Big Bos Illegal Loging Jual Nama Intansi, Dinas Kehutanan Saling Sikut Menyikut

0
725

BATAM.Zonadinamika.com. Dengan lantangnya Hendrik Harahap Big Bos Illegal loging di daerah Sagulung nekat menjual nama intansi Dinas kehutanan, namun sampai hari ini intansi terkait dan penegak hukum (Polsek Sagulung) belum juga berhasil menertibkan gudang somelmilik Hendrik Harahap.

Investigasi media ini tercatat tiga big bos Illegal loging di daerah Sagulung, CV.Cahaya Perkasa gudang blakang kantor Camat Sagulung,yang berjarak sekitar 500 meter dari Polsek Sagulung. PT.Limas, gudang sekitar 300 meter di depan Polsek Sagulung, dan sekitar 500 meter dari kantor Camat Sagulung. gudang Sitompul berada di Dapur 12. Ketiga pengusaha Illegal loging trsebut, diduga tidak ada mengantongi izin.

Sebagai mana di beritakan media ini tanggal 20 Mei 2015, Hendrik Harahap saat di konfirmasi selaku Oner CV Cahaya Perkasa (CP) terkait Surat Keterangan Angkutan asal Usulkayu (SKAU)”, dengan gaya emosi sambil menendang meja tempat awak media ini duduk dan berkata.

“Mana wartawanya yang sokjago itu? Sudah dikasih amplop komenolak, apa kurang banyak, Kalau sudah jago ayo kita main biar kuhabisi kamu, saya sudah disini, maumu apa ?kamu tidak berhak menanyakan asal usul kayu saya darimana , apakamu ada surat perintah dari polisi menayakan izin apa yang saya kantongi ? polisi saja tidak pernah datang kegudang ini menayakan asal usul kayu saya, dan izin apa yang saya kantongi”

Satu unit kapal kayu mengangkut kayu olahan dari pelabuhan rakyat Tanjung Riau, menurut pengakuan kuli bongkar, asal kayu tersebut dari Selat Panjang mau ke Sagulung menuju gudang PT. Limas. Di Tanya soal dokumen kayu tersebut, sudah ada yang mengambil dari petugas kehutanan yang bernama Karmawan, tetapi orang kapal tidak bisa menunjukkan photo copy dokumen kayu tersebut.

Emri Kabid kehutanan melalui telpon genggamya, mengatakan akan segarah memerintahkan anak buahnya. “Nanti saya akan printahkan anak buah saya Lajahidin bagian penindakan kehutanan yang ditugaskan dibagian pelabuahan Tanjung Riau dan Pelabuhan Dapur 12 untuk menanyakan dokumen kayu yang berasal dari Selat Panjang tersebut”.

Di dampinngin wartawan media ini, Lajahidin langsung ke PT Limas guna komfirmasi pada humas PT. Limas yang bernama Hendra. Sayang dengan nada emosi berkata ke awak media ini, “ Mengapa kelian datang rame rame seperti ini, kaliankan sudah tau dari pelabuhan, bahwa kayu ini milik PT. Limas, ngapain lagi kalian datang, kitakan sudah berteman sama media, jadi saya kecewa ngapain juga kalian bawa orang KP2 kekantor ini? Disini sudah ada orang KP2. Jawabnya arongan sok kebal hukum.

HDR menambahkan, “Kita lengkap dokumenya sambil menunjukkan FAKO yang barusan di prins yang berisikan muatan kayu meranti 246 batang, kayu campuran 179 batang, dan dipelabuhan Karmawan sudah ada petugas KP2 yang mengambil dokumenya Ujar HDR. Padahal dokumen yang ditunjukkan oleh HDR tidak sesuai dengan isi kapal yang mengangkut, dan biasa dikatakan dengan dokumen untuk satu kubit dibawa sepuluh kubit.

Ironis, Dua petugas KP2 Lajahidin dan Karmawan sempat cekcok didepan awak media ini dan Hendra HRD PT.Limas, Karmawan petugas untuk mengawasi kehutanan didaerah Piayu, dan Lajahidin mengawasi didaerah Pelabuhan Tanjung Riau merasa kecewa telah dilangkahi oleh Karmawan., “ Bro, kalau masuk kerumah orang assalamualaikom dulu dong’ Lajahidin menyindir.

Jelas Lajahidin dan Hendra HRD PT.Limas, untuk mengetahui berapa kubik kayu yang dibawa kapal tersebut, harus dihitung dulu satu persatu berapa batang kayunya, nanti ada rumusnya untuk menghitung berapa kubit kayu yang sebenarnya, kalau ternyata kayu lebih dari dokumen yang ada, dinas kehutanan Batam tidak bisa menindaknya, hanya kita mengantar keasal kayu dariman, nanti intansi yang bersangkutan dari asal kayu yang menindaknya, dan menyarankan untuk membayar seperti: 1) PSDH, 2) DR, 3) PNT.

Jumat tanggal 21/08,kembali Wartawan melakukan investigasi tepat di Barelang jembatan 6, sungai saleh pelabuhan tikus milik Ali, dilokasi tersebut ditemukan satu lori trakhir pengangkutan kayu,konon katanya berasal dari pulau Simayam, kepada awak media ini Ali mengatakan, “Kita disini hanya kuli bongkar muat, dan tadi ada kapal Pompong milik Manik yang mengantar kayu, katanya ke gudang Hendrik Harahap yang akan diantar kedaerah Sagulung.

Emri ketika kembali di hubungi media, menyarankan agar menghubungi Burhan Kasi Penindakan, dengan alasan Emri lagi control kesehatan, seraya berjanji akan menetelpon Burhan. Sayang, Burhan berkali-kali di hubungi, diangkangkat, di SMS juga tidak dibalas.

Ditemukan juga satu lory pengangkut kayu bulat didaerah jembatan 5 mau menuju ke Batu Aji sekitar jam 09:00, sopir yang mengaku bernama Umar bahwa kayu akan ditujukan kegudang Sitompul di dapur 12, ditelpon saja bang, kita hanya makan ongkos kirim. Awak media ini menghubungi Sitompul untuk ketemu malam itu, Sitompul mengatakan, boleh, sekarang saya ada di Blooto, saya tunggu disini, daerah Newtonya, tak lama kemudian Sitompul hilang bak di telan setan karena beberapa kali menghubungi telpon selulernya, tetapi tidak diangkat, di SMS juga tidak dibalas.

Doran Harahap Kepala Seksi kehutanan (bagian perizinan) dengan tegas menjelaskan kepada “ Dinas Kehutanan tidak pernah memberikan surat rekomendasi atau memberikan izin apapun kepada CV. Cahaya Perkasa milik Hendrik Harahap.

Kalau Hendrik mengatakan seperti itu, Hendrik berbohong, laporkan saja kepolisi biar dia ditangkap dan gudangya dipolice laine. Dinas Kehutanan ada memberikan surat rekomendasi hanya enam PT yang ada di Batam ini untuk pengurusan izin pengolahan kayu bulat tapi saya lupa namanya.Harus buka arsip dulu, yang mengeluarkan izin Mentri Kehutanan, yang sudah ditanda tangani Pemko Batam dan Gubernur Kepri. Kalau kayu olahan kalian Tanya saja Faktor Angkutan Kayu Olahan (FAKO) dan Surat Keterangan Angkutan asal Usulkayu (SKAU)”.

Dan Emri Kabid kehutanan mengatakan pada saat dikomfirmasi diruang yang berbeda, kalau Hendrik Harahap mengatakan seperti itu sudah keterlaluan, saya sendiri tidak kenal dengan Hendrik Harahap, tapi dia berani jual jual intansi, saya akan panggil dulu Burhan Pasaribu (Kapala seksi Penindakan) dan Doran Harahap, kita akan berunding dulu, dan kita akan Sidak secepatnya kegudang somel Hendrik Harahap. Ujar Emri

Hari Selasa tanggal 18 /08 Awak media ini kembali komfirmasi kepada Emri Kabid kehutanan melalui pesan singkat terkait stekmenya akan sidak kegudang CV. Cahaya Perkasa, Emri membalas dengan pesan singkat, saya sudah diskusi dengan pak Burhan dan pak Doran, dengan kesepakatan kami bertiga,Pak Burhan yang akan menyelesaikan permasalahan ini, maaf, sekarang saya lagi di Tanjung Pinang. Awak media ini berkali kali menghubungi seluler pak Burhan, tapi tidak pernah diangkat, dikomfirmasi melalui pesan singkat juga tidak dibalas.

IPDA Aprizal Kanit Reskrim Polsek Sagulung kepada awak media ini dengan nada dingin, kalau ada gudang Somel didaerah Sagulung ini tanpa lengkap izin, naikkan beritanya biar kita tindak dengan tegas, saya jadi Kanit disini baru tiga bulan, jadi saya belum mengetahui semua permainan illegal yang ada di Sagulung ini, dan Kapolsek juga dengan tegas memerintahkan saya, “jangan dulu mengutip dari pengusaha yang tak jelas, hususnya dari 303 jenis sie jie/togel dan somel, itu harus dikerjain dulu, ujar Kanit.

Dengan maraknya penebangan hutan yang dilakukan oknum yang tak bertanggung jawab demi memikirkan kepentingan sendiri, diduga dinas kehutannan membiarkan hal itu terjadi karena adanya kerjasama dengan para mafia illegal loging, yang semestinya, dinas kehutanan harus melindungi hutan yang ada didaerah barelang,
Rempang, Galang maupun pulau-pulau kecil, tetapi pembalakan liar hutan sampai saat ini masih merajalela tanpa adanya pengawasan dari intansi yang bersangkutan.

Mafiaillegal loging melakukan apa saja termasuk menjual nama intansi yang terkait demi memuluskan jalan bisnis haramnya, tetapi intansi terkait hanya diam saja tanpa adanya tindakan terhadap mafia yang menjual nama intansi tersebut, seharusnya intansi terkait sudah saatnya menertibkan pembalakan hutan yang ada didaerah Barelang sekitarnya.dan Polisi Kepri sudah saatnya menindak pengusaha yang illegal yang merugikan Negara. ( NGL)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here