Sidikalang-Zonadinamika.com.Gugatan perdata oleh Johson Manurung yang tercatat di pengadilan negeri Sidikalang dengan no perkara perdata No.35/pdt.G/2018/sdk adalah diduga keras adanya niat jahat oleh penggungat pada tergugat bernama Salomo Manurung guna mengusai sebidang tanah dan bangunan dengan ukuran tanah 57×65 meter yang berlokasi di jalan Parongil no.73 Desa Palipi Kec Silima Pungga Pungga Kabupaten Dairi Provinsi Sumatera Utara.

Kasus perdata yang sedang bergulir di pengadilan negeri sidikalang ini di perediksi akan semakin memanas berkat dukungan sejumlah pihak terhadap terlapor, bahwa warga parongil siap pasang badan untuk membatu Salomo Manurung, bila suatu saat menjadi korban ketidakadilan para penegak hukum akibat tindakan Johson Manurung.

Langkah hukum yang ditempuh oleh Johson Manurung dianggap sebuah kekeliruan dan ingin menguasai sebidang tanah dengan dalih bahwa tanah tersebut diklaim sudah di wariskan pada dirinya oleh orang tuanya bernama Hendrik Manurung (alamarhum) anak dari Kadir Manurung atau Op Jonggara

Rumah dan tanah tersebut selama ini di tempati oleh Salomo Manurung anak Kadir Manurung (almarhum) anak dari perkawinan dengan Minar Simamora (almarhum) yang kedua, mendapat tindakan kriminal dalam perusahakan berat terhadap rumah peninggalan orangtuanya, sehingga keluarga Salomo Manurung tidak memiliki rumah tinggal.

Tindakan yang diduga dilakukan orang yang bermental kriminal tersebut diduga atas suruhan Pelapor, tindakan tergolong brutal tersebut terjadi pada 27 Nopember 2018 silam telah meratahkan rumah tinggal Salomo Manurung, namun sangat di sayangkan, walaupun peristiwa yang memiluhkan tersebut di ketahui oleh oknum penegak hukum dari Polisi Sektor Parogil, oleh pihak penegak hukum tindakan melalukan tindak lanjut proses hukum dan seakan tidak memberikan arahan hukum pada korban agar membuat laporan polisi.

Ketika wartawan menemui Salomo Manurung di kediamannya menuturkan peristiwa perang saudara yang tidak di inginkan tersebut, dengan nada mengelus dada salomo Manurung menyayangkan akan tindakan Johson Manurung yang melaporkan dirinya telah mengagunkan tanah warisan pada sebuah bank Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang di akui sebagai haknya.

Salomo mencurahkan kronologis, orang tuanya Kadir Manurung (almarhum) menikah dengan Boru Sitorus dan mendapatkan keturunan lima orang anak, dan pada perkawinan Kadir Manurung kedua mendapatkan istri bernama Minar Simamora dan dari hasil perkawinan tersebut dikaruniai anak 5 orang.

Dalam proses pembagian warisan peninggalan orang tua mereka, kadir Memberikan warisan pada Anak-anaknya berjumlah lima orang dari hasil perkawinan dengan boru Sitorus.Dan pembagian warisan kepada anak hasil perwakilan dengan istri kedua bernama Minar Simamora.

Peninggalan Kadir Manurung dan Minar Simamora (almarhum) dengan luas kurang lebih 57×65 diatasnya sebuah rumah tinggal yang di wariskan Kadir Manurung pada anaknya dari istrinya bernama Minar Sitorus.

Seiring perjalan kehidupan Salomo Manurung dengan kondisi perekonomian rendah, Salamo Manurung menboca mangadu nasip dengan melakukan pinjaman ke sebuah BPR dengan hasil kesepatan saudaranya bernama Keluarga Masni Manurung,keluarga,Sorta Rohani Manurung,Hanna Liga Manurung, dan Keluarga Sartono Manurung.

Tindakan atau kesepatan ini bukan tidak punya alasan, sebab menurut mereka, bahwa tanah dan bangunan tersebut adalah sebagai bagian dari peninggalan orang tua mereka, dan penyerahan itupun di saksikan para tokoh masyarakat dan raja adat saat itu. Dengan tujuan agar makin menguatkan sebagai tanah hak milik Salomo bersama ke empat saudaranya sepakat untuk membuatkan sertifikat atas nama Salomo Manurung. Sayang proses pembuatan sertifikat tersebut tidak jelas juntrungan di tangan petugas notaris bernama Criston Siregar yang sudah di ajukan sejak bukan Juli 2017.

Salomo menambabkan, Sebelum di sepakati timbulnya sertifikat dengan atas nama Salomo, pihak lebih dulu kordinasi dengan pihak BPR yang menjanjikan pinjaman, alhasil pengajuan pinjaman pun cair dengan kesepatan bahwa pihak BPR dan pihak Notaris akan bekerjasama untuk dalam pengurusan sertifikat yang didukung dengan berbagai dokumen.

Salomo Manurung mengaku sangat kecewa pada Johson Manurung (anak abangya yang sudah almarhum) yang mengklaim bahwa tanah yang dia gadaikan ke BPR tersebut adalah warisan dari orang tuanya.Ditambah dengan pihak notaris yang terkesan niat tidak baik dalam proses penerbitan sertifikat dengan berbagai alasan.Pihak notaris selaku berkelit bahwa berkas belum di perikan oleh pihak BPR, sementara ketika kami tanya pada pihak BPR mengaku sudah menyerahkan pada pihak notaris.jadi ada kesan saya di permainkan, terang Salomo.

Ditambahkan Salomo Manurung, pihak notaris kerap menghindar bila kami tanya soal perkembangan proses pengurusan sertifikatnya, dokumen apa yang di butuhkan oleh notaris semua sudah kami penuhi, namun hingga sejak kami serahkan dokumen sejak bulan 7 tahun 2017 hingga saat ini belum ada realisasinya,padahal biaya pengurusan sertifikat tersebut sebesar Rp.7 juta sudah kami bayarkan. ucap Salomo.

Adapun niatan Johson Manurung mengklaim bahwa tanah bangunan tersebut adalah sudah di wariskan orangtuannya pada dirinya adalah sebuah kekeliruan dan ada niat jahat untuk menyerobot tanah tersebut, sebab pemberi warisan tersebut adalah orang tua kami, semenyara johson Manurung adalah cucu dari orang tua kami atau anak dari abang kami bernama Hendrik Manunung (almarhum).

Hal yang sama juga disampaikan oleh Keluarga Tambunan Masni Manurung,Sartono dan Sorta Rohani Manurung, apa yang di tempuh oleh Salomo Manurung dalam hal pinjaman dan rencana penerbitan sertifikat jadi atas nama Salomo Manurung adalah hasil kesepatan, dengan alasan bahwa tanah tersebut adalah bagian warisan atau peninggalan orang tua mereka.

Ditegaskan oleh Salomo dan juga para saudaranya dan mendapat dukungan dari para warga, bila kelak Johson ngotot ingin menguasai tanah tersebut, mereka bersama warga yang lain sepakat akan melakukan perlawanan, karena warga disini mengetahui percis sejarah tanah tersebut, dan jangan mentang-mentang Johson mantan pejabat dan memiliki uang bisa seenaknya bertindak tidak manusiawi pada kami yang orang miskis, tegas Salomo.

Johson Manurung ketika dikonfirmasi via tlp dengan no 08216365954x mengaku bahwa tindakan hukum yang dia tempubpunya alasan yang kuat, dimana tanah yang di tempati oleh Salomo Manurung adalah hak mereka yang diwariskan oleh orang tua mereka Hendrik Manurung (almarhum).

” Jadi ceritanya begini, orang tua ompung kami kawin dua kali, yang pertama dengan boru Sitorus dan punya anak 5, ompung kami boru kami meninggal dan tanah opung kami diwariskan pada orang tua kami, dan tanah itu semua Salomo dan saudara lainya menempati rumah dan mengurus tanah,namun diluar pengetahuan kami tanah yang dijual, dan saat itu kami masih mendiamkan, terakhir tanah digadaikan ke sebuah BPR diluar pengetahuan kami, dan sempat kami berkumpul untuk menyesaikan secara kekeluargaan tapi tidak ada hasilnya, karena saat di panggil untuk duduk bersama, saat itu Salomo tidak mau hadir” terang Johson bersama istrinya.

Jadi kami tegaskan, tanah dan bangunan itu, Salomo Manurung tidak punya hak untuk memiliki apalagi untuk menerbitkan sertifikat, maka proses peneribitan sertifikat kami tuntut untuk dibatalkan demi hukum, tegas Johson membela diri.

Di konfirmasi ulang pada Salomo Manurung terkait tuduhan Johson Manurung yang menjual tanah meilik mereka, Oleh Salomo dengan tegas menyangkal, bahwa adapun proses penjualan tanah tersebut bukanlah dirinya, namun oleh Orang tua (Ibunya) dan itu adalah hak orang tua menjual peninggalan suaminya, jangan Johson beralasan, karena tanah dan bangunan itu tidak dari hasil keringat Ibunya jadi kami tidak berhak mendapatkan hak kami, karena apa yang dilakukan oleh ibu kami, itulah haknya sebagai istri, tegas salomo.

Penyerahan atau pesan orang tua kami soal keberadaan tanah tersebut banyak warga yang siap jadi saksi, bahwa saat orang tua kami waktu masih hidup di pesankan pada kami. “Banyak saksi yang masih hidup saat orang tua kami memesankan, bahwa tanah ini milik kami, para orang tua saat itu jamu makanan oleh orang tua kami, untuk sebagai saksi, bahwa tanah itu serahkan pada kami anaknya dari hasil pernikahan ibu kami Minar Simamora istri kedua bapak kami” tegas Salomo.

Dengan itu Salomo Manurung dalam nota pembelaanya yang disampaikan pada pihak pengadilan negeri Sidikalang sebagai berikut.

  1. Bahwa Tergugat MENOLAK dengan tegas seluruh dalil gugatan Penggugat kecuali terhadap apa yang diakui oleh Tergugat secara bulat dan utuh.
  2. Bahwa benar Alm. KADIR MANURUNG (atau disebut oleh Penggugat dalam surat gugatan sebagai SAGOM MANURUNG) menikah dengan Boru Sitorus, memiliki keturunan 5 (lima) orang anak, yaitu 4 (empat) orang anak perempuan dan 1 (satu) orang anak laki-laki yang bernama HENDRIK MANURUNG.
  3. Bahwa Penggugat (JOHNSON MANURUNG) mendalilkan sebagai cucu dari KADIR MANURUNG, yaitu selaku anak dari HENDRIK MANURUNG, dan karenanya menurut hukum menjadi kewajiban Penggugat untuk membuktikannya.
  4. Bahwa benar, Boru Sitorus (Alm), KADIR MANURUNG menikah lagi untuk kedua kalinya yaitu dengan seorang perempuan bernama MINAR SIMAMORA. Dari perkawinan ini dilahirkan 7 (tujuh) orang anak, diantaranya adalah Tergugat SALOMO MANURUNG sebagai anak ke-6 (enam).
  5. Bahwa benar, pada masa Pernikahan Pertama dengan Boru Sitorus, Kadir Manurung memiliki beberapa aset atau harta sebagai berikut:
    1) Sebidang Sawah di Siraituruk Lumban Tonga – Tonga Porsea lebih kurang 4 Hektar yang diperoleh dari Bapaknya yaitu Oppung Tergugat (Salomo Manurung). Sawah tersebut dititipkan kepada Adik dan Adik Iparnya (Bapa Uda Tergugat) di Lumban Tonga – Tonga pada saat Kadir Manurung akan merantau Ke Dairi, dengan syarat sawah tersebut harus dirawat dan dikelola serta membayar sewanya setiap kali panen. Setelah Kadir manurung semakin tua dan tak berdaya lagi maka Jhonson Manurung (Penggugat) merebut tanah tersebut yang mengatas-namakan Bapaknya yaitu Derik Manurung, dan menguasainya sampai sekarang

2) Tanah dan Bangunan Rumah yang luasnya kurang lebih 4 Hektar di Jl. Parongil No. 79 Desa Palipi Kecamatan Silima Pungga – pungga Kabupaten Dairi.
3) Sawah seluas kurang lebih 1 Hektar di Desa Lumban Sihite, Kecamatan Silima Pungga – pungga, Kabupaten Dairi.

  1. Bahwa sebelum pernikahannya yang kedua dengan Boru Simamora, Kadir Manurung sudah memberikan “Panjaean” kepada kelima anaknya dari pernikahan pertamanya dengan Boru Sitorus dengan rincian sebagai berikut:

1) Gusti Manurung Mendapatkan bagian Berupa Sawah yang luasnya kurang lebih ½ Hektar di Siraituruk Lumban Tonga – tonga Porsea dan sudah dijual untuk menyekolahkan anaknya.
2) Mariam Manurung mendapat bagian berupa Tanah yang luasnya ¼ Hektar di desa Palipi dan sudah dijual kepada Marga Manik untuk menyekolahkan anaknya.
3) Nala Manurung dan Rumintang Manurung dijanjikan akan mendapatkan bagian berupa sebidang tanah yang luasnya masing masing ¼ Hektar apabila mereka berdua datang meminta secara ADAT BATAK. Tetapi tanah tersebut sudah lama direbut dan dikuasai oleh Jhonson Manurung (Penggugat) sampai saat ini.

4) Derik Manurung mendapat bagian berupa sebidang Tanah yang luasnya kurang lebih 2 Hektar di desa Palipi dan Sawah yang luasnya kurang lebih ½ Hektar yang terletak di desa Lumban Sihite.
5) Mustar Manurung anak pertama dari Derik Manurung sebagai Pahoppu Panggoaran Kadir Manurung mendapat bagian sebagai upah Pahoppu berupa sebidang tanah yang luasnya kurang lebih 1/8 Hektar dan sebidang sawah yang luasnya 1/8 Hektar, dimana Sawah tersebut telah dijual kepada Marga Butar-butar.

  1. Bahwa harta yang tertinggal milik KADIR MANURUNG yang dibawa ke dalam pernikahannya yang kedua dengan boru Simamora, adalah hanya berupa sawah seluas 1/8 Hektar, tanah seluas 3/4 hektar dan satu unit rumah Panggung. Harta inilah yang menjadi Hak daripada Boru Simamora selaku istri yang sah dari KADIR MANURUNG dan anak-anaknya termasuk Tergugat.
  2. Bahwa keseluruhan harta yang tersisa ini telah diserahkan oleh KADIR MANURUNG kepada anak-anaknya dari pernikahan dengan boru Simamora. Perihal penyerahan ini disaksikan oleh beberapa orang tokoh adat atau Natua – tua ni huta. Tetapi pada tanggal 27 Oktober 2018 Rumah Panggung tersebut telah dirusak oleh Jhonson Manurung sehingga tidak bisa lagi ditempati oleh Tergugat beserta istri dan anak – anak yang masih kecil – kecil dan sekarang Tergugat bersama mereka tinggal menumpang di rumah orang.
  3. Bahwa dalil Penggugat yang menyebutkan jika obyek sengketa berupa tanah berikut rumah diatasnya yang selama ini dihuni oleh Tergugat di Jl. Parongil No. 79 Desa Palipi Kecamatan Silima Pungga – pungga Kabupaten Dairi telah diberikan kepada HENDRIK MANURUNG (orang tua Penggugat) adalah TIDAK BENAR. Sebagaimana telah diutarakan di atas, bahwa untuk HENDRIK MANURUNG telah mendapat bagian berupa sebidang Tanah yang luasnya kurang lebih 2 Hektar di desa Palipi dan Sawah yang luasnya kurang lebih ½ Hektar yang terletak di desa Lumban Sihite.

Oleh karena itu, tuntutan Penggugat sebagaimana dimaksud dalam petitum point 4 (empat) harus ditolak karena tidak beralasan dan tidak berdasar hukum.

  1. Bahwa status obyek sengketa berupa tanah berikut rumah diatasnya yang selama ini dihuni oleh Tergugat di Jl. Parongil No. 79 Desa Palipi Kecamatan Silima Pungga – pungga Kabupaten Dairi adalah harta yang tersisa setelah dilakukan pembagian kepada para ahli waris dari pernikahan dengan istri pertamanya.

Sisa harta itu adalah hak KADIR MANURUNG yang kemudian dibawa kedalam perkawinan keduanya dan dari perkawinan kedua ini KADIR MANURUNG memiliki 7 (tujuh) orang anak, diantaranya adalah Tergugat SALOMO MANURUNG sebagai anak ke-6 (enam).
Dengan demikian, ke-7 (tujuh) orang anak KADIR MANURUNG dari perkawinan keduanya juga adalah ahli waris yang sah dari KADIR MANURUNG, dan berhak pula memperoleh bagian harta warisan sebagai anak kandung.

  1. Bahwa fakta Tergugat menguasai tanah dan rumah yang kini menjadi obyek sengketa adalah BUKAN PERBUATAN MELAWAN HUKUM, karena sejak lahir Tergugat hidup bersama dan dibesarkan oleh KADIR MANURUNG selaku ayah kandung Tergugat di tempat itu. Kemudian tanah dan rumah tersebut juga pada akhirnya telah diberikan dan menjadi hak anak-anak kandungnya dari perkawinan keduanya. Dengan demikian, seluruh ahli waris KADIR MANURUNG, yaitu baik yang dilahirkan dari perkawinan pertama maupun perkawinan kedua telah mendapatkan bagiannya secara adil.
  2. Bahwa perlu disampaikan, oleh karena semua anak – anak dari istri pertama sudah mendapat bagian masing masing, maka Kadir Manurung sebelum meninggal sempat berpesan kepada HENDRIK MANURUNG agar tidak mengganggu gugat lagi harta yang tersisa karena itu diperuntukkan bagi anak- anaknya dari istrinya boru Simamora. Bahwa KADIR MANURUNG sempat pula sekaligus menitipkan anak-anaknya dari perkawinan kedua kepada HENDRIK MANURUNG menyangkut masa depannya. HENDRIK MANURUNG telah menyanggupi untuk melaksanakan kehendak/keinginan/pesan KADIR MANURUNG tersebut.
  3. Bahwa perbuatan Penggugat yang berusaha mengambil alih kepemilikan obyek sengketa dengan cara main hakim sendiri, yakni merusak bangunan yang sedang dihuni oleh Tergugat beserta keluarga adalah perbuatan yang tidak menghargai dan bertentangan dengan pesan KADIR MANURUNG yang telah disanggupi oleh HENDRIK MANURUNG. Jadi, perbuatan Penggugat lah yang senyatanya merupakan perbuatan melawan hukum, dan juga merupakan tindak pidana pengrusakan yang harus diproses secara hukum.
  4. Bahwa oleh karena Tergugat tidak dapat dikategorikan melakukan perbuatan melawan hukum, maka tuntutan Penggugat sebagaimana dimaksud dalam petitum point 5 (lima), point 6 (enam), point 7 (tujuh) dan point 8 (delapan) harus ditolak karena tidak beralasan dan tidak berdasar hukum.
  5. Bahwa oleh karena tidak ada kewajiban hukum apapun yang harus dipenuhi oleh Tergugat kepada Penggugat, maka dalil dan tuntutan Penggugat yang menghendaki agar dilakukan sita jaminan sebagaimana dimaksud dalam petitum point 2 adalah tidak beralasan dan tidak mempunyai dasar hukum sehingga patut DITOLAK.

Demikian pula terhadap tuntutan agar putusan perkara ini dinyatakan dapat dilaksanakan secara uitvoerbaar bij voorraad adalah harus ditolak, karena tidak memenuhi ketentuan dan syarat-syarat sebagaimana diatur dalam pasal 180 (1) HIR dan tidak memenuhi syarat eksepsional Jo. Surat-surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia menyangkut penerapan lembaga uitvoerbaar bij voorraad.

Berdasarkan seluruh uraian tersebut di atas, Tergugat memohon dengan hormat kepada Yth. Ketua Majelis Hakim yang memeriksa perkara ini untuk memberikan putusan sebagai berikut :

• Menolak gugatan Penggugat secara keseluruhan.
• Menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara menurut hukum. Demikian isi surat sanggahan atau jawaban Salomo Manurung yang ditujukan Kepada Ketua Majelis Hakim, Dalam Perkara PerdataNo. 35/Pdt.G/2018/PN.Sdk
di Pengadilan Negeri Sidikalang. (Tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here