Mahasiswa UIN Ini Bayar Kuliah Pakai Sekardus Uang Logam

0
169

TANGSEL – Zonadinamikanews.com. Pandemi virus corona (Covid-19) telah mengganggu perekonomian warga di Indonesia. Salah satu yang mengalaminya adalah keluarga Saeful Margasana yang tinggal di Tangerang Selatan (Tangsel).

Saeful merupakan mahasiswa di Universitas Islam Negeri (UIN) Syatif Hidayatullah Jakarta. Ia mengatakan ayah ibunya tak memiliki uang untuk membayar uang kuliahnya sehingga Saeful terpaksa membongkar celengan. Celengan Saeful Margasana sejak 2016 itu berisi uang koin atau dikenal dengan sebutan uang logam pecahan Rp1.000.

Namun karena seluruhnya uang koin, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini tidak bisa begitu saja langsung menyetorkan ke bank guna pembayaran. Dibantu ibunya, Saeful harus menghitung satu per satu koin tersebut, lalu menyatukannya per Rp100.000 dalam satu plastik agar mudah disetorkan ke bank.

Video saat mahasiswa semester lima ini hendak menyetorkan uang koin Rp1.000 satu kardus untuk membayar uang kuliah menjadi viral di media sosial. Saeful terlihat sempat berteduh di sebuah bangunan karena hujan deras, dalam perjalanan menuju salah satu bank yang ada di Balaraja, Tangerang.

Saeful mengaku, setelah sampai di bank, awalnya petugas bank kaget karena dirinya hendak menyetorkan uang kuliah dalam bentuk uang logam. Apalagi, uang koin senilai Rp3,5 juta tersebut dalam satu kardus, membutuhkan waktu lama untuk menghitungnya.

“Pas udah ke teller, teller nanya mana duitnya. Pas teman ngangkat satu kardus, tellernya bilang, uangnya receh koin ya. Iya saya bilang. Tellernya bingung. Saya bilang, udah dibagi kok per Rp100.00 dan sisanya ditimbang. Tellernya bilang, enggak ada timbangannya,” kata Saeful saat ditemui di Tangerang, Selasa (18/8/2020).

Dia akhirnya terpaksa menukarkan terlebih dulu sekardus uang logam itu ke lima mini market terdekat dari bank. Setelah itu, dia kembali lagi ke bank untuk menyetorkan uang kuliah semester limanya.

Baca Juga :  STIS Dayah Amal Peureulak Wisuda 245 Lulusan

“Saya nukar ke mini market itu ada yang Rp1 juta, ada yang Rp500.000 dan Rp1,5 juta,” katanya.

Saeful Margasana mengatakan, ide membongkar celengan itu pertama kali muncul dari ayahnya. Berawal dari saat dia meminta uang untuk membayar uang kuliah. Namun, kondisi pandemi membuat orangtuanya tidak punya uang. Sang ibu tidak bisa berdagang karena sekolah tutup dan usaha ayahnya juga tidak lancar.

(abp/sindonews)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here