Oknum Guru di Duga Peras Ortu Siswa Melalui PPDB Tangerang

0
662

BANTEN,Zonadinamika.com. Penegasan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswean agar sekolah-sekolah, baik negeri maupun swasta, menaati Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 60 Tahun 2011 tentang Larangan Pungutan di Tingkat SD/MI dan SMP/MTs. Sanksi sudah disiapkan bagi yang terbukti melanggar.

Peraturan Pemerintah Nomor 17 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan
Dalam Permendikbud Nomor 60 itu juga tertuang sanksi bagi siapa saja yang melakukan pungli di sekolah. Artinya semua Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), seperti SD dan SMP, baik negeri maupun swasta.

Namun tetap saja bahwa tahun ajaran baru menjadi ajang mengisi pundi-pundi bagi banyak sekolah, Sehingga pungutan liar (pungli) dalam proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menjadi ladang empuk.

Lihat saja di lingkungan pemerintahan Kota Tangerang Selatan (Tangsel) peserta didik kembali harus dibebankan sejumlah biaya siluman hingga jutaan rupiah tanpa ada rincian secara jelas.

Pemerasan ortu murit yang lazim di sebut praktik pungli seperti yang terjadi di sebuah SMA Negeri yang berlokasi di Pamulang, Kota Tangsel. Orang tua murid, oleh panitia PPDB sekolah saat proses daftar ulang memberikan kuitansi yang harus segera dibayarkan sebesar Rp1.205.000. untuk uang SPP bulanan dan biaya administrasi.

” Rp200.000 untuk bayaran sekolah bulanan. Bahkan ketika saya tanya sisanya buat apa, orang sekolah enggak bisa jelasin. Mala dijawab untuk kegiatan anak, tanpa ada rinciannya. Kwitansinya juga tanpa stempel, dengan tulisan tangan.

Harganya kalau enggak salah Rp 770.000 berapa gitu,” ungkap salah satu orang tuasiswa pada wartawan yang enggan disebutkan namanya.
Berdasarkan tanda terima berbentuk selembar kwitansi, panitia PPDB sekolah hanya menuliskan nama murid, besaran pembayaran, dan peruntukan pembayaran tercantum kebutuhan personal kelas X.

Bukti kwitansi memang tidak dibubuhi stempel sekolah. Pada bagian pojok kanan bawah hanya tertera tandatangan penerima dengan nama Wiwin P Indayar.

Orang tua murid diminta mengisi kuitansi kosong dan menyerahkan uang sesuai angka yang diisi. Pungutan yang ditarik oleh pihak sekolah bermodus uang sumbangan sukarela.

Kita dikasih kwitansi kosong dan disuruh isi sendiri, tapi kwitansinya enggak dikasih ke kita. Jumlahnya bisa beda-beda. Bingung aja, belum masuk banyak uang ini-itu. Jadi serba salah, kalau enggak bayar takutnya nanti anak kita di sekolah dibedain sama gurunya,” ucapnya dengan nada mengelu. (tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here