BUDAYA SUMPAH PEMUDA DASAR PERSATUAN BANGSA

0
318

Oleh: Mikael Pati

 

“Berikan aku 10 pemuda,niscaya akan aku guncangkan dunia.” Ini adalah sepenggal kalimat yg keluar dari mulut proklamator bangsa, Ir.Soekarno.
Jika ditelaah kalimat ini memiliki arti yg sangat mendalam dalam konsep perjuangan bangsa.Dimana sang Proklamator mengharapkan, mendambaka, dan menginginkan pemuda/i berpatisipasi dalam pergerakan bangsa Indonesia.

Secara pastinya tentu terealisasi keinginan itu dimana ditunjukan oleh pemuda/i pada Tanggal 28 oktober 1928 Dengan lantangnya mereka teriakan perbedaan sebagai dasar perjuangan yg dituangkan dalam wadah persatuan yaitu : “Berbangsa yg satu, Berbahasa yg satu, Bertumpah darah yang satuh.”

Konsep yang mendasar pada pola pikiran dan perilaku bangsa. Para pemuda/i tdak menjadikan perbedaan sebagai ajang perpecahan. Pada realitanya tak dapat dipungkiri tentang heterogennya negara kita , Indonesia.
Namun hal itu tda menjadi hambatan bagi pemuda/i untuk berjuang. Secara mati- matian mereka ciptakan benang persatuan yg mengikat perbedaan. Para tokoh pergerakan selain pemuda/i pun berpegang teguh pada budaya
“Sumpah Pemuda” 28 oktober 1928 ini.

Hingga jelaslah ketika nasionalisme bangsa terungkap pada hari bersejarah sepanjanng masa ” kemerdekaan indonesia tahun- 45 ” Hal ini menggambarkan betapa pentingnya persatuan dalam perjuangan.

Nahhh… sekarang marilah transformasikan sejarah kedalam konteks masa mileneal ( masa sekarang ini – abad 21 ) . Pada abad ke 21 ini justru kerusuhan, kriminalitas, dan kejahatan dipelopori kaum pemuda/i. Selalu didasari oleh indivudualis , fanatis , dan eksklusifitass.

Perbedaan sudah dijadikan dasar dalam hidup. Para pemuda/i yg diharapkan menjadi generasi penerus bangsa berdasarkan persatuan, Generasi yg mampu sejahtrakan negara dan membawa indonesia ke mata dunia justru sudah sangat kalut.

Perjuangan para pahlawan sudah dielakan teriakan proklamator telah dibungkam. Pemuda sering menjadi dalang masalah, mereka selalu menciptakan Demokratisasi negatif. Indonesia yang telah dirintis beabad – abad dihancurkan sekejap mata.

Baca Juga :  Teori Habermas Menuju Masyarakat Komunikatif

Disini budaya “Sumpah Pemuda” sudah pudar, Pemuda/i di abad 21 ini tidak mengerti pentingnya persatuaan.

Ir.soekarno berseru ” Kini aku berjuang sekuat tenaga untuk memerdekakan Negaraku namun di masa akan datang masyarakatku akan menjajah negaranya sendiri.”Ungkapan ini sesuai dengan realita indonesia abad 21 sekarang . Pemuda/i menghancurkan Indonesia, mereka tak mampu berpikir kritis,kreatif dan inovativ dalam bertingkah dan berpikir.

Mereka lebih utamakan keinginan dari pada kewajiban.Anak sekolah (SD, SMP ,SMA) yg seharusnya diruangan Kelas dan mendengarkan pelajaran malah berkomplotan dengan para perokok di Deker – deker
Mahasiswa yang diharapkan bisa menjadi oknum yg membawa perubahan malah hanya mau mencari kesenangan dan bergaul dengan alkohol.

Pertanyaannya : Mau jadi apa generasi seperti itu ?

Perpecahan suda sangat subur di kalangan masyarakat , penistaan agama terjadi dimana mana tak kalah pula penindasan dan perendahan martabat.

Namun kini budaya bangsa “Sumpah Pemuda ” telah lahir kembali dan Di usianya yang ke 92 ini , maka marilah kita para pemuda/i menghidupkan kembali pentingnya nilai persatuan agar kita mampu menjadi generasi penerus bangsa yang telah merdeka lahir dan batin serta menjadi masyarakat yang bermartabat. Marilah kita bangkit dari keterpurukan. Marilah kita jadikan perbedaan sebagai dasar pijakan hidup.

Janganlah selalu bermimpi dalam kekalahan dan kesalahan bangunlah dari mimpi buruk itu dan jadilah individu yang berguna dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara . Seorang ahli pernah berkata : ” orang yg melupakan budayanya berarti hatinya masih terjajah.” Oleh karena itu kita sebagai individu yang telah merdeka, jadikanlah budaya “sumpah pemuda ” sebagai dasar berpikir dan bertingkah laku.

Indonesia akan selalu utuh karnah kita setia untuk bersatu.
Indonesia akan selalu maju ketika kita para pemuda dan Pemudi mengagungkannya.

Baca Juga :  Hapuskan Segala Bentuk Pelanggaraan Ham Di Wilayah Papua

Penulis adalah Pelajar SMAS Pancasila Borong NTT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here