SPM Untuk Peningkatan Mutu Pendidikan Di Belu

0
602

ATAMBUA, NTT- Zonadinamika.com,Program Pengembangan Kapasitas Penerapan Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Dasar (Program PKP-SPM DIKDAS) DAKER VII – NTT merupakan program peningkatan mutu pelayanan guna meningkatkan mutu dan kualitas dari pelayanan guna kemajuan suatu daerah.

Khusus bidang pendidikan, dikatakan bahwa saat ini Belum adanya kesadaran dan tanggungjawab guru dan Kepala Sekolah terkait standar pelayanan minimal dalam dunia pendidikan”, Kata Dr. Ulu Emanuel Saat memberi materi dalam sosialisasi di Aula Dinas PPO Belu, (Selasa, 26/4/16).

Menurutnya, tingkat kesejahteraan yang diberikan berupa tunjangan kepada guru di Kabupaten Belu selama ini tidak menjadi patokan bahwa anak didik tersebut menjadi pintar sebab kurang adanya fasilitas yang mendukung.

Untuk merancang pendidikan yang berkualitas harus melibatkan semua pihak yang ikut bertanggung jawab,” Ungkap Ulu.

Soal buku pelajaran yang menjadi referensi dalam pembelajaran juga menjadi salah faktor penting untuk mengukur mutu pendidikan di sekolah-sekolah sebab anak-anak kurang membaca, hal ini juga sama halnya dengan guru yang datang ke sekolah tidak mempersiapkan bahan ajarnya dengan baik sehingga murid juga sulit mengikuti pelajaran dengan baik.

Salah satu indikator penting bahwa setiap guru perlu menyampaikan evaluasi mata pelajaran serta hasil evaluasi peserta didik kepada kepala sekolah pada akhir semester dalam bentuk laporan prestasi belajar peserta didik.

Sekolah yang efektif menurut ulu yakni lingkungan belajarnya harus baik, punya visi dan tujuan bersama, harapan yang tinggi, dan memiliki fasilitas yang baik.

Proses pendidikan komprehensif harus bertumpu pada olah pikir, olah hati, olahraga dan olah rasa sehingga apabila anak yang lulus dari sekolah tersebut tidak hanya pintar jasmani tetapi memiliki kepribadian yang baik dalam kerohanian.

Baca Juga :  DPRD Agam Monitoring Lokasi Sekolah Jelang Belajar Tatap Muka

Standar Pelayanan Minimal (SPM) juga menyangkut kurikulum, sebab sekarang kurilulum sering berganti maka kepala sekolah dan guru dan murid sulit menyesuaikan dengan kurikulum sebelumnya. Oleh karena itu perlu adanya batasan-batasan tenaga pengajar sesuai dengan tingkat pendidikan, misalnya guru SD harus memiliki ijazah sarjana sehingga tingkat pemahamannya lebih luas untuk mendidik siswa dengan baik dan tidak kesulitan menyesuaikan dengan perubahan kurikulum yang ada”, Pungkasnya. (Nus Feka).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here