ZonadinamikaNews.com.Barangkali ada yang memiliki padangan yang berbeda tentang ini bahwa menjadi sosok orang lain barangkali tidaklah sulit untuk Prabowo, apalagi menampilkan diri menjadi sosok Bung Karno, pastinya dia akan sanggup memerankannya.

Namun ketika dia harus mengemas dirinya menjadi sosok yang lembut, penuh kasih sayang, jelas sangat bertentangan dengan karakter aslinya yang temperamental. Inilah yang membuat Prabowo tersiksa selama masa Pilpres, Branding New Prabowo yang mengharuskan dirinya tampil penuh senyum, penuh kelembutan, dan tidak temperamental, sangat sulit diperankannya, sehingga satu, dua kali, karakter aslinya tetap muncul, kalau sudah begitu sulit bagi Prabowo untuk mengontrolnya.

Hal ini mendapat tanggapan dari berbagai pengamat yang saat ini intens mengikuti dinamika pasca pilpres 2019, dalam Forum Group Diskusi (FGD) pada kamis 14/03/2019

Ketua Bidang Kajian Sosial dan Politik Jokowi 2 Periode. Menghardiknya bahwa menjadi Pemimpin adalah menunjukan kepada Publik apa yang semestinya dapat dilakukan secara nyata. Tidak bisa menjadi Pemimpin dengan membuat branding ataupun memoles diri sehingga tersiksa ataupun membuat ketertarikan secara khusus kepada public atau pemilih selama masa kampanye Pilpres. Pemimpin baik,semestinya tidak beranggapan hanya dengan posisi puncak jabatan dapat berbuat baik.

Namun kapan saja dan di tempat mana pun, ia dapat memberikan yang terbaik dari dalam dirinya tanpa pamrih. Posisi jabatan adalah sarana untuk melakukan kebaikan yang lebih tersistematis dalam tata pemerintahan.

“menjadi Pemimpin adalah menunjukan kepada Publik apa yang semestinya dapat dilakukan secara nyata. Tidak bisa menjadi Pemimpin dengan membuat branding ataupun memoles diri sehingga tersiksa ataupun membuat ketertarikan secara khusus kepada public atau pemilih selama masa kampanye Pilpres.

Pemimpin baik,semestinya tidak beranggapan hanya dengan posisi puncak jabatan dapat berbuat baik. Namun kapan saja dan di tempat mana pun, ia dapat memberikan yang terbaik dari dalam dirinya tanpa pamrih. Posisi jabatan adalah sarana untuk melakukan kebaikan yang lebih tersistematis dalam tata pemerintahan”. terang Fransiskus

Lanjut Fransiskus Faozisökhi L, dalam diskusi khusus kepada beberapa media bila dibandingkan antara type pemimpin 01 dan 02 maka kita akan menemukan bahwa Prabowo lebih merasa tersiksa dipanggung publik dibandingkan dengan Jokowi. Jokowi merupakan sosok yang sederhana dan apa adanya. Keputusan-keputusan besar dapat dilakukan spontanitas dan sangat berdampak terhadap perhatian public. Namun Prabowo sangat sulit dengan hal-hal semacam itu.

“Jokowi merupakan sosok yang sederhana dan apa adanya. Keputusan-keputusan besar dapat dilakukan spontanitas dan sangat berdampak terhadap perhatian public. Namun Prabowo sangat sulit dengan hal-hal semacam itu. Sekali lagi Prabowo dalam menghadapi pilpres merasa sangat tersiksa” Ungkapnya.(zdNews)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here