Wita ‘Stroom’ Dikira Nagita Slavina, Luar Biasa…Susuk Abah Rahman Dongkrak Kecantikan

0
63

ANDA perempuan? Ingin tampak lebih cantik, menggoda, penuh aura kasih hingga bikin kaum Adam ‘klepek-klepek’? Syaratnya satu : akal harus dibuang jauh!!

Demikian syarat utama ritus pemasangan susuk emas pengasih made-in Abah Rahman. “Kalkulasi logis itu kan jelas berseberangan dengan hitung-hitungan rasa. Karena itu di sini akal harus dibuang. Tapi nanti lihatlah… kalau (orang) yang berobat ke saya penuh keyakinan dan tak pernah memakai logika, yang tak masuk akal itu akhirnya menjadi faktual. Keyakinan yang kuat akan mengubah wajah dan penampilan fisik menjadi lebih baik,” beber Abah Rahman soal esensi dunia metafisik praktik kebatinannya. Lelaki tambun ini memang diketahui punya ilmu. Itu mengemuka sejak tabiatnya mendatangi makam-makam keramat dan menjalankan lelaku leluhur menjadi keasyikan baginya. Makam Nyai Ronggeng (Kampung Kolam, Deli Serdang), Makam Datuk Rubiah (Sungai Babura), Pancuran Puteri Hijau (Deli tua), Gua Laupirik tempat kelahiran Puteri Hijau (Seberaya, Tanah Karo), makam Putroe Neng (Lhokseumawe), adalah beberapa dari banyaknya lokasi keramat yang sering didatanginya. “Semua itu merupakan amanat gaib yang harus selalu saya jalankan,” jelasnya soal motif pengelanaan ke makam-makam tua. Sejak menjalani lelaku batin itulah dia sering memberi pertolongan –terutama terhadap kalangan cewek malam yang galau lantaran ambisi duniawinya tak tergapai. Abah Rahman memantrai sekujur wajah dan tubuh gadis-gadis itu, dan ternyata banyak yang berhasil. Sejak itulah, tempat praktiknya –meski berpindah-pindah (kini di Jalan Halat Gang Umar No.1 Medan)– terus saja didatangi banyak orang yang meminta pertolongannya.

Wita, gadis 26 tahun, asal Binjai, mengaku sering main di Stroom (karaoke di Gedung Selecta) juga tempat-tempat dugem wah lain di Medan, adalah fakta terbaru dari kemujaraban susuk emas paranormal ini. “Ya ceritakan saja apa adanya, bagaimana proses dan hasilnya, toh nanti kan nama kamu disamarkan,” Abah Rahman meminta Wita sedikit bercerita pada wartawan Anda yang menemukannya di tempat praktik sang cenayang, baru-baru ini. ” Ya begitulah,” Wita mulai bercerita, “jelang pemasangan (susuk) dimulai, saya mengikuti semua langkah demi langkah sesuai dengan petunjuk yang diberikan Abah. Lalu, dengan menyelaraskan hati, pikiran dan rasa, saya akhirnya benar-benar merasakan sesuatu yang berbeda. Saat jarum emas (susuk) itu diperlihatkan keasliannya dan ritual dimulai, saya pun merasakan ada aliran energi yang lama kelamaan cukup besar mengalir ke dalam pikiran dan sekujur wajah serta tubuh saya.” Gadis ini bercerita dengan ekspresi tampak serasa belum percaya dengan perubahan kecantikan wajah dan tubuhnya saat ini.

Baca Juga :
Akal Terbungkam, Supranatural 'Bicara'

“Apalagi,” sambungnya, (kali ini dengan ekspresi girang) “malam-malam Minggu pertama (setelah pakai susuk emas), beberapa tamu (karaoke) tiba-tiba menyapa dan seperti berebut memanggil saya dengan nama yang beda. Saya dan teman-teman mulanya heran, siapa yang dipanggil (dengan sebutan) Nagita, eh rupanya saya yang dipanggil Om-Om keren itu. Ini benar-benar terjadi lho sampai beberapa malam, ada sekitar seminggu, dengan laki-laki (si pemanggil) yang berbeda-beda dan jumlahnya…. ya puluhan Om-Om lah. Aneh memang!! Bukan karena kompak karena memang (Om-Om) tak saling kenal dan waktunya pun beda-beda, tapi mereka semua itu memanggil saya (sebagai) Nagita karena dalam pandangan mereka saya benar-benar berwujud Nagita Slavina. Wah dikira artis, saya sih enak-enak aja jadi primadona baru, hahaha….” Dengan model rambut pendek, gadis putih berwajah bulat imut menggemaskan ini memang sekilas tampak mirip dengan istri presenter Raffi Ahmad itu.

Lalu adakah peristiwa ‘artis Nagita Slavina muncul di balik keremangan klab malam Kota Medan’ itu efek mistis susuk Abah Rahman? Dilontar tanya seperti itu, paranormal ini malah menjawab dengan makna menukik. “Yang jelas, di balik glamournya dunia malam, mereka, cewek-cewek itu sejatinya membutuhkan ritual aneh yang bisa berperan ‘menjaga’ eksistensi mereka, minimal untuk tetap hidup di situ,” pungkas Abah Rahman. So? (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here