Drs.Rivai Nasution Sosok Calon Pemimpin Masa Depan Labusel

0
312

LABUSEL-ZonadinamikaNews.com.
Sosok dari Drs Rivai Nasution dimata aktivis dan masyarakat Labusel sudah tidak asing lagi, Rivai sangat dekat dengan ulama dan beliau juga pekerja keras dimulai dari penarik beca sampai dengan pedagang asongan terus menimbah ilmu sampai kerusia.

Pria yang satu ini pernah menggeluti dunia dengan menarik beca. Fostur tubuhnya yang bongsor dengan kulit yang rada-rada putih ternyata tidak mampu menepis sejumlah pengalaman pahit yang cukup berharga baginya hingga saat ini.

Mantan si penarik beca ini rupanya sudah malang melintang menginjakkan kakinya ke sejumlah negara, termasuk ke Rusia dalam mengikat hubungan kerjasama Pemerintahan Kota Medan.

Ini cara dan kesempatannya membangun bangsa sekaligus menambah deretan catatan pengalaman hidup yang dijadikannya sebagai guru dalam hidupnya.

Dia adalah Drs Rivai Nasution MM, anak dari H Maksum Nasution dengan Hj Siti Rahmah Dasopang (keduanya telah almarhum), kelahiran Kotapinang 31 Desember 1961.

Roda kehidupan pasti berputar, menjadi motivasi bagi kegigihannya dalam berjuang yang pantang menyerah dalam meraih sukses dalam kehidupannya.

Bermodalkan tekad yang kuat dan penuh keyakinan, Rivai kecil meninggalkan kampung kelahirannya dan merantau ke Kota Medan. Ketika itu ia baru saja menyelesaikan pendidikannya di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) tahun 1976.

Namun, keinginannya untuk melanjutkan pendididkan ke bangku SMA di Medan ternyata kandas tanpa mendapat restu orangtua yang ketika itu lebih menginginkannya membantu kedua orangtuanya berusaha kedai sampah di kampung halaman. Setahun Rivai memilih tidak sekolah membantu jualan kedai sampah sesuai keinginan orangtuanya.

Cerita Rivai, saat teman-teman sekolahnya kembali dari perantauan mudik, ia merasa sedih tanpa terasa air mata menetes dan hati berkata-kata, “Andaikan aku dapat seperti mereka tentu kini saatnya pulang mudik bersama”.

Baca Juga :  Band Equaliz: Setelah Tampil di Bali, Siap Luncurkan Mini-Album

Namun dengan dorongan dari hati ia bertekad untuk berjuang kembali melanjutkan pendidikannya dengan tekad tidak ada kata terlambat. Rivai mengukir cita-citanya untuk menjadi orang sukses sehingga kembali merantau ke Medan.
Tinggal bersama abangnya beberapa bulan di Medan, berikut ia tinggal bersama neneknya di seputaran Jalan Bakti Medan, Rivai yang akrab dipanggil Ucok, melanjutkan pendidikannya di Sekolah Menengah Atas (SMA) Ksatria sebelum akhirnya menyelesaikan pendidikan di SMA Taman Siswa Jalan Tilak Medan.

Meski tinggal serumah dengan neneknya bukan berarti ia bisa bermanja-manja. Tetapi malah membuat dirinya hidup serba teratur dan penuh disiplin. Ia juga sadar diri sebagai anak dari keluarga kurang mampu tinggal di perantauan sekalipun tinggal bersama neneknya.

Setiap hari ia harus bangun pagi, mengerjakan salat Subuh di Masjid Quatul Muslimin Pasar Merah dan membantu menyapu halaman rumah nenek. Kemudian ia berangkat ke sekolah. Itulah hari-harinya.

Tidak terlalu pintar tapi juga tidak terlalu bodoh, di sekolah Rivai termasuk anak yang pandai bergaul. Ia disenangi banyak teman karena sederhana, pintar bernyanyi dan pandai pula melantunkan bacaan Alquran serta Rebana.

Sehinga manakala ada peringatan Maulid Nabi ataupun Israk Mikraj di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggalnya ia selalu diminta untuk membawakan gema Wahyu Ilahi.

Bahkan ketika ada acara pesta perkawinan, penabalan nama anak ataupun acara khitanan ia selalu dipesan bersama teman-temannya yang lain untuk membawakan Barzanji dan Marhaban. Maklum saja, ia termasuk Qari, kendatipun masih dalam kategori kelas kampung.

Berkat kepiawaiannya itu serta pandai bergaul, membuat ia dipercaya menjadi Sekretaris Remaja Masjid Quatul Muslimin (RMQM) Medan. Rivai memang tidak pernah merasa lelah atau menyerah dan pasrah dengan keadaan.

Baca Juga :  UPK-DAPM “MITRA MAKMUR SEJAHTERA” Kecamatan Pakisjaya Lakukan Santunan Yatim Dan Jompo

Meski telah letih belajar di sekolah, namun ia tidak pernah menyia-nyiakan waktu untuk mencari uang demi membiayai pendidikannya.

Sepulang dari sekolah, ia sempat bekerja di panglong mempletur dan mengecat bangku sekolah sebagai tambahan biaya sekolah bahkan pada malam harinya ia sempat menarik beca dayung hingga larut malam. Melihat ia sering pulang larut malam akhirnya neneknya menawarkan Rivai untuk membuka kios rokok di depan Wisma Umum Jalan Bakti Medan.

Pekerjaannya ini hampir berjalan selama tiga tahun. Bahkan ketika mudik ke kampung menjelang Hari Raya Idul Fitri, banyak masyarakat pergi liburan ke tempat hiburan di kampung ia memanfatkan momentum tersebut untuk mendapatkan uang yang halal dengan menarik beca mesin abangnya sendiri.

“Lumayan, hasilnya bisa untuk biaya sekolah dan jajan sehari-hari,” kenang Rivai.
Rivai juga tak pernah merasa gengsi dengan segala pekerjaan yang ia lakukan yang terpenting menurutnya halal sekalipun ada orang yang menganggap pekerjaan yang dilakukannya itu hina.

Sehingga manakala berlangsung pertandingan sepakbola di Stadion Teladan Medan memperebutkan Piala Marah Halim Cup, ia tak malu-malu menjajakan dagangan telur asin dan es lemon di dalam dan di luar Stadion.

Meski getol cari duit, namun ia menganggap uang bukanlah segala-galanya sehingga ia tidak terlalu terpengaruh oleh yang namanya fulus melainkan sukses perlu dicapai.(faisal haris)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here