Rizieq Syihab Diduga Tidak Hanya Sekali Menistakan Agama

0
300

JAKARTA – Zonadinamika.com. Kuasa Hukum Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI), Petrus Selestinus mengatakan bahwa pimpinan FPI Rizieq Syihab diduga tidak hanya sekali melakukan tindakan penistaan agama. Pihaknya, kata Petrus, yakin bahwa Rizieq tak hanya sekali melakukan dugaan penodaan agama seperti video ceramah yang menyinggung perayaan Hari Natal 25 Desember 2016 di Pondok Kepala, Jakarta Timur.

“Kita duga saudara Rizieq tak hanya di Pondok Kelapa melakukan tindakan penodaan terhadap agama. Kalau dicek di Google atau YouTube, kita akan menemukan dua atau tiga pembicaraan Rizieq yang sama (seperti di Pondok Kelapa) namun suasananya berbeda. Jadi, di tempat lain juga Rizieq diduga melakukan penistaan agama, tetapi tempat dan waktunya kita tidak tahu pasti. Tetapi ini masih dugaan dan polisi masih mencari fakta dan data terkait itu,” ujar Petrus di Jakarta, Kamis (5/1).

Terkait laporan PMKRI atas tindakan Rizieq, Petrus mengatakan bahwa pihaknya sudah menyiapkan para ahli yang akan terlibat dalam pengusutan dugaan penistaan agama oleh Rizieq. Ahli tersebut, kata dia berasal dari berbagai latar belakang, yakn ahli pidana, ahli IT, ahli agama yang tidak hanya berasal dari agama Katolik, tetapi juga dari agama Islam dan Protestan.

“Nanti kita akan melakukan rekonstruksi juga di beberapa tempat antara lain di tempat kejadian pada waktu pernyataan itu disampaikan oleh Rizieq Syihab kemudian juga PMKRI sebagai tempat di mana mereka melihat dalam YouTube,” ungkap dia.

Sebelumnya Rizieq dilaporkan PMKRI terkait video ceramahnya di Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Minggu 25 Desember 2016 yang beredar di medsos. Diduga dalam video ceramah itu, Rizieq telah menyinggung perayaan natal. Dalam laporan bernomor LP/6344/XII/2016/ Dit. Reskirmsus tertanggal 26 Desember 2016.

Rizieq disangkakan dengan Pasal 156 KUHP dan Pasal 156 A KUHP dan/atau Pasal 45 A ayat (2) UU ITE. Pasal 156 KUHP berbunyi, “Barang siapa di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah”.

Sementara Pasal 156 A KUHP berbunyi, “Dipidana dengan pidana penjara selama-lammanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau perbuatan: (a) Yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia. (b) dengan maksud agar orang tidak menganut agama apapun juga yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Pasal 45 A ayat (2) UU ITE menyebutkan “setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebenncian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) sebagaimana dimaksud dalam pasal 28 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).”

Barang bukti yang dijadikan dasar laporan PMKRI adalah dua orang saksi yaitu Sdr. Lodovikus Roe dan Sdr. Eleonarius Dawa; dan rekaman Video/You Tube di akun @sayareya yang berisi twit dan potongan video ceramah Rizieq yang menyindir dengan nada mengolok-olok ucapan natal “Kalau tuhannya beranak, bidannya siapa”? yang menjadi obyek laporan.

Lebih lanjut, Petrus berharap negara hadir untuk menindak orang-orang yang diduga mengganggu bahkan mengancam kebinekaan dan toleransi di Indonesia. Menurut dia, negara tidak boleh kalah dengan kelompok yang tidak menghormati kebinekaan dan toleransi.

“Negara harus tegas dengan orang-orang yang diduga melakukan tindakan yang mengganggu kebhinekaan dan toleransi. Negara harus hadir dan tertibkan orang-orang seperti itu,” pungkas (BeritaSatu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here