Mahasiswa Papua Menolak Rencana Mekar Kab Mapia Raya

0
671

TIMIKA- Zonadinamika.com.Menanggapi dinamika kencarnya isu pemekaran Kabupaten Mapia Raya di tanggapi secara serius oleh pihak Mahasiswa Papua dengan tegas kami menyatakan menolak.

Hal tersebut disampaikan oleh Musa Boma Mahasiswa asal Dogiyai di Jayapura Saat siskusi terbuka bersama seluru pimpinan Mahasiswa yang ada di papua dari ruang Badan Eksekutif Mahasiwa (BEM) Fisip Uncen 22/06/2016.

Lanjut Musa kita sebagai kapasitas Mahasiswa yang sedang belajar ilmu di kota studi Jayapura dan di kota-kata lain yang berasal dari Papua ini menilai bahwa usaha pemekaran di atas Tanah Papua ini tidak mamfaat besar dan tidak menjamin dan tidak melalui mekanisme yang sesungguhnya dilalui dan belum siap di berbagai lini maka kami tolak.
.
Yang pertama sebagai masalah utama yang ada di wilayah Papua lebih khusus di wilayah Mapia adalah Sumber Daya Manusia ( SDM ) sangat kurang orang yang sudah berpendidikan pun belum sampai 50 orang namum pemekaran sedang berjuang ini sangat memalukan di mata publik dan pemekaran tidak ada mamfat bagi rakyat setempat.

Hal itu, kami Mahasiswa nilai bahwa perlu di tanggapi dengan serius karena nantinya akan terjadi damfak yang sangat kurang baik merugikan bagi orang Papua dan Rakyat mapia.

Dalam disukusi tersebut itu BEM Fisip Uncen Yali Wenda mempertanyakan bahwa Musa”Syarat pemekaran itu ada beberapa syarat harus musti perhatikan yaitu Dalam Undang-Undang 1945 termuat pada pasal 129 itu Politik, Pendidikan, Sosial Budaya dan ekonomi itu sudah kama itu sudah lengkap atau belum kalau belum berarti untuk apa dan kepada siap kita memekarkan Kata dia.

Lanjut dia,” Buka itu saja yang menjadi kriteia tidak tapi ada hal lain yang menjadi patokan utama bagi kami dan menjadi perhatian juga tim-tim pemekaran yang sedang bergelora di atas Tanah Papua ini untuk mau menghadirkan pemekaran.

Lanjut dia menghadirkan pemekaran itu atas persetujuan bersama dengan rakyat setempat dalam hal ini Tokoh pemuda,Tokoh Perempua,Tokoh Agama,Tokoh adat dan semua stakeholder yang ada harus ada persetujuan kata dia saat itu.

Namun kenyataan ada saat ini adalah pemerintah Papua dalam hal ini tim pemekaran bersama pemerintah Jakarta yang saat ini mereka utamakan di papua ini membangun manusia tidak tapi memekaran pemekaran ini sangat keliru sekali tegas dia.

Penjelasan kepada semua pimpinan dari Musa Boma bahwa supaya semua pimpinan Mahasiswa tahu tentang Kondisi rill yang saat ini di alami oleh rakyat Kabupaten Dogiyai bersama pelajar dan Mahsiswa adalah pendidikan dari tingkat SD,SMP dan SMA saat ini kiris Guru dan tidak menetap tenaga pengajar yang ada tidak beta mengajar akhirnya anak-anak itu ibaratkan sebagi anak ayam kehilangan induknya.

Dari pemerintah setempat guru-guru yang berbobot untuk mengajar saja pemerintah daerah melantik menjadi kepala Distirk itu yang membuat kekosongan guru SD disana.

Kami bisa menyatakan bahwa benar-benar rakyat setempat sedang di tindas dengan ekonominya, pendidikan,Kesehatan yang tidak jalan sesuai dengan keinginan dan harapan rakyat setempat.Kalau meman (DOB) ini Tim pemekaran membuat persetujutuan paslu berarti nanti akan menjadi petaka bagi yang tidak tahu apa-apa.

Bukan rakyat saat ini merindukan tentang pemerkaran tidak tapi mereka sedang pikir adalah bagimana kami sejatera dengan ekonomi itu karena itu sangat penting bagi kami Kata rakyat pada tanggal 24 Desember 2014 lalu dari Diyeugi yang menyatakan oleh salah satu Tokoh Pemuda Vitalis Magai.

Yang menjadi utama juga adalah rumah sakitpun tidak ada hal itu sangat disanyangkan oleh di mata publik karena kabupaten Dogiyai sekarang berusia 9 Tahun tapi, Masyarakat Dogiyai ketiga mengalami sakit berat mereka biasanya pergi berobat di Kabupaten orang sepertinya Deiyai, Paniai, dan di Nabire itu meperlihatkan bahwa benar-benar kami melihat bahwa ini secara langsung sedang ditindas oleh pihak pemerintah.

Kalau meman ada rasa bahwa ini saya punya rakyat berarti pemerintah harus bangun rumah sakit yang layak dan melengkapi dengan fasilitas obat-obatan dan lain yang perlu siapkan untuk demi membangun Kabuapaten Dogiyai yang sesuai dengan Motonaya yaitu DOGIYAI DOU ENA.

Kami harapkan juga kepada pemerintah jangan tutup mata untuk melihat semua hal itu dan pemerintah perlu membiayai dan mendanai untuk mahasiswa dan pelajar supaya kekosongan yang terjadi itu anak setelah selesai pendidikan kembali mengisi kekosongan yang terjadi ini bukan urus pemekaran.

Kalau meman kondisi seperti itu berarti seluruh Mahasiswa Papua menyatakan dengan sikap tegas bahwa kami menolak pemekaran itu seratus persen kami berani menyatakan hal itu karena Kesehatan, Pendidikan, Ekonomi,Politik dan lain belum siap 100%.

Penolakan kami atas pemekaran Mapia Raya ini telah dinyatakan terlebih dahulu oleh Gubernur Papua Lukas Enembe. Seruan penolakannya secara moral itu dapat disampaikan Gubernur Papua kepada publik dan dapat dimuat oleh media harian umum Cenderawasih Pos, edisi Seni, 03 November 2014 lalu.

Jadi aksi penolakan tegas kami atas pemekaran di atas Tanah Papua Lebih Khusus Mapia Raya ini merupakan dukungan kepada Bapak Gubernur untuk penolakan pemekaran kabupaten dalam membangun Papua yang meman sungguh-sungguh bangkit, mandiri dan sunguh-sungguh sejahtera. (Musa Boma)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here