Pendidikan untuk Anak Bangsa Lebih Komprehensif dan Kompetens Dalam Melahirkan Para Tokoh Pemikir

Padang Pariaman, Zonadinamikanews.com,- Pendidikan bangsa Indonesia pada usia kemerdekaan Indonesia 78 tahun tentunya akan lebih komprehensif dan kompetens dalam melahirkan para tokoh pemikir, para tokoh nasional yang bisa membawa arah bangsa sesuai dengan tujuannya.

Upaya yang dilakukan tentunya, tidak hanya sebatas pembangunan-pembangunan infrastruktur, akan tetapi perjalanan dalam proses pencapaian mutu atau tujuan bangsa Indonesia tidak terlepas dari pendidikan.

Menurut putra atau rahman yang dikenal oleh kalangan aktivis mengatakan ia mulai turun kepada jenjang-jenjang instansi dasar pendidikan yaitu Sekolah Dasar( SD) atau madrasah ibtidaiyah (MI) ternyata masih banyak guru-guru yang kurang profesional dalam mengajarnya, ia juga menemukan adanya beberapa guru yang sekedar mengajar, sekedar ambil gaji, dan yang lebih parah ialah mereka yang pegawai negeri atau asn yang diberi amanah untuk mengajar tetapi dengan alasan -alasan sakit yang sudah lama tidak bisa mengajar atau melaksanakan tugasnya sesuai dengan Aturan cuti PNS tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 17/2020 tentang Perubahan atas PP No. 11/2017 tentang Manajemen PNS pasal 304 dan 305. Hal ini jelas akan berdampak kepada perkembangan anak sebagai generasi bangsa selanjutnya.

Selanjutnya rahman pun menambahkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan proses pendidikan dan pembelajaran di jenjang-jenjang sekolah itu harus menjadikan perhatian khusus oleh pemerintah pusat sampai kepada daerah dimulai sistem pembelajaran, bahan ajar, strategi mengajar, fasilitas-fasilitas pembelajaran, profesional guru juga sampai kepada anggaran bantuan sekolah jangan sampai di kongkalingkong antara pimpinan sekolah dengan perangkat-perangkat yang dianggap bisa dikondisikan.

Momentum dihari kemerdekaan ke 78 inilah sudah selayaknya pemerintah atau presiden lebih perhatikan gaya pendidikan dan pengajaran apakah sudah sesuai dengan output yang dicita-cita kan oleh pendidikan, sebab yang saya temukan khususnya di beberapa daerah menemukan bahwa ada peserta didik yang tidak bisa membaca, menulis dan yang paling bahaya adalah mereka tetap harus naik kelas atau lulus meskipun guru telah maksimal mengajarnya.

Penyakit pendidikan model ini ketika saya bertanya oleh para pendidik di daerah mereka mengatakan ini adalah hal yang menjadi sulit bang sebab tuntutan oleh para pimpinan kita diatas anak peserta didik yang belum layak dinaikkan kelas atau diluluskan ini wajib tetap dilanjutkan tidak boleh tinggal kelas atau tidak lulus.

Lalu secara spontan saya mengatakan bahwa ini lebih berbahaya lagi dikemudian atau beberapa tahun kedepan bisa jadi para penjajah ini akan bersemayam di kita sebab kualitas atau output pendidikan tidak tercapai sehingga akan terjadi pembodohan massal dan yang paling berbahaya adalah kita bisa jadi menjadi mati di lumbung padi kita sendiri (jongos).

Dalam menutup narasi kemerdekaan nya sang aktivis atau sang guru (rahman):
1. berharap sangat kepada pemerintah pusat atau kementrian pendidikan melalui para kepala dinas pendidikan membuka laporan aduan dan menindak lanjuti laporan dan harus turun kesekolah cek apakah pendidikan dan pengajaran sudah berjalan dengan sesuai sistem ?
2. Pengelolaan anggaran pendidikan dengan alokasi sesuai dengan aturan atau tidak. Dalam hal ini kebijakan dalam pengelolaan keuangan bukan hanya menjadi wewenang kepala sekolah atau bendahara saja
3. Periksa atau amati seluruh PNS atau guru yang mendapat dana sertifikasi dalam kinerjanya dan realitas di lapangannya sebab ini ada raja-raja dari segala raja dalam membentuk negara atau kerajaan yang unggul
4. Selamatkan negara Indonesia dari Negara Indonesia.(z)

BAGIKAN BERITA

You cannot copy content of this page