Kemiskinan Dan Ketakwaan

0
564

Oleh : A Nasution

Kemiskinan di negeri ini yang saat ini terus mengalami peningkatan ‘kurang tepatlah jika visi kita hanya terpaku kepada indikator-indikator ekonomi dalam bentuk angka dan statistik, Tapi alangkah baiknya kita ke masuk relung-relung kehidupan ,karena sebagian besar rakyat bangsa ini yang masih bergulat dengan beragam dimensi kemiskinan

Seandainyapun krismon betul-betul terjadi ,sebelum nya pun masyarakat dan kehidupan bangsa kita ini masih sangat memprihatinkan. Jelasnya Kemiskinan masih sangat merajalela dengan segala macam dimensinya: kebodohan, kejahatan, kesewenang-wenangan, bahkan kekufuran nikmat pun sudah hal biasa .

Dalam bahasa agama, kita bisa mengatakan bahwa rahmat dan keberkahan dari langit masih belum turun kepada bangsa ini. Nah, kalau kita kembali kepada Alquran, solusi atas semua ini adalah peningkatan ketakwaan seluruh elemen bangsa.

Tentu saja ketakwaan di sini tidak boleh dibatasi secara sempit kepada ibadah-ibadah individual. Salat, zikir, dan doa tapi tetaplah pada elemen fundamental dalam kehidupan beragama. Akan tetapi, perintah Tuhan kepada ummat Islam bukanlah hanya berputar-putar pada ranah ibadah mahdhah. Ketakwaan pun tidak hanya menjadi predikat bagi kegiatan individual.

Karena ketakwaan memiliki arti luas hingga menyentuh segala kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika ketakwaan diartikan secara sederhana sebagai bentuk ketaatan terhadap perintah Allah dan upaya untuk menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya, jelas sekali bahwa perintah dan larangan Allah itu memang tersebar di berbagai dimensi kehidupan manusia, mulai dari politik, ekonomi, hingga sosial.

Lihatlah dalam bidang politik. Seorang politisi disebut bertakwa jika sejak awal dia memiliki tujuan yang benar saat terjun di dunia politik. Dalam Islam, politik bukanlah kendaraan pemuas syahwat ingin memimpin dan memburu rente demi kepentingan pribadi dan golongan. Politik dalam Islam sangat jauh dari perilaku saling sikut, mengelabui, dan melakukan manipulasi publik. Islam jelas melarang kebohongan, manipulasi, dan kemunafikan.

Baca Juga :  BPD dan Desa

Lalu ada ketakwaan ekonomi. Di sini, akan kita temukan kutukan keras Islam terhadap sejumlah perilaku buruk seperti merebut hak orang lain, memakan barang haram, atau menggunakan cara-cara licik yang sepintas terlihat legal tapi kenyataan di dalamnya penuh dengan korupsi dan pembusukan.

Ada juga ketakwaan sosial, yaitu sejumlah perilaku dalam kehidupan sosial kemasyarakatan yang sangat ditekankan oleh agama. Seseorang disebut bertakwa jika dalam interaksi sosialnya, ia mampu menjaga amanah, bersikap jujur, baik, sopan, empati, dan segala perilaku baik lainnya.

Jika berbagai elemen bangsa ini mampu menerapkan konsep ketakwaan tersebut di atas, bisa dipastikan bahwa ancaman apapun yang menghadang akan bisa kita hadapi; negeri ini akan diguyur oleh limpahan rahmat Ilahi.

Tentu saja, perilaku ketakwaan di semua lini kehidupan itu kita harapkan pertama-tama akan ditunjukkan oleh para pemimpin bangsa ini. Mereka memberikan contoh, dan rakyat akan menirunya. Tapi, yang seperti ini agaknya masih merupakan mimpi belaka ***

Penulis Wartawan Online Zonadinamika .com Perwakilan DKI Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here