BNN-Bareskrim Ringkus Perekayasa Kasus Bupati Bengkulu Selatan,Pelakunya Mantan Bupati dan Oknum Wartawan

0
302

JAKARTAZonadinamika.com.  “BNN dan BNN Provinsi Bengkulu akhirnya berhasil membongkar kasus persekongkolan sejumlah oknum yang ingin menghancurkan Bupati Bengkulu Selatan dengan menyimpan barang haram narkoba di ruang kerja Bupati.

Dalam kasus jebakanini BNN mengamankan tujuh orang tersangka perekayasa. Salah satunya diduga adalah RE (60). Dia adalah mantan Bupati Bengkulu Selatan,” kata Kepala Humas BNN Kombes Slamet Pribadi Kamis (23/2).

Badan Narkotika Nasional (BNN) tak terkecoh dengan kasus pembelian dan penguasaan tanpa hak narkotika jenis sabu dan ekstasi yang awalnya dituduhkan kepada Bupati Bengkulu Selatan Dirwan Mahmud.

Kendati menemukan barang haram itu di ruang kerja Dirwan pada 10 Mei 2016 lalu ternyata barang itu sengaja diletakan di sana untuk melakukan rekayasa dan memojokan Dirwan.

“BNN dan BNN Provinsi Bengkulu mengamankan tujuh orang tersangka atas kasus rekayasan ini. Salah satunya diduga adalah RE (60). Dia adalah mantan Bupati Bengkulu Selatan,” kata Kepala Humas BNN Kombes Slamet Pribadi Kamis (23/2).

Yang lainnya adalah HY (49) mantan Kabid Berantas BNNP Bengkulu, MU (39) wartawan salah satu media massa di Bengkulu, dan SA (40) anggota Polri BKO BNNP Bengkulu.

Juga ada DA (55) PNS BNNP Bengkulu, KD (38) PNS BNNP Bengkulu, dan RU (53) mantan Sekda Bupati Bengkulu Selatan yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Badan Keuangan Daerah Kabupaten Mukomuko, Bengkulu.

“Kasus ini terungkap bekerja sama dengan Propam Mabes Polri dan Direktorat Narkoba Bareskrim Polri, BNN, dan BNNP Bengkulu. Kami melakukan gelar perkara, di kantor pusat BNN, Cawang, Senin, (20/2) lalu,” sambung Slamet.

Hasilnya HY dinyatakan cukup bukti untuk dijadikan tersangka. Lalu berdasar pemeriksaan para saksi dan tersangka, diperoleh bukti bahwa RE meminta bantuan kepada HY melalui MU untuk menjebak Dirwan dengan modus narkotika.

“Kemudian HY bersama dua rekannya, DA dan SA diduga melakukan permufakatan jahat bersama RE dan MU di kediaman RE di Jl. Lingkar Barat, Bengkulu. Pertemuan tersebut membicarakan cara meletakkan barang bukti narkotika di ruang kerja Dirwan,” sambung Slamet.

Beberapa hari kemudian RE memberikan uang tunai sebesar Rp 10 juta kepada HY melalui MU. Uang tersebut dibagi kepada HY (Rp 4 juta), DA (Rp 2 juta), dan SA (Rp 4 juta).

Sesuai perintah HY, SA diminta menggunakan sebagian uang tersebut untuk membeli narkotika berupa 1 paket sabu senilai Rp 500.000 serta empat butir ekstasi senilai Rp 1.950.000, dan menyerahkannya kepada RE melalui MU.(AN)

SA mengaku mendapat narkotika ekstasi dari KD sementara sabu didapatnya dari seorang bandar berinisial BO, yang kini masih dalam pengejaran petugas.

Kemudian RE memerintah RU untuk meletakkan barang bukti narkotika di ruang kerja Dirwan.

Setelah mendapat informasi bahwa jebakan telah siap maka HY melakukan penggeledahan dan penangkapan terhadap Dirwan.

“Motifnya diduga RE merasa kecewa karena kalah persaingan dengan Dirwan dalam pemilihan Kepala Daerah Bupati Bengkulu Selatan,” sambung Slamet.

Dari kasus ini, BNN mengamankan beberapa barang bukti berupa satu paket narkotika jenis sabu, dua butir pil ekstasi warna biru, dua butir pil ekstasi warna merah dan bukti transfer senilai Rp. 10 juta.

Guna pemeriksaan lebih lanjut, RE dan HY diamankan penyidik BNN pusat, sementara lima tersangka lainnya diamankan BNN Provinsi Bengkulu.

Ketujuh tersangka terancam pasal 114 ayat (1) dan 112 ayat (1) Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman maksimal hukuman mati atau penjara seumur hidup.

Badan Narkotika Nasional (BNN) menangkap mantan Bupati Bengkulu Selatan, Reskan Effendi Awaluddin, karena berencana menjebak bupati yang masih menjabat, Dirwan Mahmud, dengan sabu. Reskan ditangkap bersama seorang wartawan dan beberapa pegawai BNN Provinsi Bengkulu.

 

Oknum Wartawan Terlibat.

 

“RE (Reskan Effendi) diamankan bersama 6 tersangka lainnya berinisial HY (49 Thn/mantan Kabid Brantas BNNP Bengkulu), MU (39 Thn/wartawan salah satu media massa Bengkulu), SA (40 Thn/anggota Polri BKO BNNP Bengkulu), DA (55 Thn/PNS BNNP Bengkulu), KD (38 Thn/PNS BNNP Bengkulu) dan RU (53 Thn/mantan Sekretaris Daerah Bupati Bengkulu Selatan yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Badan Keuangan Daerah Kab. Mukomuko, Bengkulu),” kata Deputi Pemberantasan BNN, Irjen Arman Depari, Kamis (23/2).

 

Menurut Arman, rekayasa tersebut berlangsung pada 10 Mei 2016. Sabu yang tidak disebutkan beratnya diletakkan di ruang kerja Dirwan. “RE meminta bantuan kepada HY melalui MU untuk menjebak Dirwan Mahmud dengan modus penyalahgunaan dan kepemilikan narkotika,” jelas Arman. Setelah barang haram itu ada di kantor Dirwan, Reskan meminta petugas BNN setempat menangkapnya.

 

HY dan MU, disebut Arman, telah menerima uang sebesar Rp 10 juta dari Reskan. Uang itu telah dibagi-bagikan kepada tersangka lain dalam upaya rekayasa ini. “Uang tersebut dibagi kepada HY (Rp 4 juta), DA (Rp 2 juta) dan SA (Rp 4 juta). Sesuai perintah HY, SA diminta menggunakan sebagian uang tersebut untuk membeli narkotika berupa 1 paket sabu senilai Rp 500.000 serta 4 butir ekstasi senilai Rp 1.950.000, dan menyerahkannya kepada RE melalui MU,” jelas Arman.

Seluruh tersangka dalam kasus ini, jelas Arman, sudah dibawa ke Jakarta. Gelar perkara juga telah berlangsung di kantor BNN, Cawang, Jakarta Timur. Sedangkan pengedar narkoba tempat tersangka membeli sabu masih diburu.(AN)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here