelana super pendek yang duduk di samping saat minum di Warung Ny**. Wanita berambut pendek dan dicat pirang itu tengah ngobrol dengan teman lakinya di seberang ponsel.

“Suasana lagi mendung-mendung putih dan tiba-tiba deras peninglah,” sambungnya bersandi soal kondisi cuaca di siang itu dan rada diarahkan dengan kegiatan seksual. Usai menutup obrolan di selulernya, cewek -juga berstatus janda- itu tanpa tedeng aling-aling langsung ‘menyerang’. “Kayak pernah aku lihat abang ini, di mana ya….” Demikian debut jurus godanya pada Wartawan Anda ini.

Sesuai pengakuan Tug soal semua janda di Warung Ny** adalah pelacur, tanpa tedeng aling-aling pula pertanyaan seputar harga kencan langsung dialamatkan pada wanita berkulit putih ini. Ia menyodorkan dua pilihan. Untuk long time (semalam) Rp300 ribu, dan untuk short-time Rp150 ribu. Saat itulah saya menawar Rp200 ribu. Bukan untuk kencan, tapi untuk sekadar menceritakan pengalamannya sebagai janda dan pelacur.

Mendengar tawaran ini, Ria –demikian nama yang disodorkannya- nampak tergagap. Mungkinkah itu tawaran terbaru padanya? Ya. Itu terlihat dari reaksinya mengolengkan kepala ke kanan dan ke kiri sebagai ekspresi nyaris ketidakpercayaannya.

Begitulah. Tumbuh suburnya dekadensi moral di kampung ini bukan tanpa protes sekalangan warga sekitar. “Capek sudah kami melaporkan kegiatan mesum di rumah Mak B** itu. Tapi Kepala Desa tak juga mau menggrebek rumah itu,” keluh sejumlah jiran dekat Mak B** yang ditemui di pondok ujung gang.

Ria memang masuk kategori wanita punya daya pikat. Itu terpancar dari kulitnya yang putih, serta mata, hidung dan bibirnya. Sayang ia hidup di lingkungan yang salah. Hingga daya tariknya itu menjerumuskan dirinya pada kehidupan yang tak ia sukai, kendati harus dijalani. Inilah penuturan Ria, si bohay dari Kampung Janda yang kini asyik mengobral cinta.

Cerita Ria nyaris sama dengan yang dituturkan sejumlah wanita penghibur lain di Kampung Janda. Awalnya mereka sangat menikmati kemesraan bersama suami. Tapi ketika mereka mulai candu menikmati hubungan seks, tiba-tiba sang suami pergi merantau dan tak kembali.

Kenyataan pahit inilah yang membuat para istri jablay ini akhirnya menekuni profesi sebagai pelacur. Tujuannya, selain untuk melampiaskan dorongan seks, juga sekaligus cari uang.

Dalam perkembangan 4 tahun terakhir, pelacuran terselubung semakin tumbuh subur di Kampung Janda dan sekitarnya. Menurutnya, kelebihan dari para pelacur di Kampung Janda terletak pada servis. “Tamu kami layani seperti dengan suami sendiri,” kata Ria.

Karena kwalitas servis seperti itu pula, andai sang tamu terkulai lemas sebelum puncak permainan, maka Ria pun kembali membangkitkan birahi sang lelaki, untuk maju lagi sampai ‘titik darah penghabisan’. Mungkin inikah yang disebut sebagai penjual cinta betulan? (Rahman)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here