Siswa SMP Merokok ‘Dirazia’ Bupati Purwakarta

0
675

PURWAKARTAZonadinamika.com.  Sekumpulan pelajar SMPN 1 Babakan Cikao, Kabupaten Purwakarta, yang tengah asik merokok tunggang langgang tatkala Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, tiba-tiba menghampiri mereka di sebuah warung yang tak jauh dari lokasi sekolah.

Kejadian bermula saat Dedi baru saja pulang menjenguk warganya yang sakit di kompleks Panorama. Usai menjenguk Dedi bergegas pulang ke rumah dinasnya, namun memilih memutar jalan ke daerah Ciwareng sekaligus mengecek kebersihan dan jalan sekitar.

Di tengah perjalanan, Dedi tiba-tiba menyuruh sopir minibus yang ditumpanginya berhenti tak jauh dari sebuah warung. Tanpa aba-aba dia pun langsung membuka pintu dan berjalan cepat menuju warung tersebut. Melihat hal tersebut rombongan lain yang kebetulan ikut seperti pejabat dan aparat langsung mengikuti Dedi menuju warung yang sama.

Sekumpulan pelajar yang tengah berkumpul awalnya tak menyangka pria yang berkaos putih dengan training olahraga tersebut adalah Dedi. Namun saat semakin mendekat para pelajar tersebut pun tiba-tiba membubarkan diri karena tahu orang tersebut adalah Dedi yang akan merazia perokok.

Secepat kilat kumpulan pelajar itu kocar-kacir dengan membuang beberapa puntung rokok yang terlihat masih baru di sekitaran warung. Dari sekira 15 pelajar yang berkumpul satu diantaranya tertangkap oleh Dedi dengan barang bukti rokok yang baru saja dibuang. Selanjutnya Dedi membawa pelajar pria tersebut ke sekolahnya yang berjarak sekira 100 meter.

“Ngarokok teu? Naha ngarokok? (Merokok tidak? Kenapa merokok?),” tanya Dedi saat membawa anak tersebut ke ruang kepala sekolah, Jumat (16/9/2016).

“Teu Pak, ngan sok diajakan hungkul (Tidak Pak, tapi suka diajak saja),” jawab pelajar kelas VIII itu.

“Terus mun maneh diajak maok daek? Diajak ngagebuk guru daek? (Terus kamu kalau diajak mencuri mau? Diajak memukul guru mau?),” tanya Dedi kembali.

Dengan wajah tertunduk, pelajar tersebut tak menjawab pertanyaan Dedi dan hanya menggelengkan kepala sebagai isyarat jawaban tidak.

Setelah diinterograsi dan diberi nasihat, akhirnya sang anak mengaku dia merokok bersama teman-temannya yang juga masih satu sekolah. Bahkan tadi mereka berkumpul tidak hanya untuk merokok namun tengah merencanakan untuk melakukan tawuran dengan pelajar sekolah lain.

Dedi menyuruh pelajar tersebut untuk menulis nama teman-temannya yang sering nongkrong dan merokok. Sementara pada kepala sekolah, Dedi menginstruksikan agar pada hari Senin nanti anak-anak yang namanya dicatat diberi Surat Peringatan (SP) 1 langsung pada orang tuanya.

“Sing nyaah atuh ka bapak nu gawe ngojek, ka indung nu buruh jahit. Balik ka imah bantuan ngumbah motorna, bantuan ngepel imah. Engke geus gede maneh kudu leuwih hebat ti bapak jeung indung. Bapak ngojek, maneh minimal bisa jadi juragan ojekna atuh.

(Sayang dong sama bapak yang ngojek, ke ibu yang buruh jahit. Pulang ke rumah bantu cuci motor, bantu ngepel rumah. Nanti sudah besar kamu harus lebih hebat dari bapak dan ibu. Bapak ngojek, minimal kamu jadi juragan ojeknya dong),” beber Dedi.

Tak bebeberapa lama salah seorang dokter yang biasa melakukan tugas memeriksa gigi pelajar pun datang. Setelah diperiksa ternyata pelajar tersebut terbukti merokok namun tidak dalam jumlah yang banyak.

“Iya Pak. Sehari paling dua batang,” kata pelajar tersebut.

Dalam kesempatan itu Dedi meminta pihak sekolah tegas terhadap para pelajar. Terlebih saat ini pelajar melakukan kenakalan selalu tidak jauh dari sekolahnya, seperti pelajar yang saat ini tertangkap merokok di warung berjarak sekira 100 meter dari sekolah.

Nantinya razia rokok dengan metode pemeriksaan gigi yang berjalan sejak setahun lalu itu tidak hanya berfokus pada pelajar SMA dan SMK. Namun mulai hari Senin depan pemeriksaan akan mulai turun hingga ke tingkat SMP bahkan SD.

Sebelum menaiki mobil untuk pulang ke rumah dinasnya, Dedi menyempatkan diri untuk menghampiri pemilik warung dan mengimbau agar tidak lagi menjual rokok pada pelajar. Namun sang pemilik warung berkilah jika dia dipaksa oleh pelajar untuk menjual rokok.

“Sekarang saya balik. Kalau anak ibu sebesar mereka terus dia maksa minta rokok bagaimana? Mau dikasih juga? Tidak kan. Makanya saya minta jangan jual rokok ke pelajar lagi,” pungkas pria yang akrab disapa Kang Dedi itu. (Detikcom)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here