JOANINA : Korban Trafficking Yang Trauma dan Terlantar Hingga Alami Lumpuh

0
516

Atambauah, NTT – Zonadinamika.com, Adalah Joanina Delfina Yularis biasa disapa Joanina, perempuan paru baya asal Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur ini diduga telah menjadi korban perdagangan manusia (trafficking) yang dilakukan orang tidak dikenal beberapa tahun silam.

Ditemui di biara susteran FCJM Onoboi, Jumad, (05/03/2016) perempuan kelahiran Timor Leste yang pernah bermukim di Haliwen tersebut tampak lunglai dan kesulitan untuk diajak berbicara, diduga karena mengalami trauma akibat telah diterlantarkan oleh orang yang tidak bertanggungjawab sampai mengalami lumpuh ringan.

Diceritakan suster Lamberta FCCM, Joanina ke Atambua, pada tanggal 23 Januari 2016, sekira pukul 22.15 WITA, korban diantar seorang Pemuda Katolik bernama Hendrik Hutabarat ke susteran FJCM, Jalan Abadi Nomor 25, Tanjung Balai dengan hanya membawa 2 pasang pakaian, satunya dipakaidi badan dan satunya lagi di isi dalam sebuah tas berwarna kuning, tanpa satu identitaspun.

Selanjutnya dikisahkan, selama 2 hari korban tidak mau berbicara, suster pun berusaha untuk mengobati kakinya yang bengkak dan tangannya yang lemas tak berdaya.

Setelah 4 hari suster membawa Joanina ke Dokter diberikan obat dan sesuai saran dokter harus berkusut masase (terapi) agar tangan dan kakinya bisa difungsikan.

Setelah dirawat dan diberi obat korbanpun mulai berberita tentang kehidupannya saat menjadi TKI Ilegal. Pasport dan KTP-nya tidak diberikan hanya ditunjukan saja oleh sang bos. Dari Atambua merekake Kupang hampir 1 minggu di kamp, kemudian naik kapal menuju Surabaya selanjutnya ke Malaysia. Di Malaysia, Joanina bekerja selama 6 tahun dan tidak diberikan gaji.

Pekerjaan pertama, ia merawat orang jompo dan empat bulan kemudian ia dipindahkan bekerja di di restoran menjadi pelayan di café.

Setelah mengetahui asal-usul korban, selanjutnya Suster Lamberta menghubungi pater Paulus Halek Berek, dan pater pun menghubungi Ketua Tim Penggerak PKK, Ny. Vivi Lay Ng, Selanjutnya Ibu Vivi mencoba menghubungi Dinas Sosnakertrans Kabupaten Belu dan diperoleh gambaran bahwa terhadap mereka-mereka yang berangkat ke luar negri secara illegal, pemerintah tidak mempunyai anggaran untuk membiayai kepulanngannya.

Akhirnya setelah suster Lamberta berkoordinasi dengan Ibu Vivi, dan akhirnya Ibu Vivi memfasilitasi kepulangan korban dengan diantar langsung oleh suster Lamberta.

Setibanya di Atambua korban langsung dibawah ke biara susteran FCJM Onoboi. Informasi ini, secepatnya diketahui oleh Bupati Belu, Willybrodus Lay dan dengan di temani Ibu Ketua TP PKK, Ny. Vivi Lay Ng dan Kadis Sosnakertrans Kabupaten Belu, orang nomor satu Belu ini langsung menuju susteran Onoboi guna melihat dan langsung berdialog dengan korban.

Korban yang masih keliatan trauma diajak bercerita, dan korban pun bercerita dengan mengganti-ganti bahasa, kadang bahasa Indonesia, kadang melayu dan kadang bahasa timor, dan akhirnya diperoleh gambaran bahwa korban memiliki keluarga di Haliwen, memiliki suami serta anak.

Namun korban tidak mampu untuk mengingat dengan jelas nama keluarganya, suami bahkan nama anak-anaknya sendiri sulit untuk disebutnya.

Mengingat kondisi korban yang seperti kehilangan ingatan, mengalami lumpuh ringan sehingga masih sulit berkomunikasi secara baik maka Bupati Belu meminta bantuan pendampingan dari pihak susteran Onoboi beberapa hari ke depan dan dibantu oleh pihak Dinas Sosnakertrans Belu untuk merawat sambil menunggu pemulihan korban dan akan terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait agar secepatnya kasus yang menimpa Joanina ini bisa diselesaikan.

“Kita harapkan penanganan secepatnya agar tidak ada lagi Joanina-Joanina berikutnya,” kata Bupati Belu, Willy Lay. (HSB/ Yulianus Feka).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here