Berakar Hingga Komunitas, Pemkab Paniai Apresiasi hasil Muspasmee I sampai IV

0
390

PANIAI – Zonadinamika.com. Perkembangan demi perkembangan dari Musyarawarah Pastoral (Muspas) dari pertama hingga keempat telah menikmati hasilnya oleh umat suku Mee dan Migani seperti di masing-masing Komunitas Basis (Kombas) telah dibangun rumah adat (Emaawa)sebagai bentuk persekutuan umat di basis yang kecil. Kemudian di sisi perekonomian pernah menghasilkan koperasi di maisng-masing komunitas basis. Dan berikutnya tentang pendidikan dan telah mendirikan STK Touye Paapa milik umat Katolik Dekenat Paniai di Waghete, Deiyai.

“Yang Muspasmee ini juga pasti akan menemukan solusi dari aspek kesehatan. Kami dari Pemerintah Kabupaten Paniai sangat mengapresiasi. Kegiatan demikian kami merasakan sangat membantu pemerintah daerah, karena dari gereja Katolik juga membina dan mengarahkan aspek iman terutama bidang keagamaan,” jelas Wakil Bupati Paniai, Yohanes You dalam sambutannya pada Misa Pembukaan Muspasmee V di Madi, Selasa, (7/2/2017).

Ia mengatakan, kedepan pihaknya sangat membutuhkan kerjasama sebagai kepedulian terhadap masyarakat (umat). Sebab, pekerjaannya sangat berbeda-beda tapi sasarannya tetap sama dari sisi pemerintahan maupun keagamaan. “Itu merupakan komitmen membangun daerah,” ujarnya.

“Pembinaan-pembinaan iman di agama lain juga kita harus laksanakan bersama. Karena ini semua bisa terarah dan terbina apabila semua kelompok menanggung bersama. Jeis-jenis pembinaan yang akan disampsikn oleh pemateri harus memperhatikan dan mendengar. Semua peserta yang datang ikut menyelenggrakan kegiatan ini harus terima dengan aman,” tutur You.

Pastor Paroki Salib Suci Madi, Pater Andreas Peni, Pr mengatakan, Muspas merupakan wadah yang diciptakan oleh gereja Katolik Dekenat Paniai sebagai sarana umum bagi umatnya untuk dapat berkumpul guna memikirkan dan membicarakan persoalan-persoalan pastoral sebelum dikerjakan.

“Persoalan pastoral yang dimaksudkan di sini ialah pewartaan, pendidikan, ekonomi, sosial, politik, budaya, kesehatan dan lainnya yang selalu digumuli setiap saat oleh kita semua. Semua aspek kehidupan karena masalah pastoral tidak terbatas hanya pada segi pewartaan. Melainkan semua segi kehidupan,” tutur Pater Andreas Peni.

Menurut dia, yang menjadi persoalan di dalam pastoral adalah justru hal-hal yang sifatnya praktis, bukan teori di mimbar seperti penghayatan iman yang kurang sehingga kurang pula membangun hubungan verikal maupun horizontal.

“Sehingga kita cenderung memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak penting untuk dipikirkan, hanya karena kita kurang iman atau tidak tahu Ugatamee (Sang Pencipta). Supaya semua permasalahan ini dapat dilihat dan dibahas bersama di atas dasar Touye Manaa (Injil),” pungkasnya. (Abeth You)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here