Suhatri Bur,SE.MM Ulas Sejarah Piaman Laweh ,Pada HUT ke-189 Padang Pariaman

0
71

Parit Malintang-Zonadinamika.news-Hari ini ditetapkan sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) ke-189 Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar).

Hari jadi Padang Pariaman tersebut diperingati melalui rapat paripurna istimewa DPRD Padang Pariaman bertempat di Hall Ibu Kota Kabupaten (IKK) Parit Malintang, Kabupaten Padang Pariaman.

Adapun tema HUT Padang Pariaman kali ini ialah “Kita sehat, Ekonomi Bangkit Menuju Padang Pariaman Berjaya”.

Selain dihadiri oleh Bupati Padang Pariaman Suhatri Bur,SE.MM, Wakil Bupati Drs.Rahmang,MM, Dandim Pariaman,Kapolres Padang Pariaman,Kota Pariaman, serta seluruh anggota DPRD Padang Pariaman, Rapat Paripurna kali ini juga dihadiri sejumlah tokoh Sumatera Barat.

Sejumlah tokoh tersebut antara lain anggota DPD RI Alirman Sori, Wakil Gubernur (Wagub) Sumatera Barat Audy Joinaldy mantan Wali Kota Pariaman Mukhlis Rahman, Wakil Wali Kota (Wawako) Pariaman Mardison Mahyuddin.

Selain itu Perayaan yang digelar dengan protokol kesehatan ini juga dihadiri unsur Forkopimda Padang Pariaman, mantan pejabat Padang Pariaman.

Selanjutnya, Camat dan Wali Nagari se-Padang Pariaman, Tokoh Masyarakat, Alim Ulama, Cadiak Pandai Bundo Kandung, Ninik Mamak, dan undangan lainnya.

Selain itu, di luar pekarangan Kantor Bupati Padang Pariaman berjejer ratusan karangan bunga ucapan selamat hari jadi Padang Pariaman yang biasa disebut Piaman Laweh tersebut.

Rapat Paripurna HUT Padang Pariaman yang dimulai pukul 10.00 WIB, berakhir sekira pukul 12.00 WIB yang dilanjutkan dengan Sholat Zuhur berjamaah di Masjid Raya Parit Malintang.

Setelah sholat, kegiatan dilanjutkan dengan makan bajamba atau tradisi makan bersama sesuai tradisi Minangkabau.

Bupati Padang Pariaman, Suhatri Bur dalam sambutannya mengulas mengenai sejarah daerah yang biasa disebut Piaman Laweh tersebut.

Suhatri Bur melempar pepatah Minangkabau ‘Pincalang biduak rang Tiku, didayuang sambia manungkuik, Basilang kayu dalam tungku, di sinan api mangkonyo iduik’.

BACA JUGA:  Lemkaspa: DKS Harus Utamakan Figur-Figur Yang Berkompeten Untuk Kepala Dan Wakil BPKS

“Pepatah ini menyiratkan bahwa di antara kita mempunyai latar belakang sejarah dan penetapan hari jadi yang berbeda, yang telah ditumbuhkembangkan menjadi sumber motivasi identitas serta kebanggan masing masing,” ujar dia.

“Daerah Kabupaten Padang Pariaman dengan sebutan Piaman Laweh, Kota Padang sebagai kota tercinta, Kota Pariaman dengan moto Kota Sala Lauak, bahkan Kabupaten Kepulauan Mentawai dikenal sebagai Bumi Sikerei,” tambah Suhatri Bur.

Keempat daerah otonom ini, kata dia telah ‘duduk sama rendah dan tagak sama tinggi’ satu sama lainnnya, tetapi memiliki marwah dan kebanggaan masing-masing.

Ia membayangkan, jika Padang Pariaman, Kota Padang dan Kota Pariaman serta Mentawai sama-sama menetapkan tanggal 11 Januari 1833 sebagai hari jadi, tentu hari ini diperebutkan.

“Karena 189 tahun lalu kita sama-sama berada di sana dan tentu hari ini akan kita perebutkan, sehingga kita tidak saling berkunjung, dan Pak Gubernur juga susah untuk berlaku adil,” kata orang nomor satu di Padang Pariaman ini.

Ia memaparkan, tiap kabupaten dan kota masing masing mempunyai ‘tuah’ yang tidak dimiliki oleh yang lain, termasuk Agam dan Pasaman.

Menurut Rusli Amran di dalam bukunya ‘Sumatera Barat sebelum Plakat Panjang’ di tahun 1833 itu pernah terjadi tsunami. Sampai sepertiga Gunung Padang tergenang dan kapal-kapal di Pelabuhan Muara Padang terdampar sampai ke Pasa Mudiak dan Tanah Kongsi,” ucap dia.

Mengenai bencana pada tahun 1833 tersebut, kata dia ditulis juga oleh Auto Biografer dan Konglomerat Pribumi Sumatra Westkust Moehammad Saleh Datoek Orangkaya Besar, dalam manuscriptnya bertajuk ‘Pengalaman Hidoep Saja, Warisan Oentoek Anak Tjoetjoe

Beliau yang sedang menjadi nakhoda Pencalang di dalam pelayaran menuju Bandar Sibolga Kawasan Tepian Naoeli sedang buang sauh di sebuah muara, menyaksikan perahu-perahu diambungkan ombak besar ke daratan,” lanjut dia lagi.

BACA JUGA:  SBY Tersesat Dalam Pentas Politik Dki Pada Putaran Ke Dua

Suhatri Bur di ujung pidatonya mengatakan, bahwa pidatonya kali ini tidak bernuansa politik, namun bernuansa historis dan kultural.

Terakhir kata dia, sudah dua tahun Pandemi Covid-19 melanda dunia, hingga ke daerah. Ia mengingatkan agar semua lapisan masyarakat tetap mentaati protokol kesehatan dan bersedia disuntik vaksinasi.

“Kami kira, tidak ada salahnya kita sedikit rileks untuk meningkatkan daya Imunitas tubuh. Sembari tetap mewaspadai kemungkinan datangnya bencana alam dan bencana kemanusiaan, yang kerapkali tidak mengenal batas batas teritorial dan strata sosial,” pungkas Suhatri Bur.

Harapan saya untuk Padang Pariaman kedepannya yaitu hanya satu yaitu nilai tambah ,dengan istilah itu terjadi karena Kapasitas, Kapasitas itu ada karena sistim yang kuat, sistim itu ada karena prangkat-prangkat ,jadi harapan saya untuk negeri kita ini yaitu menjadi lebih baik lagi baik dari segi sarana prasarana dan sumber dayanya.tutup, Bapak Prof.Dr.H.Duski Samad,M.Ag.(Zl Tjg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here