Keluarga Besar Op Jeremias Berencana Polisikan Kades Banuarea Tarutung, Dugaan Penyerobotan Tanah

0
2069

Tapanuli Utara-ZonadinamikaNews.com.Upaya mediasi yang dilakukan oleh pihak kepolisian melalui petugas Kamtibmas Desa Banuarea Tarutung oleh Bapak Siregar terhadap keluarga Op Rud Siahaan dengan kepala Desa Banuarea Hermanto Hutapea, terkait dugaan penyerobotan sebidang tanah yang berlokasi di Aeksitasi. Keluarga besar almarhum Op Jeremias yang diwakili oleh Guru HP/ Op Rud Siahaan, Jamangantar.S.Pd,Drs.Parni Hutapea,Paber Hutapea, melakukan aksi perlawanan terhadap Hermanto Hutapea selaku kepala Desa Banuarea Tarutung , Kabupaten Tapanuli Utara,Provinsi Sumatera Utara.

Nyonya Hutapea (alm) atau Op Rud Siahaan, mengatakan bahwa pihaknya pada 1 September 2020 menggelar acara mediasi di rumahnya yang dihadiri oleh Siregar selaku Kamtibmas dari kepolisian dan  juga dihadiri oleh sejumlah keluarga, namun Saat mediasi, Hermanto Hutapea belum bisa hadir dengan alasan sedang rapat di kantor camat Tarutung.

Sambil menunggu kepala desa datang, Siregar selaku petugas Kamtibmas (Polmas) mengajak kami  untuk meninjau lokasi dengan tujuan untuk saling menunjukkan bata-batas hak kepemilikan. Sayang, saat dilokasi terjadi ketengangan antara Paber Hutapea dengan keluarga Kepala desa yang mengklaim bahwa tanah tersebut sudah di beli dan ada surat-suratnya.

Pihak keluarga kepala Desa yang diduga diwakili oleh adek kandungnya, mengklaim bahwa tanah tersebut sudah hak mereka dan sudah dibeli, namun oleh Paber Hutapea balik bertanya, kapan dan dari siapa tanah tersebut dibeli dan siapa yang tanda tangan pemilik tanah antar batas-batas, karena setiap pembelian tanah bahkan dalam pembuatan dokumen atau surat tanah harus jelas tanda tangan pemilik tanah batas yang kita miliki.

Namun jawaban dari pihak Kepala desa dinilai tidak memuaskan dan terkesan untuk menang sendiri, dengan mengatakan, “Kamu tidak perlu tahu soal itu” jawabnya dalam melayani adu argumen dari Paber Hutapea, dan saya tegaskan, jangan bilang bahwa Paber Hutapea tidak ada hubungan, itukan adek saya, saya tegaskan pada mereka, kata Op Rud Siahaan menangkis atas tuduhan pihak kepala desa, bahwa Paber Hutapea tidak ada hubungan dalam tanah tersebut.

Baca Juga :  Penggunaan Dana BOS SD N 173565 Parsambilan Dituding Tanpa Rapat Komite Sekolah

Op Rud menambahkan, usai cek lokasi, Hermanton Hutapea selaku kepala desa, akhirnya datang dan berkumpul kembali di rumah kami, dan dalam pertemuan tersebut Hermanto lebih banyak diam, dan katanya membawa surat tanah, namun tidak berani menunjukkan pada saya, yang ditunjukan hanya pada Bapak Siregar Kamtibmas (Polmas). Bahkan waktu saya tegaskan, kenapa saudara saya meminta bukti surat kepemilikan kepada kalian, tapi tidak mau mengirim, sekarang kalian mengatakan ada, memang kalian hebat ya. Namun dengan angkuhnya adek kades bernama Rico menjawab “ Ya memang kami hebat”. Kata Op Rud menirukan jawaban keluarga sang kades.Dan bila tidak ada titik temu dengan cara baik-baik, kami sebagai ahli waris tidak menutup kemungkinan akan menempuh jalur hukum atau membuat laporan polisi, tegas Op Rud.

Hal yang sama juga ditegaskan ahli waris diperantauan mereka tidak terima sedikitpun bila sampai ada yang hilang peninggalan leluhurnya,dan  mengaku, jauh sebelumnya dirinya sudah melakukan komunikasi dengan kepala desa (Hermanto-red) terkait klaim kepemilikan lahan tersebut.

“Saya perna menanyakan atas keberadaan surat tanah tersebut kepada Hermanto, dan saat itu berjanji akan mengirim bukti kepemilikan dan juga bentuk kwitansi, namun hingga saat ini tak kunjung dikirim, bahkan Hermanto mengaku, bahwa almuhum guru (HP) juga ada tanda tangannya, namun ketika saya konfrontir kembali kepala Op Rud Siahaan yang juga ahli waris, atas pengakuan Hermanto bahwa alm guru HP ikut serta tanda tangan pembelian, saat itu juga Op Rud Siahaan dengan tegas membantah dan mengatakan, bahwa itu tidak benar, dan menuding itu hanya akal-akalan kepala desa, artinya almarhum guru tidak perna menandatangi surat terkait tanah tersebut” tegas ahli waris.

Seraya menambahkan, bahwa dirinya juga perna menegaskan pada  kepala desa, segala sesuatu dalam pembuatan surat tanah, para ahli waris, baik itu antara batas-batas tanah juga harus ada tanda tangan, sekarang surat yang dimiliki oleh Hermanto ada tidak tanda tangan itu, kalau tidak ada, atau ada, kemungkinan ada dugaan pemalsuan tanda tangan, ini  harus di selesaikan secara hukum, yang jelas, dimana-mana dan setiap kantor desa segala bentuk petah atau leter C tanah selalu ada, siapapun kepala desanya, karena leter C tersebut merupakan dokumen negara. Tegas ahli waris yang tinggal di Jakarta dan bergelut dalam hukum tersebut.

Baca Juga :  Daulae: Berani Tidak Kapolda Kepri dan Faisal Tunjukan Bukti Sertifikat Pada Saya.

Perlu diketahui, kata Ahli waris, Bukti kepemilikan tanah jaman dahulu, adalah Letter C.Jika Letter C hilang oleh pemilik sebelumnye, maka ahli waris bisa melihat di buku tanah yang dimiliki seluruh desa dan disalam buku tanah jelas ditulis nama pemilik awal. Jika sebagian tanah dijual oleh pemilik,maka dicatat oleh kantor desa dalam buku tanah.Jika seseorang membeli tanah yang statusnya Letter C, dan akan meningkatkan menjadi Akta jual beli atau sertifikat, maka seluruh ahli waris harus menandatangani berkas Fatwa waris.

Sebaliknya, Jika ada salahsatu ahli waris tidak menandatangani berkas Fatwa waris, maka status Letter C tidak bisa ditingkatkan menjadi Akta jual beli ( AJB) atau sertifikat hak milik ( SHM).

Kita tahu, bahwa Bukti kepemilikan jaman dahulu namanya Letter C.Buku tanah sudah ada sejak jaman dahulu, dan tetap harus ditempatkan di kantor desa, walaupun kepala desa sudah berganti-ganti. Letter C ditingkatkan menjadi AJB atau SHM, prosedurnya bisa melalui notaris, bisa juga melalui kecamatan, caranya semua ahli waris harus menandatangani surat pengajuan,kemudian dilakukan pemeriksaan lokasi dan pengukuran oleh pihak BPN disaksikan aparat desa, aparat kecamatan, dan ahli waris.

Lebih jauh ahli waris menambahkan, Jika seseorang membeli tanah berstatus Letter C, dan akan meningkatkan menjadi AJB atau SHM, maka harus ada tandatangan pemilik lama, jika pemilik lama sudah wafat, maka semua ahli waris yang harus tandatangan di berkas fatwa waris. Dan Saat terjadi pengukuran tanah, harus ada ahli waris atau pemiliknya, juga pemilk tanah yang bersebelahan ( utara,selatan,timur,barat) menyaksikan pengukuran tanah,agar tanah orang lain yang berbatasan, tidak digeser atau diambil.

Sekali lagi, waktu saya telepon kepala desa Hermanto Hutapea, mengaku punya bukti kepemilikan berdasarkan surat/kwitansi jual beli yang disaksikan dan ditandatangni juga oleh guru Heler Hutapea, dan mengatakan akan mengirimkn fotonya, tapi sampai hari ini tidak mengirimkannya. Bisa Hutapea juga mengatakan bahwa bangunan yang dibikin oleh kerabat Kepdes Hermanto Hutapea, sudah menggeser batas tanah Aek Sitasi dan mengambilnya, karena Bisa Hutapea adalah orang yang menjual tanah pada kepdes Hermanto Hutapea.

Baca Juga :  LSM LPAKN RI Madina Resmi Laporkan Dugaan Korupsi Kades Huta Damai ke Polda Sumut

Ahli waris menduga, klaim Hermanto Hutapea memiliki surat tanah dan siap mengadu data dan ahli waris Aek Sitasi walaupun tidak punya bukti kepemilikan tanah, tapi bisa dilihat dalam buku tanah dulu kantor desa. saya menduga, kepdes berani membuat bangunan tersebut karena tahu  bahwa ahli waris  tidak memegang bukti kepemilikan atas tanah Aek sitasi,sehingga menganggap aek sitasi adalah tanah tidak bertuan alias tidak ada pemiliknya.

Siregar selaku Kamtibmas Desa Banuarea Tarutung yang mengadakan mediasi antara keluarga waris dengan Hermanto Hutapea, ketika dikonfirmasi via pesan singkat aplikasi whaatsApp, kurang merespon dan balik bertanya” dapat dari mana no saya pak? Yang penting tidak menyagunakan pak jawab wartawan, saya tahu pak, Cuma kita harus tau juga orangnya pak, biar bagus komuniikasinya pak.jawab Siregar.

Sebelumnya, Hermanto Hutapea Kepala Desa Banuarea Tarutung ketika dikonfirmasi wartawan via telepon selulernya mengatakan, bahwa dirinya melakukan pembangunan di atas atas tanah tersebut karena punya dasar hukum dan memiliki surat hak kepemilikan.

“Kita punya suratnya, kalau mereka punya surat tanah juga, ya ayo kita adu saja suratnya dan bisa juga dilakukan cek ke lokasi” Jawab Kepala desa diujung telepon. 31/08.200. (tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here