Menperin Resmikan Perluasan Pabrik PT Bayer Indonesia

0
549

menteri perindakJAKARTA,Zonadinamika.com. -Menteri Perindustrian (menperin), Saleh Husin meresmikan perluasan pabrik PT Bayer Indonesia di Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Rabu (27/5). Pabrik tersebut memproduksi multivitamin dan obat-obatan, yang 75 persen produksinya diekspor ke 26 negara.

“Pabrik ini juga merupakan bagian dari Bayer Healthcare’s Global 21 Manufacturing Sites, yang memasok produk healthcare di pasar dunia,” kata Saleh dalam sambutannya, Depok, Rabu (27/5).

Investasi yang telah ditanamkan mencapai 60 juta euro dalam beberapa tahun terakhir dan akan bertambah 8,1 juta euro tahun ini, dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 1.300 orang.

“Dengan adanya perluasan pabrik Bayer di Cimanggis, diharapkan dapat meningkatkan kinerja industri farmasi nasional, menyerap tenaga kerja, menambah devisa melalui ekspor produk farmasi, serta dapat mengurangi obat-obatan dan multivitamin impor yang beredar di dalam negeri,” papar Saleh.

Pada kesepatan itu, Saleh memberikan apresiasi kepada PT Bayer Indonesia atas komitmen investasinya di Indonesia.

Selanjutnya, perusahaan multinasional di bidang healthcare dan crop science ini diharapkan terus tumbuh di Indonesia melalui inovasi di bidang kesehatan, dengan menghasilkan produk-produk berkualitas melalui research and development yang telah teruji, seperti Aspirin, CDR, Redoxon, Saridon, dan lain-lain. Bahkan, Bayer sudah mampu memproduksi obat untuk kanker hati.

Pada 2014, nilai ekspor produk farmasi nasional mencapai US$ 532 juta, atau tumbuh 16,98 persen dibandingkan 2013, sebesar US$ 455 juta.

“Pemerintah akan terus berupaya menciptakan iklim usaha yang kondusif, agar dunia usaha, baik sektor hulu maupun sektor hilir, tetap bergairah melakukan investasi di Indonesia, serta memiliki daya saing yang tinggi, sehingga industri farmasi bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” tegas Saleh.

Saleh mengingatkan, liberalisasi perdagangan dunia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini ditandai dengan ragam kerja sama ekonomi dan perdagangan dunia, baik bilateral, regional, maupun multilateral, termasuk tentunya pemberlakuan pasar bebas ASEAN Economic Community (AEC) pada akhir tahun 2015 ini.

Dengan wilayah ASEAN yang luasnya mencapai 4,47 juta kilometer persegi (km2) dan populasi penduduk sebesar 601 juta jiwa, AEC dapat menjadi peluang bagi industri dalam negeri dalam mengembangkan pasar tujuan ekspor, serta menarik investor ke Indonesia, yang akan mendorong terjadinya transfer teknologi dan inovasi produk.

AEC juga memungkinkan terjadinya joint venture dengan perusahaan di ASEAN untuk memudahkan akses terhadap bahan baku yang belum dapat diproduksi di dalam negeri. Meskipun demikian, ada tantangan baru yang muncul dengan adanya AEC, yaitu meningkatnya arus barang, jasa, dan tenaga kerja dari negara-negara lain di ASEAN.

Sementara itu, terbitnya Undang-Undang 3 / 2014 tentang Perindustrian diharapkan dapat mendorong pertumbuhan industri nasional termasuk industri farmasi.

Undang-undang ini menurunkan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) Tahun 2015-2035, dimana industri farmasi menjadi salah satu Industri Andalan, yaitu industri prioritas yang berperan besar sebagai penggerak utama (prime mover) perekonomian di masa yang akan datang. “Selain menekankan pada penguasaan teknologi dan peningkatan penggunaan produk dalam negeri, diharapkan pula ketergantungan terhadap bahan baku impor akan berkurang,” ujar Saleh.

Pemerintah menyadari bahwa pembinaan industri farmasi memerlukan kerjasama lintas sektoral yang saling terintegrasi. Untuk itu, dalam pembinaan industri farmasi, selain pemenuhan terhadap regulasi dari sisi kesehatan juga diperlukan fasilitasi atau pembinaan untuk menjamin standar dan kualitas produk serta pengembangan usaha. Kementerian Perindustrian akan memprogramkan dukungan fasilitas dalam rangka kemandirian industri farmasi.[pan/b1

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here