Pengeroyokan di Lapas Kelas II A Karawang, Petugas Bohongin Orang Tua Korban Yang Cacat Seumur Hidup.

0
1231

Karawang-Zonadinamika.com. Tata di dampingi istrinya bernama Sadem kepada Zonadinamika.com mengatakan sangat menyayangkan akan peristiwa pengeroyokan terhadap anaknya Wandi alias bebek yang terjadi di lembaga Permasyarakatan Karawang sabtu 2 September 2017 yang mengisahkan permainan tidak terpuji oleh kalapas kelas II A Karawang.

Dalam peristiwa tersebut Wandi mengalami luka parah pada mata sehingga harus dilakukan operasi besar, sayangnya,korban dalam kondisi mata berdarah, langsung di pindahkan oleh kalapas Karawang ke LP Sustik Cirebon kelas 2A.

Perpindahan narapidana pidana ini membuat sejumlah pihak tanda tanya,kenapa kalapas Karawang nekat memindahkan korban dalam kondisi sakit parah, yang seharusnya dilakukan perawatan oleh pihak LP Karawang, terang Tata membeberkan.

Pihak keluarga korbanpun sangat menyesalkan tindakan kalapas karawang yang seakan lempar tanggungjawab dalam keributan yang terjadi di lapas tersebut,ironisnya,para pelaku pengeroyokan yang disebut sebut Swandi alias ijong bersama rekan-rekanya yang diperkiarakan 5 oranag dari penghuni di blok D,mengeroyok wandi alias bebek hingga mata rusak parah tidak di pindahkan, namun tetap di biarkan di LP Karawang.

Kronologis peristiwa, Wandi alias bebek (33) di dalam LP karawang di isukan mengedarkan obat terlarang, isu mengedar obat tersebut tembus ke kalapas Karawang, dan kalapas pun mempertanyakan issu tersebut pada Wandi,karena tidak bukti akan issu tersebut,kalapas tidak bisa melakukan tindakan pada Wandi.

Tepat pada 2 September berkisar jam 5 sore Swandi alias Ijong mendatangi Wandi di tahan blok A, Wandi menduga bahwa yang menghembuskan issu bohong bahwa dirinya mengedarkan obat terlarang adalah Swandi alias Ijong, dan saat berada pertemuan para narapidana tersebut di blok A perdebatan kecilpun terjadi.

Tidak lama berdebat, Swandi alias Ijong akhirnya meninggalkan Wandi, selang 10 menit kemudian, Swandi bersama 5 temanya kembali mendatangi Wandi, sambil memengang botol kratindeng dan memukulkan ke wajah Wandi tepat pada mata.
Darahpun bercucuran dan beling kaca kratindengpun bersarang di mata Wandi, melihat kegaduhan tersebut , Anton kepala jaga datang,Ijong bersama temanya berhamburan meninggalkan korbanya.

Wandi langsung di bawa ke klinik yang berada lapas dan di tangani perawat bernama Yanti, namun oleh perawat angkat tangan karena kondisi korban sangat parah.

Tata di dampingi istrinya bernama Sadem warga desa Purwajaya tempuran ini, mempertanyakan sikap ketidak adanya kemanusiaan kalapang terhadap anaknya Wandi narapidana kasus narkoba jenis ganja yang telah di ponis hukum selama 6 tahn sejak 2014 ini, karena anaknya langsung di pindahkan ke lapas Cirebon dalam kondisi luka parah tanpa dilakukan pengobatan.

Wandi di pindahkan ke lapas Cirebon tepat pada Selasa 5 September jam 5 subuh, bersama empat terpidana kasus teroris, dua terpidana teroris di turunkan di LP subang,sementara 2 lagi dipindahkan ke LP Cirebon.

Pemindahan Wandi ke LP Cirebon di curigai adanya permainan kotor oleh Kalapas kelas II A Karawang, ,sebab Wandi di selipkan dengan terpidana teroris yang saat itu di pindahkan juga. Wandi sebelum dipindahkan dari LP Karawang, masih sempat bicara dengan kalapas Karawang, dan mempertanyakan akan perpindahanya dalam kondisi sakit.

“Lihat luka di mata saya pak,kenapa saya di pindahkan dalam kondisi begini, kalapas diam saja tanpa memberikan sepatah kata” terang Wandi yang ditirukan oleh kedua orang tuanya.

Bahkan Kalapas sendiri mengaku tidak mengetahui bahwa anak kami Wandi terluka parah,padahal sudah dilihat oleh matanya sendiri luka tersebut, itu berarti Kalapas sudah bohong pada kami selaku orang tua korban. “Kalapas mengaku pada kami, bahwa dia tidak mengetahui Wandi (korban) dalam kondisi luka parah”. Terang Tata dengan nada kesal.

Dengan kondisi Berdarah serta serpihan kaca di mata, begitu tegahnya kapalas memindahkan tanpa dilakukan perawatan, Yanti perawat di klinik LP pun merasa heran atas pemindahan Wandi , bahkan oleh perawat bernama Yanti sudah berencana merujuk Wandi Ke RSUD Karawang, eh tiba-tiba dipindahkan secara paksa .kata Tata menambahkan.

Ironisnya, sesampai anak kami di LP Cirebon Wandi tidak langsung mendapatkan perawatan, karena di luar tanggungjawab petugas LP Cirebon, bahkan Wandi sempat mau kembalikan ke Karawang oleh Kalapas Cirebon, namun oleh pihak LP Karawang menolak, dengan alasan biar LP Karawang yang membiayai pengobatan Wandi.

Hasil pemeriksaan dokter di RSUD Cirebon, Wandi harus menjalani operasi mata sebanyka 2 kali dan kondisi mata anak kami saat ini tidak bisa melihat secara normal,karena harus menjalani operasi kedua,jadi siapa yang bertanggungjawab dalam pengobatan lanjutan anak kami dan akan cacat seumur hidup? Kata Tata dengan nada tanya.

Sejumlah petugas yang mengetahui peristiwa pengeroyokan,seperti perawat Yanti, Anton komandan, M Kurnia Kepala Kesatuan Pengamanan LP (KPLP) sama halnya denagan Jainal Kalapas kelas II A Karawang Jawa Barat ketika hendak di konfirmasi 2/10 belum berhasil, menurut salah seorang petugas LP bernama Teguh S, KPLP dan Kalapas sedang tidak berada di kantor.

Sementara itu, Asep bagian Bimbingan Permasyarakatan dan perawatan ( Bimaswat) ketika diminta tanggapanya,enggan memberikan keterangan dan lari terbirit-birit sambil melambaikan tangan.(tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here