Hal-Hal Yang Menjadi Perusak Hati Kita Yang Perlu di Perhatikan.

0
191

Oleh Achmad Shiva’ul Haq Asjach

Seperti yang kita semua tahu, bahwa hati adalah salah satu organ tubuh manusia yang paling sensitive dan cukup penting. Dan pengaruhnya pun sangat menentukan bagaimana organ yang lain akan bergerak dan melangkah nantinya.

Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Kanjeng Nabi mengingatkan, yang artinya: “Ingatlah bahwa di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).” (HR Bukhari dan Muslim).

Lalu, bukankah hati yang sehat itu akan memudahkan setiap dari kita untuk menjalankan tugas di dalam kehidupan ini, baik secara jasmani maupun rohani? Dan karenanya, kita perlu untuk menjaganya dan merawatnya sebaik mungkin.

Ibnu Hajar memaparkan dalam kitab Munabbihat ‘ala Isti‘dadi li Yaumil Mi‘ad, bahwa Hasan Al Bashri menjelaskan ada enam hal yang dapat merusak hati seseorang, yaitu:

Yang pertama, melakukan dosa dengan harapan dia bisa bertaubat di kemudian hari.
Seseorang yang sadar akan perbuatan dosanya dan masih berangan-angan akan kembali ke jalan Tuhan pada waktunya adalah sebuah kesombongan. Dia terlalu percaya diri bahwa Allah masih memberikan waktu untuk bertaubat, padahal kesempatan itu belum tentu dimilikinya di lain waktu. Perbuatan dosa yang dilakukan dengan unsur kesengajaan (bukan faktor ketidaktahuan) akan berpotensi menjadikan hati semakin gelap.

Kemudian yang kedua, memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya.Pepatah kata yang sangat terkenal dan sering kita dengar adalah “ilmu tanpa amal bagaikan pohon yang tak berbuah” memang benar  nyatanya. Sebab, sejatinya tujuan dari sebuah pengetahuan adalah pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak mengamalkan ilmu disini bisa saja dengan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ilmu yang dimilikinya, atau bisa juga hanya dengan mendiamkan ilmunya sebagai koleksi dalam kepala.

Baca Juga :  Konstitusi Indonesia Seraya Mengalirkan Air Mata Bertitah Jangan Membunuh

Lalu yang ketiga, tidak ikhlas dalam beramal.Setelah ilmu diamalkan, urusan kita belum sepenuhnya selesai. Sebab, manusia masih dihinggapi oleh hawa nafsu. Kita mungkin saja sering berbuat baik, namun akan menjadi sia-sia karena tidak ada ketulusan kita dalam berbuat baik tersebut. Dan ikhlas merupakan hal yang cukup berat untuk dilakukan sebab meniscayakan kerelaan hati meskipun ada yang dikorbankan.

Dan yang keempat adalah, tidak bersyukur dalam menikmati rezeki yang telah diberikan Allah.
Bersyukur adalah pilihan dalam kehidupan yang seharusnya kita lakukan. Orang yang tidak mau bersyukur atas apa-apa yang diberikan oleh Allah adalah orang yang tidak memahami hakikat rezeki. Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nashaihul ‘Ibad mengartikan syukur dengan ijra’ul a’dla’ fi mardlatillah ta‘ala wa ijra’ul amwal fiha (menggunakan anggota badan dan harta benda untuk sesuatu yang mendatangkan ridha Allah). Artinya, selain ucapan ‘Alhamdulillah’, kita dianggap telah bersyukur apabila tingkah laku kita, termasuk dalam penggunaan kekayaan kita, bukan untuk jalan maksiat kepada Allah.

Kemudian yang kelima adalah, tidak ridha dengan ketetapan Allah.
Tidak hanya tidak mau bersyukur, melainkan selalu mengeluh dan merasa kurang atas ketetapan yang ada. Boleh jadi protes kepada Allah tentang kondisinya. Tidak ada hubungan langsung bahwa yang kaya adalah mereka yang paling disayang Allah, sementara yang miskin adalah mereka yang sedang dibenci Allah. Bisa jadi justru apa yang kita sebut ‘kurang’ sebenarnya adalah kondisi yang paling pas agar kita semua selamat dari tindakan melampaui batas.

Dan yang terakhir adalah, mengubur orang mati namun tidak mengambil pelajaran darinya.Peristiwa kematian adalah nasehat yang lebih gamblang daripada pidato-pidato dalam panggung ceramah. Ketika ada orang yang meninggal, kita disajikan fakta yang begitu jelas, bahwa kehidupan di dunia ini adalah fana. Dan liang kubur adalah momen perpisahan kita dengan seluruh kekayaan, jabatan, status sosial, dan juga popularitas yang pernah kita miliki. Selanjutnya, orang yang sudah meninggal akan berhadapan dengan semua pertanggungjawaban atas apa yang telah diperbuatnya selama hidup di dunia. Kanjeng Nabi bersabda, yang artinya: “Sungguh liang kubur merupakan awal perjalanan akhirat. Jika seseorang selamat dari (siksaan)-Nya maka perjalanan selanjutnya akan lebih mudah. Namun jika ia tidak selamat dari (siksaan)-Nya maka (siksaan) selanjutnya akan lebih kejam.” (HR Tirmidzi).

Baca Juga :  Gereja Papua Kini Menyepelehkan Hak Asasi Umatnya

Akhirnya, mari kita bersama-sama berbenah diri. Dan semoga kita selalu berada di Jalan yang semoga Jalan-Nya. Aamiin.
Wallahu alam bisshowab.
Semoga bermanfaat.

Penulis adalah: Pengasuh Majelis Thibbi al-Qulub, Desa Sidorejo 04/02 Kecamatan Pamotan Kabupaten Rembang. Penggagas Suluk Ndalanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here