Kasus PT.Cladtek Bermuara pada PHI

0
661

BATAM-Zonadinamika.com. Thulukanam Natarajan pekerja TKA asal Negara India yang di pekerjakan di PT Cladtek dari tahun 2005 sampai akhir bulan juni 2015 berjuang di Indonesia untuk mendapatkan haknya sesuai kepatutan hukum UU No 13 Tahun 2003 tentang ketenaga kerjaan di pengadilan hubungan Industrial (PHI)di Tanjung Pinang.

Teka-teki ini akan mulai terungkap bagaimana sebenarnya peraturan mempekerjakan para TKA dan apa pula yang layak mereka dapatkan selama di pekerjakan di Indonesia apalagi dalam masa kerja 10 tahun ?Benarkah mereka layak di daftarkan kepesertaan dalam program jaminan sosial (jamsostek/BPJS) dari perusahaan seperti karyawan lokal ?.

Lalu bagaimana sebenarnya sistem perjanjian kotrak kerja para pekerja TKA yang di buat oleh pemerintah,apakah sudah sesuai dengan ketentuan yang di terapkan PT Cladtek ?Seperti di beritakan sebelumnya Disnaker kota Batam mengatakan pada tim media ini yang tergabung dalam grup “Amjoi”(Aliansi media &jurnalis online.

Indonesia )bahwa “perjanjian kontrak kerja bukan di buat di Indonesia melainkan di luar negeri,tetapi pernyataan tersebut di bantah pihak pengacara PT Cladtek.Sementara Thulukanam Natarajan sebelumnya menuturkan kepada media ini “perjanjian kontrak kerja yang di tunjukkan PT Cladtek maupun salinan/foto kopy yang di berikan pihak PT Cladtek bukan tanda tangannya ,hal ini juga dibantah pihak kuasa hukum PT Cladtek saat di hubungi media ini beberapa waktu yang lalu melalui ponsel selulernya mengatakan “silahkan di laporkan kepada penegak hukum jika itu palsu.

Akankah permasalahan ini nantinya terungkap terang benderang di saat berlangsungnya sidang perdana pada tanggal 18/11/2015 di Tanjung Pinang ?

Sementara Thulukanam Natarajan saat mengunjungi tim media ini (17/11/2015) di Batam Centre
mengakui telah menerima transfer uang melalui ansuransi PT AXA SERVICE S INDONESIA INTERNATIONAL EXCLUSIVE FX USD 473.48 X AT USD/SGD 1.3656039 =Rp 6.439.328.

sebagai uang penganti perobatan di rumah sakit Elisabeth.Sejak tanggal 27 Mei sampai dengan 06 juni 2015 saya menderita sakit dan karena itu menjalani perobatan dan perawatan di rumah sakit St.Elisabeth Batam dengan total biaya Rp.17.734.956,-di tambah kwitansi rawat jalan RS.St.Elisabeth Batam No Kwitansi :

KWJ2015.019661 ,Sebesar Rp.219.500,-pelunusan saya lakukan sendiri pada tanggal 27 Mei
2015.Sementara ansuransi PT.AXA Servis Indonesia hanya memberikan biaya pengganti sebesar
Rp.6.439.328,yang selama ini tidak pernah memberikan polis ansuransi kepada setiap
karyawan.

Sepengetahuan saya biasanya setiap tahunnya pihak ansuransi selalu memberikan laporan
tahunan kepada perusahaan yang kemudian di serahkan kepada karyawan ,pada kenyataannya kami
tidak pernah menerima itu.

Kami juga ingin tahu sejak kapan kami di daftarkan masuk ansuransi tersebut dan berapa besar biaya potongan serta apa saja mamfaat dan kegunaannya ,saya curiga jangan-jangan PT Cladtek terkesan kongkalikong dengan pihak ansuransi karena tidak membayar keseluruhan biaya pengganti perobatan serta perawatan yang telah saya bayarkan kepada rumah sakit

Elisabeth,sementara saya di pekerjakan di PT Cladtek kurang lebih 10 tahun ,apakah memang begini
sistem peraturan penghitungan yang berlaku di ansuransi PT AXA Servisces Indonesia,tidak
membayarkan biaya klaim keseluruhan yang telah di ajukan,tuturnya.

Samuel salah satu pekerja kontruksi baja yang biasa bepergian bekerja ke luar negeri dalam waktu
tertentu (17/11/2015)saat di Batu Ampar menuturkan “wah…saya sangat heran kok masih banyak
pekerja TKA di Indonesia bekerja hingga puluhan tahun.

Pada hal mereka(TKA) di fungsikan untuk
mentransfer ilmu pengetahuan kepada pekerja lokal dalam batas waktu yang tertentu.

Apalagi pekerja asing di pekerjakan bukan dengan sistem borongan melainkan adanya kontrak kerja,tetapi anehnya TKA kok bisa-bisanya bekerja dari tahun 2005 sampai 2015,hal ini salah satu bukti tidak adanya fungsi kinerja bidang kepengawasan dan penindakan secara tegas dari pemerintah khususnya Disnaker kota Batam.

Apalagi saya membaca berita di media online salah satu pekerja asing secara illegal di temukan
pejabat Disnaker kota Batam di PT Cladtek saat kunjungan,hanya di jatuhi sanksi di usir .

Tindakan itu patutnya di curigai…para lembaga penegak hukum ada apa PT Cladtek dengan pejabat Disnaker kota Batam kenapa tidak di serahkan kepada pejabat Imigrasi maupun pihak kepolisian.

Sementara setiap warga negera Indonesia yang terbukti dan tertangkap tangan bekerja menyalahgunakan dokumen keimigrasian di Negara asing di ancam masuk lokap alias penjara.

Bukan hanya itu saja pihak perusahaan yang mempekerjakan secara illegal di kenakan sanksi administrasi berupa tuntutan membayar denda kepada Negara asing,Saya berharap kepada para pejabat di daerah maupun di pusat agar lebih memandang dan jeli menyikapi permasalahan ini,berapa banyak saat ini jumlah pekerja TKI di luar negeri baik secara legal maupun illegal perlakuan apakah yang selama ini mereka dapatkan ?Red/AMJOI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here