Pemuda Sebagai Transformasi Kepemimpinan

0
285

Oleh : Adi Saputra

Masih Sangat banyak yang perlu di bahas tentang politik Indonesia. Bicara soal politik tentunya bicara tentang pemimpin dan kepemimpinan, sejauh ini Indonesia tampak belum berani memberikan peran kepada kaum muda untuk memimpin di pemerintahan. Bisa kita lihat di beberapa daerah hinga pemerintah pusat masih sedikit kaum muda yang dapat kesempatan untuk berkontribusi terhadap pemerintahan. Selain itu, baru-baru ini Sumatera Barat kedatangan sosok kaum muda, Faldo Maldini yang siap berkompetisi pada Pilkada serentak 2020. Faldo sudah kampanye di banyak titik di Sumatera Barat, tentu banyak bentuk pengorbanan yang telah di lakukan. Namun faldo gagal untuk melanjutkan perjuanganya menuju kompetisi pilkada 2020 yang dikarnakan usia Faldo masih 29 tahun, sedangkat untuk maju sebagai calon gubernur dalam pilkada harus memiliki usia paling rendah 30 tahun.
Namun datangnya pandemi Covid sehingga mengharuskan penundaan pilkada yang mulanya akan di adakan 23 September 2020 di tunda hingga 9 Desmber 2020 memberikan peluang kepada Faldo untuk kembali maju sebagai bakal calon gubenur.

Lalu kita coba juga melihat ke negara tetangga, Malaysia. Malaysia memiliki menteri paling muda Syed Shaddiq yang dipercayai memegang posisi Kementerian Pemuda dan Olah Raga di saat baru menginjak usia 25 tahun. Disini tampak betuk bahwa anak muda negara tetangga sudah diberi kesempatan untuk berkontribusi nyata pada pemerintahan.
Sangat menarik dari terpilihnya kembali Mahathir Muhammad sebagai Perdana Menteri Malaysia. Bukan karena faktor usianya yang hampir mencapai satu abad, tapi lebih karena keberanian dan kepercayaannya terhadap generasi penerus bangsa, kaum muda. Sehingga Sang Perdana Menteri memberikan kesempatan dan mengangkat dua menteri yang tergolong sangat muda. Selain Syed Shaddiq, ada pula perempuan muda yang juga diangkat untuk menjadi menteri bernama Yeo bee yin sebagai menteri bidang tenaga, teknologi sains, perubahan iklim dan alam. Dan mengejutkannya lagi, bukan saja karena dari segi usia mudanya, jika di bandingkan dengan menteri di Indonesia hampir berbeda 2 kali lipat tapi lebih menyoroti kepercayaan peran jabatan yang berpengaruh besar dalam tataran kemajuan peradaban bangsa di masa depan.

Baca Juga :  Ikhtiar Batin Buka Aura Jodoh

Ini membuktikan, bahwa estafet transformasi kepemimpinan telah terjadi di Malaysia. Walaupun, kita mesti akui, pemimpin puncaknya belum terlihat berubah. Namun, realitas dalam mempercepat tenaga lokomotif pemerintahan agar lebih berani, gesit, dan progresif, Sang Perdana Menteri sepertinya sadar akan kekuatan kaum muda tersebut. Pertanyaannya, bisakah di negara kita Indonesia diadaptasi?
Tidak kalah fenomenalnya, seorang perempuan bernama Shamma Al Mazrui dari negara federasi Uni Emirat Arab mengemban amanat pejabat Menteri Pemuda pada usia 22 tahun! Masih ada beberapa tokoh pemerintahan negara lain yang juga tak kalah terbukanya terhadap generasi muda yang dahulu pernah dipercaya memegang posisi strategis.

Dari sekian banyaknya estafet kepemimpinan bergulir kepada kaum muda, mengapa bangsa kita Indonesia sepertinya enggan memberikan kesempatan? Ataukah begitu tidak profesional dan tidak pantaskah kaum muda ikut andil dalam memajukan bangsa? Ataukah, generasi senior negara kita terlalu takut kehilangan pengaruhnya.
Melihat permasalahan bangsa kita yang kian kompleks dan menantang, sudah saatnya pemerintah berkolaborasi dan memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk duduk sebagai policy maker. Langkah strategis tersebut dengan membuka sebuah kesempatan kepada kaum muda untuk ikut berkontribusi pada pemerintahan. Paling tidak pemerintah memberikan jabatan strategis di struktur pemerintahan agar lebih memahami psikologi kaum muda yang kini sangat berbeda akibat gelombang inovasi teknologi. Cara berpikir dan budayanya tentu memiliki tantangan tersendiri. Dibutuhkan figur dengan profil yang hidup di era yang sama, sehingga nantinya pemecahan dan pengelolaan permasalahan tentunya lebih selaras.

Apakah ini bisa terjadi di negara kita Indonesia? Ini semakin dimungkinkan, sebab perubahan struktur penduduk Indonesia mengalami bonus demografi sehingga generasi produktif kaum muda kian meledak. Jelas lebih banyak kaum muda menjadi pilihan, dan generasi ini pulalah nantinya yang akan menjadi generasi emas di masa depan.
Jika kita perhatikan lebih dalam, sangat banyak pemuda-pemuda negara kita yang memiliki kemampuan dalam memimpin, contohnya banyaknya organisasi masyarakat yang di dalamnya di isi oleh sosok pemuda yang memiliki pemikiran yang segar, tentunya ini menjadi bentuk pembelajaran bagi pemuda dalam mengasah mempuan dalam memimpin.
Apalagi, sejarah telah membuktikan kaum muda memiliki peran krusial dan hal tersebut kini juga telah banyak diterapkan di negara lain. Lalu, tidak ada salahnya untuk dicoba dan di mulai di Indonesia. Jika solusi tersebut memiliki risiko, hal tersebut merupakan hal yang lumrah. Di belahan bumi mana kebijakan atau keputusan tidak memiliki risiko? Perubahan besar tentu memiliki risiko. Ada konsekuensi dalam menerima hasilnya. Namun jika bukan dilaksanakan sekarang, sampai kapan negara ini menunggu gebrakan dari kaum muda?

Baca Juga :  Bermunajat Ketika Terdzalimi, Lebih Di Ijabah?

Peran kaum muda perlu di perhitungkan dengan memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada kaum muda untuk ikut andil dalam berkontribusi terhdap kemajuan bangsa dan pemerintahan. Bukankah Bung Karno pernah berpesan, beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia? Tentu saja dengan regenerasi tersebut bukan berarti tokoh pemimpin yang lebih senior akan kehilangan kesempatan untuk tetap berkontribusi pada kemajuan bangsa, namun sangat terbuka kemungkinan para tokoh pemimpin senior bisa menjadi mentor atau partner karena memiliki jam terbang pengalaman berbeda.

Penulis Adalah : Ketua Karang Taruna Kecamatan Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here