Makna Kemerdekaan Untuk Milenial

0
232

Oleh: Adi Saputra

Dalam historical bangsa, kemerdekaan bangsa tidak semerta merta didapatkan dengan kemudahan begitu saja. Namun sarat akan pertumpahan darah dan nyawa para pahlawan dalam perjuangan. Penjajahan kaum kolonial terhadap bangsa sangatlah memakan waktu cukup lama. Dimulai dari penjajahan bangsa portugis sampai jepang bukanlah memakan waktu yang singkat. 350 tahun belanda menjajah dengan misi 3G nya, dan kurang lebih 50 tahun jepang menjajah dengan misi “tanam paksanya”. Penderitaan dan kesengsaraan rakyat kala itu cukup membuat bangsa ini menderita.
Soe Hok Gie mengatakan, “kemerdekaan adalah ibarat gedung yang kosong, dan perlu diisi dengan hal hal yang bermanfaat”. Pendapat Gie ini cukup relevan untuk kita renungkan. Apakah kita telah mengisi dengan sesuatu yang bermanfaat atas kemerdekaan ini? Atau justru bangsa lain yang mengisinya? Hal itu jangan sampai terjadi.

Kemerdekaan Indonesia bukanlah sebuah hadiah dari penjajah Belanda yang sangat lama menguasai bangsa. Artinya di situ ada unsur perjuangan untuk meraih kemerdekaan tersebut. Para pemuda saat itu telah menyadari perlunya kemerdekaan untuk mewujudkan keinginan luhur, yakni kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, mereka berjuang sekuat tenaga agar terwujud Negara Indonesia.

Perspektif sejarah ini dapat dijadikan pelajaran oleh milenial saat ini. Setidaknya ada lima butir penting yang terus dapat dijadikan teladan. Pertama tentang semangat juang dan kesungguhan untuk meraih cita-cita. Kedua tentang kecintaan para milenial saat itu terhadap bangsa negara Indonesia. Ketiga keinginan luhur agar generasi penerus bisa menikmati kemerdekaan, hidup tanpa penjajahan. Keempat kesadaran bahwa penjajahan tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Kelima persatuan bangsa yang tidak tersekat oleh sara.

Kelima butir pelajaran itu sebenarnya bersifat universal dan tidak lekang dengan waktu. Universalismenya dapat dilihat dari aspek kemanusiaan yang tidak terbatas hanya untuk bangsa Indonesia saja. Bahwa penjajahan di muka bumi ini harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Ini luar biasa.
Para milenial saat ini tentu bisa memetik pelajaran disesuaikan dengan perkembangan zaman. Tentunya persenjataan yang dipergunakan serta taktik dan strateginya berbeda. Akan tetapi esensinya sama terutama dalam hal kesungguhan, persistensi, semangat dan daya juang.

Baca Juga :  BPD dan Desa

Dewasa ini, kompleksitas ekonomi sangat memerlukan kreativitas dan inovasi. Bila dulu kita bersemboyan ‘merdeka atau mati’ saat ini bisa saja ‘inovasi atau mati’, innovation or die. Sudah banyak contoh perusahaan raksasa yang harus gulung tikar karena kehilangan inovasi. Mereka menganggap kekayaan berlimpah akan mengokohkan perusahaan. Kenyataannya tumbang dan hilang tanpa kesan. Semua ini harus dikaji secara detil. Artinya, inovasi dan sains-teknologi harus bersatu.

Selain itu perlu adanya pendidikan yang kreatif, lembaga pendidikan sejak dasar sampai perguruan tinggi dapat memberikamn pelajaran perspektif sejarah untuk membangun masa depan. Tetapi jangan terus-terusan di lembaran lama. Perlu membantu kaum milenial untuk melihat jauh ke depan. Materi-materi masa depan dapat diambil dari perkembangan sosial ekonomi dalam dan luar negeri. Milenial dapat juga belajar dari kekacauan negara lain akibat kesalahan memandang sebuah ajaran. Optimisme harus tumbuh dan berkembang yang didukung oleh guru, dosen, dan ekosistem pendidikan. Para guru dan dosen jangan terjebak pada pendekatan indoktrinasi satu arah yang menutup ruang kreativitas dan daya imajinasi siswa/mahasiswa.
Dewasa ini sumber belajar (learning resources) dapat diambil dari berbagai negara melalui pemanfaatan teknologi informasi. Peserta didik bisa melihat dan mempelajari secara lebih detil tentang berbagai kejadian dan kasus-kasus pemanfaatan sains dalam berbagai aspek kehidupan.

Internet of things (IoT) bisa dioptimumkan untuk pengembangan ekonomi berbasis sumberdaya lokal yang sangat kaya. Para milenial dapat menghubungkan kebutuhan pasar dengan industri rumah tangga atau UKM. Untuk itu kolaborasi antara bagian hulu (produksi, proses pembuatan produk, kemasan, pasokan) dan bagian hilir (kebutuhan pasar) dapat dibantu dengan IoT. Pola ini bisa merambah ke pasar global. Model bisnis baru ini selain dibuat simulasinya, juga diujicobakan di daerah dengan mengundang sumber modal ventura atau pola funding bersama.

Baca Juga :  Pilkada Kota Gunungsitoli Merupakan Lagak Ayam Kerakyatan

Kaum milenial dapat dilibatkan secara kreatif mencari solusi persolan daerah, urbanisasi, brain drain, kesenjangan kota-desa, keterkaitan antar lembaga pemerintah dan sektor usaha dengan potensi sumberdaya alam lokal. Saat ini mulai berkembang usaha pariwisata berbasis perumahan setempat. Selain informasi dilakukan lewat IoT, juga perlu pembinaan-pembinaan rumah-rumah penduduk supaya menjaga kebersihan, keamanan, ketertiban, dan layanan menyenangkan. Suguhan-suguhan kuliner lokal dan keindahan alam dapat dikemas menjadi paket wisata.

Para milenial dapat juga diberi ruang untuk membantu menyelesaikan persoalan kekurangan air di beberapa daerah. Teknologi-teknologi pemanenan garam, budidaya perikanan, bisnis jagung, peternakan unggas dan agribisnis lainnya dapat melibatkan kaum milenial yang saat ini tidak mempunyai pekerjaan.

Pembangunan desa dan daerah terpencil dapat melibatkan universitas agar ada sistematika program secara berkelanjutan. Misalnya kampus-kampus daerah ikut membantu upaya pengentasan kemiskinan, peningkatan kesehatan, dan perekonomian daerah. Para milenial yang saat ini sedang belajar di Perguruan Tinggi jangan hanya menjadi penonton pasif. Sistem pendidikan tinggi jangan terlalu terjebak pada indikator-indikator yang dimainkan oleh negara-negara asing. Kita sendiri harus berani melakukan terobosan sistem dengan kekuatan internal. Selamat hari kemerdekaan wahai pemuda bangsa. Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 75. Merdeka!

penulis adalah:Ketua Karang Taruna Kecamatan Ulakan Tapakis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here