Mulutnya Bawa Bumerang,Pesulap Merah Dipolisikan Di Sana Sini

0
185

 

Oleh : Abah Rahman

PEKAN-pekan ini jagat warta habis-habisan mem-bully tradisi mistik yang melekat di banyak suku di negeri ini. Minus santet yang masuk pasal dalam revisi KUHP, dukun bahkan diprovokasi sebagai profesi cabul dan penuh aksi tipu. Ini catatan perlawanan saya.

Awalnya saya senyum melihat tudingan laki yang dipanggil Pesulap Merah itu. Senyum karena saya menganggap aksi Marcel Radhival itu lazimnya ‘sang penampil’. Seperti artis baru yang harus mengeksplorasi diri agar penuh mempesona. Dan itu lumrah. Dengan banyak yang terpesona, itulah ukuran kesuksesannya.

Karena itu, dengan jam terbang lebih satu dekade mengabdikan diri sebagai dukun di tengah masyarakat Kota Medan yang dikenal keras, jujur…serangan pesulap bergaya provokator yang coba membunuh karakter paranormal itu tetap membuat saya geming. Biasa saja. Selama benar, buat apa takut! Itu prinsip.

Tapi rasa solidaritas hidup ‘dalam cawan yang sama’ akhirnya meruntuhkan prinsip itu. Saya pun mendukung kemarahan teman-teman seprofesi. Ini cukilan kisah pengubah ketenangan menjadi aksi ritual saya untuk Pesulap Merah yang viral di Tiktok, Minggu (7/8/2022) lalu itu.
“Jauh sebelum dokter ada, dukunlah (sosok) yang membantu masyarakat,” tegas Abah Umar pada teman di seberang ponselnya yang menyoal Pesulap Marah. Sang teman, yang juga dukun seperti Abah Umar, sekaligus teman sepadepokan saya, terdengar ingin mempolisikan pesulap cari perkara itu.
Baginya, omongan pesulap baru besulap itu telah menghina balada pengembaraannya ke sejumlah ‘wilayah mistik’ di Tanah Air. Dia pun bercerita.

Dua tahun lalu, hidupnya ada dalam komunitas Suku Sasak. Ini suku unik penghuni Desa Rambanbiak, nun di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Di sana, orang sakit tak perlu dibawa ke dokter. Cukup diobati lewat ritual Pakon. Ini pengobatan alternatif yang telah berusia ratusan tahun. Caranya?
Diiringi bunyi kendang dipadu irama suling menyayat jiwa, si sakit direbahkan di tengah altar berupa kain kafan berukuran sekira 5 x 5 meter. Ritual itu dimulai pukul 12 malam. Di situ, makanan sesaji juga telah disiapkan. Makanan berupa ayam dan sayur tanpa garam itu dibuat oleh para gadis belum menstruasi dan kaum ibu yang telah menopause.

Lalu, seiring kendang dan suling yang awalnya dimainkan dengan tempo lamban makin meninggi dan masuk ke irama puncak, keanehan pun terjadi. Si sakit yang awalnya sulit bergerak mendadak bangkit dengan mata tertutup. Dia yang kerasukan menari mengikuti irama mistik itu. Di sampingnya, seorang pawang turut menari. Di situlah si sakit lalu menengadahkan tangan meminta bantuan Yang Maha Kuasa.
Satu jam menari, orang-orang dalam ritual itu lalu memeriksa tangannya. Andai ditemukan cairan bukan keringat, si sakit dipastikan sembuh dalam waktu seminggu. Jika tidak ditemukan, ritual Pakon dilakukan 2 kali lagi. Andai dalam 3 kali ritual, cairan yang dicari tetap tak ditemukan, warga sakit itu dipastikan segera wassalam. Dipanggil Yang Maha Kuasa.

“Dan itu selalu benar. Tak ada aksi tipu-tipu dalam ritual itu. Apalagi aksi cabul. Saya tahu itu karena berkali-kali mengikuti ritual itu. Tentu sambil mempelajari ritual itu, ” jelas si teman yang bernama Bunda Maya. Selain ritual Pakon, menurut Bunda Maya, cenayang berdarah Simalungun, itu Desa Rambanbiak juga dikenal sebagai lokasi wisata menuju ‘alam lain’. Tentu dengan syarat ritus : akal harus dibuang jauh. Jika syarat itu terpenuhi, segala yang tak masuk akal pun akhirnya menjadi ‘faktual’ di sana.

Nah, lain tempo, di tahun lebih berlalu lagi, Bunda Maya juga tinggal hampir setahun bersama seorang balian. Di Bali, balian adalah nama lain untuk dukun. Di Pulau Dewata, sejumlah polisi acap memanfaatkan peran balian guna bantu mengindentifikasi korban kriminal.  “Tak usah saya ceritakan bagaimana kisah saya bersama balian di Bali. Saya tak ingin disebut pamer,” tandas Bunda Maya.

Cukilan pengakuan di atas menjadi contoh kecil latar kemarahan paranormal se-Tanah Air terhadap pengakuan Pesulap Merah. Bagi saya, juga banyak paranormal di negeri tercinta ini, dukun atau dunia mistik itu adalah antropologi simbol. Dia hidup dan mengamati Anda dari seberang alam pikiran kita. Karena itu pula, seperti kesimpulan sejumlah media yang menyebut saya baru-baru ini menyantet Pesulap Merah, laki sombong dengan arti nama ‘suka perang’ itu kini dipastikan mulai susah tidur nyenyak. Itu karena aksinya mulai menuai bumerang baginya. Dia mulai banyak dipolisikan oleh sekalangan orang.

Begitulah. Paranormal sejati sejatinya tak pernah mengganggu profesi-profesi lain, apalagi terhadap para pesulap. Tapi jika orang-orang yang hidup dalam dunia klenak-klenik itu diganggu, tak mungkin tak ada perlawanan. Salam.

*Penulis Adalah paranormal, tinggal di Medan, dan mantan wartawan desk supranatural Grup Jawa Pos.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini