Layanan Ritual Damai Perkara oleh Abah Rahman, Dukun dari Medan

0
102

Seorang kawan, pernah melakukan kekeliruan, sehingga saya rugi jutaan. Namun, saat itu tidak sedikit pun hati saya tergores. Saya memilih tidak mempermasalahkan itu. Kenapa? Karena flashback ke belakang, saya ingat betul, “kontribusi dia dalam kehidupan saya, jauh lebih besar nilainya, daripada angka jutaan itu”. Sehingga, tidak ada yang perlu dimaafkan.

Akan tetapi, jika kekeliruan/kesalahpahaman terjadi kembali tetapi kepada kawan yang lain, yang selama berhubungan perkawanan/pertemanan, tidak menyumbang kontribusi apa pun dalam hidup.

Mampukah kita untuk tetap ikhlas dan membesarkan hati yang sering tidak sinkron dengan pikiran?
Akankah hati bisa berlapang dan menerima untuk tidak mempermasalahkannya?

Cerita di atas adalah sekelumit kisah orang yang datang kepada Abah Rahman untuk memohon diberikannya bantuan lewat Ritual Damai Perkara.

Belajar dari hal ini dapat kita lihat, dalam relasi hubungan antar manusia, kita perlu berorientasi “memberi” sebanyak-banyaknya. Memberi di sini, tentunya dalam konteks luas, tidak hanya berupa uang. Dan kontribusi dilakukan, dengan penuh ketulusan. Mengapa ini penting? Karena saat terjadi sebuah senggolan, akan diabaikan. Psikologis akan menimbang, kadar luka akibat senggolan, kalah bobot dengan kontribusinya.

Kapan sebuah hubungan manusia, akan retak? Ketika masing-masing bukan berorientasi “memberi”, malah saling menuntut, “seharusnya dia begini begitu”. Akibatnya kadar kontribusi masing-masing, rendah. Dan saat senggolan terjadi, tidak ada “kenangan secara psikologis”, yang membuat kita mengabaikan luka goresnya. Kata maaf bahkan tidak diperlukan, karena memang luka sembuh dengan cepat.

Ketika seseorang jarang ikut kumpulan di sekitar tempat tinggal karena sibuk, jarang di rumah. Tetapi kontribusi sumbangan finansial di angka yang sangat besar, mampu membuat warga sekitar melakukan pemakluman. Artinya bobot ketidakhadiran, kalah besar dengan kontribusi sumbangan. Ini contoh, dan rumus ini juga berlaku dalam rumah tangga.

Amati saja. Saat hubungan rumah tangga, saling berorientasi “menuntut”. Saldo kontribusi masing-masing akan tekor. Sekali ada cekcok, luka langsung menganga. Ya itu tadi, “buat apa aku maklumi, kontribusi dia gak ada”. Sangat beda jika keduanya berorientasi “memberi”. Cekcok, hanya menjadi bumbu sewajarnya dan tidak sampai membuat luka. Kalaupun kata maaf harus terucap, hanyalah aspek formalitas saja.

Baca Juga :
Pentingnya Mahar dalam Ikhtiar Batin

Relasi hubungan manusia, aslinya sangat rumit untuk dijelaskan. Karena, sangat kompleks variabelnya. Yang jelas, waspadai jika sebuah relasi antar manusia, sudah sangat dekat. Karena kedekatan ini, adalah titik paling rentan dalam hubungan manusia dan kita perlu pandai menjaga jarak. Kapan menjauh sedikit, kapan mendekat. Sambil mengatur jarak, kita perbesar kontribusi memberi, sehingga derajat memaklumi, akan meninggi.

Manusia merupakan makhluk sosial yang hidup berinteraksi satu dengan yang lainnya. Interaksi sosial ini dimulai dari tingkat yang paling sederhana sehingga ke tahap yang lebih besar dan kompleks seiring dengan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat yang meliputi segala aspek kehidupan. Penerapan interaksi sosial dalam kehidupan bermasyarakat tidak selamanya berjalan selaras dan harmonis. Seringkali yang terjadi adalah perbedaan pemikiran, pendapat, dan keinginan antar manusia yang satu dengan yang lain.
Perbedaan ini kemudian menjadi cikal bakal lahirnya sengketa atau konflik/perkara dalam masyarakat. Konflik tersebut juga timbul dalam permasalahan perdata keluarga yang diantaranya adalah perceraian, perebutan harta gonogini, persengketaan tanah, hadhonah, dan perebutan hak asuh anak. Hal tersebut kemudian mendorong pemikiran modern untuk membentuk suatu mekanisme penyelesaian konflik sengketa perkara; mulai dari bentuk yang paling sederhana hingga menjadi suatu sistem yang dapat diselesaikan dengan beberapa diantaranya yaitu dengan cara alternatif.

Perkara adalah hal yang terjadi antara dua pihak atau lebih, karena adanya salah satu pihak yang merasa tidak puas atau merasa dirugikan. Pada prinsipnya pihak-pihak yang berperkara diberi kebebasan untuk menentukan mekanisme pilihan penyelesaian perkara yang dikehendaki.
Pihak-pihak yang berperkara diberi kebebasan untuk menentukan mekanisme pilihan penyelesaian perkara/konflik/sengketa yang dikehendaki, apakah akan diselesaikan melalui jalur litigasi pengadilan; ataupun melalui jalur non litigasi di luar pengadilan, yaitu cara alternatif tadi, bisa lewat kebatinan atau supranatural.

Bagi Anda yang tidak memiliki banyak waktu karena kesibukan bekerja, kerepotan dalam rumah, hectic oleh banyaknya schedule deadline kerjaan, keterbatasan waktu juga biaya, apalagi tidak menyukai hal-hal formalitas yang bikin ribet.
Tetapi mempunyai persoalan yang sangat menyita waktu karena secara substansial sangatlah krusial. Abah Rahman, seorang dukun dari Medan hadir dengan layanan ritual damai perkara.
Apa pun masalah Anda, lewat ritual ini mudah-mudahan dapat selesai secara baik dan memuaskan.
Dengan bantuan roh leluhur, ritual damai perkara Abah Rahman sangat aman dan nyaman untuk semua kalangan.

Baca Juga :
Menguak Keberkahan Rezeki dan Karir melalui Ritual Abah Rahman

Pada saat ritual melukat atau meruwat atau pembersihan diri di sebuah tempat sakral dimana di tempat itu terdapat makam dan banyak benda sakral atau mustika gaib yang diyakini memiliki kekuatan, Abah Rahman, dukun yang sekaligus seorang praktisi ajaran kuno Nusantara menjelaskan fungsi dan manfaat tiap-tiap makam juga benda keramat.

“Makam dan benda yang sebelah sana itu fungsinya untuk pendampingan atas ritual damai perkara karena telah memberikan saran dan petunjuk yang tepat kepada orang lain”, kata Abah Rahman.

Itu sebabnya banyak orang yang ingin tercerahkan lewat bantuan yang di dapat dari Abah Rahman oleh sebab permasalahan sulit yang sedang dihadapi. Layanan ritual damai perkara yang diberikan Abah merupakan layanan batin yang ditujukan bagi siapa saja yang sedang bermasalah dengan orang lain.
Kekuatan gaib yang berasal dari benda yang Abah Rahman tunjukkan sebelumnya dimanfaatkan untuk menerobos kebuntuan yang ada.

Abah Rahman telah berpengalaman dalam menghadapi kasus-kasus pelik nan rumit yang membelit orang-orang. Banyaknya permasalahan seperti masalah hukum, hutang piutang, perselingkuhan dan lain sebagainya, telah banyak dibuktikan dapat terselesaikan sampai ke akarnya secara gaib dengan kemampuan supranatural yang dimiliki Abah Rahman dan dirasakan langsung oleh orang-orang yang datang menggunakan layanan ritual damai perkara.
Apapun permasalahan Anda, lewat ritual damai perkara akan berakhir menyenangkan.

Banyaknya gaya hidup juga tuntutan hidup yang kian meninggi, membuat orang yang merasa lebih dominan bertindak secara seenaknya kepada orang lain yang dirasa dapat ditindasnya.
Terkadang manusia lupa, bahwa apa apa yang dilakukan hari ini terhadap manusia lainnya, akan mempunyai dampak di kemudian hari.
Mungkin benar jika kegelapan dapat menyembunyikan pepohonan dan bunga-bunga dari penglihatan kita, tetapi selalu ingat bahwa apa yang kita tanam bakal kita tuai. Apa yang kita sebar, akan kita panen pada suatu saat yang tepat dari semesta atau alam.

Baca Juga :
Pintu Gaib Terbuka Saat Dunia Krisis

Apakah hukum alam adalah: hasil akhir ditentukan oleh sebab-musabab?
Betul dalam banyak hal.
Namun pada gambaran yang lebih besar; hasil akhir sudah tentu; alam-lah yang akan mendukung hasil-akhir tersebut. Dengan menyelaraskan sebab-musababnya agar sesuai dengan hasil akhir yang ditetapkan oleh Dalangnya -kita hanya wayang; bayang uwong yang berjalan menelusuri sulur puhun.

Sebagian besar orang, punya kecenderungan untuk membenci gagasan. Gagasan untuk menerima bahwa mereka sendirilah yang bertanggung jawab atas sebagian besar masalah dalam hidup mereka.

Apa yang mereka tidak mengerti adalah sampai saatnya mereka mengenali ‘kekuatan’ dari mereka yangΒ  mereka gunakan dalam kehancuran hidup mereka sendiri dan menerimanya serta bertanggung jawab atas kekuatan itu. Mereka tidak akan dapat menggunakannya untuk merekonstruksi hidup mereka.
Teresa dari Calcuta pernah mengatakan, krisis terbesar yang dihadapi manusia jaman ini bukan terutama karena kekurangan makanan, tetapi merasa tidak dicintai dan tidak dipedulikan oleh sesamanya.
Karena manusia kekinian lebih mementingkan ego dan golongannya di atas segalanya. Sehingga tidak peduli dengan segala cara yang ditempuh demi mendapatkan apa yang diinginkan untuk kepuasan diri. Kedengaran miris dan sangat ironis tetapi ini adakah gambaran realitas hidup saat ini.

Nah, apabila Anda adalah orang itu, yang merasakan dan mengalami ketidakadilan itu. Jangan hanya meratapi masalah dan berdiam diri tanpa mencari jalan keluar.
Sementara alam raya telah memberikan solusi yang tepat melalui Abah Rahman dengan Ritual Damai Perkara.
Silahkan perjuangkan keadilan Anda melalui kekuatan supranatural dari Abah Rahman yang bisa dihubungi di nomor 0813 7630 6023.
Abah Rahman melayani dengan sepenuh hati lewat SMS atau WA untuk berkonsultasi.

Fiat Justitia Ruat Caelum
Hendaklah Keadilan Ditegakkan walaupun Langit akan Runtuh.(***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here