Tindakan Polres Nias Terkesan Tidak Manusiawi dan Bertindak Seperti Preman Jalanan

0
1098

MEDAN – Zonadinamika.com. Pada hari minggu tanggal 10 April 2015 Ketua DPW Gempita Sumut, Esra Ginting Manik. SE lakukan konferensi pers dikantor DPW Gempita Sumut jalan Bunga Lau,Pukul 16.00 Wib.terkait penangkapan dan penahanan ke 8 orang LSM dan PERS pada minggu malam 03 April 2016 sekira pukul 21.00 wib saat LSM dan PERS lakukan aksi damai dengan menyalakan 1000 lilin sebagai tanda kekecewaan atas pemadaman listrik yang berturut-turut 3 hari dan 3 malam.

Kronologis kejadian Aksi damai mulai dari jam 20.00 wib didepan kantor PLN Cabang Nias dengan menyalakan 1000 lilin, pada pertengahan menyalakan 1000 lilin datang sepasukan personil polres nias sebanyak 2 Truk berpakaian seragam lengkap tanpa banyak pertanyaan langsung Bripka.
Sardo simarmata menginjak lilin, karena tidak terima massa aksi mereka protes namun dengan arogannya personil polres nias langsung melakukan pemukulan dan menendang kemudian menyeret massa aksi keatas mobil truk dan dibawa Mapolres Nias, ironisnya keluarga LSM dan PERS tak bisa bertemu hingga keluar surat penahanan pada senin malam tanggal 04 april 2016.

Menyikapi kejadian tersebut Ketua DPW Gempita Sumut, Esra Ginting Manik, SE angkat bicara, tindakan personil polres nias yang brutul melakukan pemukulan terhadap massa aksi damai, cocoknya jadi preman jalanan, kemudian jika massa aksi belum menyuratin polres nias untuk lakukan aksi damai harusnya polres nias bubarkan secara paksa bukan justruh memukul dan menendang massa aksi secara brutal karena negara kita negara HUKUM.

Ketua DPW Gempita Sumut, Esra Ginting Manik, SE menegaskan bahwan masalah pemberitahuan secara tertulis bukan tindakan pidana, namun penganiayaan yang dilakukan pasukan polres nias adalah murni pidana. Dengan tegas diminta Kapolri dan Kapolda sumut segera tindak personil polres nias yang melakukan penganiayaan terhadap 8 0rang LSM dan PERS dikepulauan nias dan juga berharap segera dibebaskan demi keadilan HUKUM.

Baca Juga :  Dugaan Malpraktek Tumbuh Subur Di Karawang dan Tidak Tersentuh Hukum

Sementara Bidang Humas DPW Gempita Sumut, Delisama Ndruru yang berada ditempat kejadian sangat menyesalkan sekali tindakan pasukan personil polres nias sebanyak 2 truk yang bertindak secara brutul melakukan tindakan kekerasan terhadap massa aksi dengan memukul, menendang sekaligus menyeret masuk mobil truk polres nias, saya berharap agar Pelanggaran HUKUM yang dilakukan pasukan personil polres nias kepada 8 orang rekan kami LSM dan PERS segera ditindak dan diproses sesuai dengan HUKUM yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia dan perlu saya tegaskan bahwa massa aksi damai belum melakukan tindakan anarkis.

Beberapa media online menyebutkan bahwa sikap arogan yang ditunjukkan para petugas dari polres nias pada saat kejadian itu tak ubahnya seperti tindakan preman jalanan, hal ini dibuktikan dari pengakuan para saksi mata yang melihat langsung tindakan brutal oknum petugas saat itu.

Mirisnya lagi, 8 wartawan yang berada dilokasi kejadian menjadi korban pemukulan oleh beberapa oknum petugas Polres Nias. Selain para awak media itu mendapat tindakan kekerasan dari para petugas, mereka malah ditangkap dan diboyong ke Mapolres Nias, dan informasi yang beredar saat ini mereka dijadikan sebagai tersangka oleh pihak Polres Nias.
Semenjak para wartawan itu ditangkap, dikabarkan bahwa tidak seorang pun dari pihak keluarga diperbolehkan menjenguk mereka di rumah tahanan polres nias dan bukan hanya itu awak media pun sangat susah mendapat informasi akurat tentang keadaan dan kondisi 8 korban penangkapan tersebut.

Jumat, 8 april seharusnya menjadi hari kebahagiaan bagi para keluarga korban penangkapan tersebut, dimana Kapolres AKPB. Bazawato Zebua, SH. Yang juga merupakan putra daerah itu sendiri berjanji dihadapan ratusan masyarakat nias yang tergabung dalam Aliansi Pijar Nias (API-Nias) yang melakukan aksi damai di halaman lapangan merdeka kota gunungsitoli untuk memperbolehkan pihak keluarga menjenguk para tersangka itu.

Baca Juga :  Hary Tanoesoedibjo Akan di Periksa Kejagung

Namun anehnya, sesampainya di mapolres nias pihak keluarga tersangka tersebut, mendapatkan pelayanan yang sangat mengecewakan dari petugas piket di mapolres nias, dimana waktu berkunjung mereka diberikan tidak lebih dari 5 menit.

“Kami sangat kecewa dan kami menilai pihak polres nias tidak manusiawi, masa waktu berkunjung hanya diberikan 5 menit? Bagaimana kami bisa mengetahui keadaan mereka dan lain-lainnya pak? Selain Waktunya yang begitu singkat, ruangan itu redup dan kurang terang lebih lagi penjagaannya sangat ketat sekali, seperti teroris saja dibuat para tersangka itu”, ungkapan kecewa salah seorang pihak keluarga yang ikut menjenguk para tersangka tersebut di rumah tahanan Mapolres nias.

Penelusuran wartawan kepihak keluarga yang lain menjelaskan bahwa para tersangka tersebut diperlakukan sangat tidak wajar.
“Kami melihat dibeberapa bagian tubuh mereka ada memar, dan kebiru-biruan pak, seperti bekas pukul gitu.

Padahal, apa salahnya pihak polisi itu memperbolehkan kami berjumpa ditempat yang agak terang, mereka kan bukan pembunuh atau terlibat teroris lantas kenapa diperlakukan demikian?”

Ini merupakan bagian membunuh pergerakan para aktivis di nias pak, ya… Boleh-boleh saja saat ini mereka yang ditangkap dan menderita namun jika ini tidak dapat di usut tuntas maka pergerakan aktivis di nias ini tidak ada lagi, karna takut ditangkap dan dijadikan tersangka serta di jebloskan ke dalam penjara.

Mohon pak, kami meminta keadilan atas mereka, ini sudah masuk ke kategori pelanggaran HAM, pinta pihak keluarga tersangka tersebut dengan nada terseduh-seduh.
Tim semakin tertarik menelusuri kasus ini, dibeberapa media online yang bersatandar nasional menyebutkan bahwa para aktivis yang 8 orang itu tidak berprofesi sebagai wartawan.

Maka dari itu, Tim menghubung salah seorang keluarga korban penangkapan tersebut dan keluarganya tersebut menerangkan bahwa salah satu diantaranya beeprofesi sebagai jurnalistik.

Baca Juga :  Kepsek SMK Madiun Di Bui Oleh Siswanya Karena Doyan Pungli

“Iya pak, benar. Salah satu diantara yang ditangkap itu adalah saudara saya dan pekerjaannya wartawan, saya sudah pernah lihat KTA (Kartu Tanda Anggota) nya.”
Salah seorang rekan korban penangkapan itu pun membenarkan.

“Setahu saya bang, salah satu diantaranya adalah wartawan dan kami pernah meliput bareng, itu saja yang saya tahu, ungkap rekan seprofesi dengan salah satu korban penangkapan tersebut.

Namun berdasarkan berita yang dimuat di beberapa media online berstandar nasional, yang mengatakan para korban penangkapan itu bukan wartawan,hal itu berdasarkan informasi yang bersumber dari Kepala satuan reserse polres nias Ajun Komisaris Polisi Selamat Kurniawan Harefa yang mengatakan bahwa delapan orang tersangka tersebut terdiri dari Petani, mahasiswa dan wiraswasta, bukan sebagai wartawan (Sumber: Okzone.com).

Tentu saja dari pemberitaan yang berbeda ini sangat membingunkan masyarakat umum, maka Tim menghimpun informasi ini tidak hanya berpusat pada salah satu sumber saja melainkan menelusuri kebenaran dari pihak-pihak terkait yang dapat dipercaya. (tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here