Pengakuan Saksi Atas Korban Theresia Lampyompar Di Depan PLTD Waena

0
367

JAYAPURA –Zonadinamika.com. Seseorang yang namanya tak mau dimediakan, mengaku, penemukan mayat seorang wanita yang tergeletak di selokan depan Kantor PLTD Waena, Jumat (19/5/2017) sekitar pukul 05.40 WIT bernama Theresia Lampyompar telah melihat dengan jelas siapa sebenranya yang melakukan pelaku penikaman hingga tewas.

Ketika itu, jelanya, saksi tersebut berada sangat dekat, lalu melihat perempuan jalan dengan pelan di arah kiri dekat kompleks PLTD Waena menuju ke arah RS Dian Harapan. “Tidak lama menyusul seorang pria dengan motor sambil mendekat ke perempuan,” kata saksi baru-baru ini di Jayapura.

“Laki-laki itu bicara, ‘mari kita jalan dulu, kita jalan sebentar saja’.  Jawab perempuan, ‘saya tidak mau,  saya mau kerja pagi ini’,” katanya menirukan percakapan saat itu.

Perempuan itu, lanjutnya berjalan terus. Namun, sang pria mendorong motornya mengikuti perempuan dan kembali minta agar perempuan itu ikut dengannya. Kira-kira tiga kali pria itu ajukan permintaan,  tetapi perempuan tetap menolak dengan alasan masih mau kerja.

“Tidak lama laki-laki itu turun dari motor. Lalu, mencegat perempuan dan berusaha merampas handphone di tangan perempuan. Tetapi perempuan itu berusaha menahan. Lalu sekejap sang pria mencabut pisau dari balik baju dan menikam perempuan berkali-kali dan mendorongnya jatuh ke parit,” urai warga ini.

“Ketika saya melihat perempuan mulai ditikam, saya takut dan lari bersembunyi. Tapi masih dengar suara perempuan berteriak beberapa kali meminta tolong, lalu hilang. Setelah itu saya lihat laki-laki kembali naik ke motor dan lari ke arah atas Perumnas III,” ucapnya.

Setelah pria itu pergi, dirinya kembali ke tempat kejadian (TKP) di mana perempuan itu rebah, dia lihat korban sudah tidak bernyawa. “Saya lari menemui kawan yang sedang ke lokasi, saya sampaikan tentang kejadian barusan,” tuturnya.

Ia menuturkan, “tidak ada dua orang pelaku seperti pernyataan polisi itu,  satpam rumah sakit (RS Dian Harapan) masih jauh. Saya yang dekat sekali dan bisa dengar percakapan mereka. Pria itu berkulit hitam memang,  tidak beda jauh dengan suaminya yang ketiga (asal Tanimbar itu)”.

Lebih lanjut dikatakan, perempuan tersebut ia mengetahui bahwa sudah kawin cerai sebanhyak tiga kali. Dari cara mereka bicara pagi itu,  kelihatan mereka orang yang paling dekat, diantaranya punya hubungan khusus.

“Kedengaran macam jelas sedang tidak baku senang. Bisa jadi laki-laki itu marah atau cemburu baru bunuh? Karena dari pembicaraan begitu,” kata dia.

Ia malah membantah, bahwa tanggapan yang disampaikan pihak Kepolisian bahwa dirampok itu tidak betul. “Ini menandakan pembunuhan dengan motif dendam amarah yang dahsyat, bukan karena pencurian atau perampokan!,” tukasnya.

“Mari desak polisi harus bisa mengungkap jelas dan terang-benderang, siapa pelaku dan apa motifnya. kebenaran, keadilan harus ditegakkan. Saya kira petinggi negeri ini seperti saudaraku Gubernur, Walikota, DPRP, DPRD dan tokoh masyarakat supaya mendesak polisi kerja dengan serius dan ungkap jelas peristiwa pembunuhan itu supaya menghilangkan stigma yang sudah terlanjur mengurat-akar menuduh orang-orang Papua dari suku tertentu atau organ tertentu sebagai pelaku satu-satunya dari segala peristiwa kriminalitas dan kekerasan di kota Jayapura,” jelasnya. (ab*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here