Asep Agustian,SH.MH: Oknum DPRD Karawang Diduga Keras Terima Suap Dari Pengusaha

0
1949

KARAWANG – Zonadinamika.com. Sorotan tajam pada sejumlah oknum wakil rakyat di Karawang, karena telah tersusupi mental suap dari pihak pengusaha.
Selain terksesan cuek alias ‘Muka Tembok’ atau bisa didefinisikan tak tahu malu, dan mungkin itu adalah kata yang tepat bagi oknum wakil rakyat Karawang tersebut.

Tudingan tajam itu terlontarkan oleh praktisi hukum Asep Agustian,SH,MH, dia mensinyalir bahwa saat ini banyak oknum wakil rakyat tidak memiliki rasa malu atas kebokbrokannya. Bahkan, terkesan bertingkah sok merayat dan bersih di depan publik.

Mental-mental bobrok para wakil rakyat tak adanya perubahan dari para wakil rakyat terdahulu membuat Asep geram. “Kenapa sih selalu melakukan perbuatan terdahulu, tidak memiliki cermin yang baru. Pejabat sekarang ini tidak punya rasa malu lagi. Punya cermin tidak dipandang lagi.

Atau bahasa sundanya sudah tidak ada muka, yang ada muka badak alias ‪#‎mukatembok‬,” kata Askun, sapa akrabnya di ruang kerjanya, Selasa (31/5) pada wartawan.
Dan mungkin sangat wajar bahwa tudingan muka tembok kepada wakil rakyat tersebut karena bukan tidak beralasan. Pasalanya,

Kata asep menambahkan, ada beberapa kasus dugaan gratifikasi yang saat ini sedang disoroti dan melibatkan beberapa anggota DPRD Karawang. Contohnya seperti kasus dugaan gratifikasi Summarecon Emerald. Pengusaha ternama itu, diduga memberikan sejumlah uang kepada salah satu pimpinan DPRD untuk dibagikan supaya tidak cuap-cuap soal perizinan.

“Seperti sekarang ini kan sudah ramai diperbincangkan masyarakat, bahwa yang dipilih mereka diduga melakukan korupsi terima suap. Benar atau tidaknya bisa dibuktikan dalam pengadilan. Yang jelas, ada salah satu anggota DPRD membenarkan hal itu. Dan pihaknya (anggota DPRD-red) mau mengembalikan uang yang diterima,” jelasnya.

Selain sogokan Summarecon, Askun juga menduga hal serupa pada pengusaha Agung Sedayu. Pengusaha kapitalis ini memberikan uang kepada wakil rakyat sebagai uang ‘koordinasi’. “Jangan sok suci di depan saya. Ngaku tidak menerima, setelah didesak ngaku juga,” ujarnya.

Belum lagi soal jual beli aspirasi. Pihaknya menduga anggota DPRD melakukan jual beli aspirasi. Askun mengaku ada bukti yang bisa ditunjukan bila anggota DPRD ini menjual aspirasinya kepada salah seorang.

“Wakil rakyat kok dibelikan ke bagian rakyat, lama-lama gedung DPRD juga dijual. Tolong kembali ke habitatnya, dewan itu kontroling bukan eksekutor, pengawasan bupati. Eksektor itu pemkab dan bupati, kepada fungsinya dewan mengontrol kalau ada salah ditegur,” ungkapnya.

Lanjutnya, jika sudah mencuat di publik, Askun menilai semua mencari pembenaran, dan merasa bersih tidak melakukan tersebut. Bila mencari kebenaran yang sesungguhnya, Askun menantang anggota DPRD di Pengadilan Negeri.

“Ayo sama-sama kita dipengadilan, siapa salah dan tidak di pengadilan. Mau benar apa nanti di pengadilan sebagai pembuktian. Yang jelas, saya punya kwitasi jual beli aspirasi. Kwitansi itu bertebaran maksudnya apa?” cetusnya.

Tak hanya itu, masalah kunjungan kerja pun tak lepas dari perhatiannya. Dirinya menduga, tiap kali anggota DPRD melakukan kunjungan kerja tidak ada hasilnya. Produk hukum yang dibahas juga tidak jelas.Bahkan, setiap kali usai kunjungan tidak pernah diinformasi kepada masyarakat. “Apalagi soal keuangan yang digunakan. Saya akan ungkap itu semua,” tegasnya.

Ditandaskannya, pihaknya akan melaporkan kepada Kejaksaan Negeri Karawang tentang kebobrokan, terghitung suap pengusaha, jual beli aspirasi dan anggaran setiap kali kunjungan kerja DPRD ke luar daerah. “Mau suka apa gak, saya masa bodo. Ini masuk pasal 138 KUHP, bukti sudah ada. Dengan pembuktian jual aspirasi itu korupsi,” tegasnya.

Sebelumnya, Summarecon Emerald dan Sedayu Group ‘gerus’ lahan Karawang Timur. Keberadaan pemukiman modern dengan fasilitas lengkap dengan pusat perbelanjaan seperti yang dikembangkan oleh Galuh Mas, Grand Taruma, Resinda dan lain-lain, kini tidak hanya bercokol di pusat kota Karawang. Perkembangannya semakin bergeser dan menyebar diwilayah Karawang bagian timur, seperti Klari, Purwasari hingga Cikampek.

Diantara pengembang besar yang sudah membuka wilayah tersebut adalah group Summarecon yang mulai membuka perumahan seluas 28 hektar di Desa Kondangjaya, Kecamatan Karawang Timur serta Agung Sedayu melalui anak perusahaannya, PT Lestari Alam Sedayu yang diproyeksikan akan menggerus lahan seluas 330 hektar diwilayah Klari, Purwasari dan sekitarnya.

Belum lagi investor besar lainnya seperti Alvaland Indonesia, Perkasa Internusa dan lainnya yang totalnya bisa mencapai luas lahan lebih dari 540 hektar diwilayah Karawang bagian timur.

Sekertaris BPMPT, Wawan Setiawan mengakui bahwa sampai awal Mei 2016 ini perusahaan-perusahaan yang disebutkan diatas belum memiliki perizinan yang lengkap, meskipun diantaranya sudah promosi besar-besaran.(sumber:sipritjabar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here