“Pesan Kebebasan dari Dogiyai Buat Jakarta”

0
745

oleh:Wihai Boma

Salah satu orang tua marganya Tebai dari Timepa botou. Pada tahun 1978/1979, Beliau membungbus kaset Mambesak dengan sebuah plastik hitam.Tentunya, kaset Mambesak itu mengisahkan lagu-lagu perjungan Papua Barat.

Kelompok yang meregam kaset Mambesak yakni orang-orang Papua sendiri, yang dipimpin oleh Sang budayawan Alm,Tuan Alnor Clemens Ap. Upaya ini di buat untuk membebaskan Rakyat Bangsa Papua Barat oleh kelompok Aktivis perjuangan pembebasan Papua barat dari segala bentuk tindakan penindasan Republik ini
Untuk membebaskan Rakyat Papua lagunya disusn berdasarkan berbagai bahasa yang ada di Papua. Lagu-lagu kemudian tersebar di seluruh Tanah Papua, bahkan di luar Negeri . Ketika itulah Anakletus tebai pun pernah mendapat satu buah kaset. Anakletus pun merasa senang ketika itu.

Tetapi disisi lain dia merasa ketakutan dengan kehadiran TNI /Polri, yang selalu saja melakukan tindakan kekerasan tidak professional terhadap Rakyat. Maka sebuah kaset itu ia menyimpan di bawah tungku api, persis di rumanya sendiri.

Hal demikian dia buat karena takut diketahui oleh TNI/polri. Dia Tebai mengatakan, “Memang, saat itu Pemerintah melarang keras untuk putar lagu Mambesak.Ini buat saya tidak hanya takut, tetapi bingung, resah dan merasa merasa nyawa terancam.

Bahkan saat itu pun pemerintah melakukan tindakan kekerasan kalau ada orang Papua yang memutar lagu Mambesak itu. Maka untuk menghindari tindakan kekerasan pemerintah dalam hal TNI dan Polri dan untuk menyembunyikan kasetnya,Tebai memadamkan api pada siang hari.’’Kata dia campur pesan ayahnya.

Lalu, dia buat kolam kecil di tengah tungku api dengan maksud supaya tidak diketahui oleh Negara Kolonial. Padahal orang Papua tidak buat krimanal. Mereka hanya mengunkapkan kekhasan Papua lewat mambesak. Hal inilah merupakan salah satu lagu kebanggaan buat semua orang Papua. Dan kini kami melihat Mambesak sebagai lagu faforitnya orang Papua. Bahkan kami ingin mendengarkan agar Mambesak dapat diakui oleh Pemerintah luar negeri.

Baca Juga :  Alat Berat Dikerahkan Untuk Bersihkan Lokasi Runtuhan

Saya secara pribadi sangat salut sekali buat Tebaibo dari Botou di Timepa, yang ada berjiwa seperti demikian; walaupun ia tidak pernah pantau situasi politik Papua Barat di dalam Negeri maupun luar Negeri hanya kenal nama Papua Barat saja.

Namun Kini saya melihat secara fakta bahwa orang papua yang tau situasi politik terkadang bergabung dengan organisasi Bin/Bais/ BMP/yang mengarahnya pada melawan Organisasi kemanusian, menjual orang Papua, menjual tanah,menjual segalah hasil kekayaan alam yang bagaikan Surga kecil yang turun dari Surga, yang ada di atas Tanah Papua.

Pada Tahun 1969, Tebaibo sebagai pelaku sejarah Penentuan pendapat Rakyat (PEPERA) yang terjadi di Moanemani sekarang disebut ibu kota Kabupaten Dogiyai. Saat itu masyarakat Kabupaten Dogiyai melawan Tentara Belanda dengan senjata Tradisional yaitu Ukaa dan Mapega. Saya sangat bangga orang tua saya karena mereka mampu mengalahkan pasukan Belanda itu meskipun dengan senjata tradisional. Kini saya melihat semakin pudar cultur kami.

Padahal budaya sebagai identitas orang Papua pada umumnya di Kabupaten Dogiyai pada Khususnya. Kelunturan nilai-nilai budaya ini terjadi karena masuknya pengaruh Budaya dari luar. Orang luar dengan budayanya telah mempengaruhi budaya Papua yang sebenarnya. Sehingga orang Papua tidak bisa bersain dengan dubaya-budaya global.

Saya pikir Pemerintah NKRI dan Belanda segera luruskan sejarah Integrasi Papua. Jika tidak? Pemerintah tidak akan pernah menyelesaikan komflik Papua.

Penulis Adalah Oleh:Wihai Boma

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here