Para Pelaku BOM Sarinah Tercatat Sebagai Warga Karawang Jawa Barat

0
976

Karawang,Zonadinamika.com – Kabupaten Karawang mendadak sangat terkenal setelah aksi teror bom di Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (14/1) lalu. Soalnya, tiga dari lima orang yang diduga pelaku teror tersebut, teridentifikasi berasal dari kabupaten Karawang.

Pelaku teror yang paling disorot karena terlihat jelas oleh mata kamera menembaki polisi dan masyarakat di Thamrin, adalah Sunakin alias Afif warga Dusun Duren RT 16 RW 5, Desa Duren, Kecamatan Klari.

Kepala Desa Duren Halim mengatakan, Sunakin merupakan pendatang yang sudah memiliki kartu identitas sebagai warga Duren, beristri warga Jakarta bernama Yuniar dan dikaruniai seorang anak. “Betul Sunakin yang dimaksud adalah mantan karyawan PT Bridgestone yang istrinya orang Jakarta, tapi jarang di rumah,” ujarnya kepada Radar Karawang, Jumat (15/1).

Ia melanjutkan, kartu identitas yang dimiliki Sunakin masih KTP lama dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK) 1017030501810008. Informasi yang diperolehnya, Sunakin sudah meninggalkan kontrakan di Duren sebulan terakhir, dan masih menunggak beberapa bulan. “Sudah sebulan tidak dikontrakkan karena menunggak,” ujarnya.

Disinggung keseharian pelaku teror yang saat kejadian berkaos hitam memakai tas merah, celana jins biru, bertopi hitam, dan menembaki polisi dengan pistol jenis FN, Ketua Umum Forum Kepala Desa Karawang (Fordeska) ini mengaku jarang bertemu Sunakin. Namun, sejak kelompok teroris Dulmatin gencar melakukan aksi di berbagai daerah, banyak orang yang mencari Sunakin. “Saat ramai kelompok Dulmatin, ada yang mencari pelaku teror sampai ke Duren ini sebanyak 6 orang. Satu diantaranya Sunakim itu ternyata,” katanya.

Menurut Abdul Halim, sejak tahun 2008 Sunakin sering mengadakan pengajian bersama teman-temanya di Klari. Berdasarkan laporan masyarakat, pengajian Sunakin terindikasi sesat. “Ada tiga pengajian yang saya bubarkan yaitu Pengajian di Mushala At-Taufiq Kampung Duren RT 14/RW 05. Pengajian tanpa bentuk di Kampung Bobokan RT 30 RW 08, dan pengajian pimpinan Kang Ayat berasal dari Garut. Salah satu pengajian diikuti oleh Sunakin,” timpalnya.

Baca Juga :  4D Kejari Tinjau 3 Proyek Peningkatan Jalan di Kecamatan Siak Kecil

Sebelumnya, pasukan anti-teror Densus 88 pernah menangkap Sunakin akibat terlibat dalam pelatihan perang, dan kepemilikan senjata di Aceh pada 2007. Ia divonis 7 tahun penjara dan sempat mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. “Afif adalah tukang urut Aman Abdurahman. Dia pernah dipenjara karena kasus teror di Aceh selama tujuh tahun di LP Cipinang,” kata Pemerhati terorisme, Muhammad Jibriel Abdul Rahman.

Lain lagi dengan Sugito, warga Blok E2 no 66 Griya Panorama Indah RT 03/12 Desa Purwasari, Kecamatan Purwasari, yang juga diduga ikut terlibat dalam aksi teror di Thamrin, kediamannya terlihat sepi. Pagar rumahnya tertutup rapat, hanya terlihat tetangganya banyak berkumpul di depan rumah bercat kuning tersebut.

Warga yang tinggal di sebelah rumah Sugito, Nasarudin (48), mengaku tidak percaya tetangganya yang bekerja sebagai kurir di PT Fajar Indah Cakra Cemerlang (FICC), di Jalan Petojo Enclek, Jakarta Pusat, merupakan teroris. “Saya enggak percaya pak Sugito jadi pelaku, toh orangnya biasa saja, kerjaannya kurir di Jakarta,” ujarnya.

Dia meyakini Sugito hanya korban. Pasalnya, sehari-hari dia bekerja di FICC yang hanya berada sekitar 10 kilometer dari lokasi insiden Sarinah. Setiap hari, kata Nasarudin, Sugito pulang pergi dari Karawang menuju tempatnya dia bekerja. “Mungkin pak Sugito kebetulan lagi jalan di daerah Sarinah menuju kantornya, soalnya kan gak terlalu jauh dari lokasi,” katanya.

Sugito, kata Nasarudin, rajin membeli rumah dengan harga Rp 60 juta. Saat ini, Sugito sudah memiliki enam rumah yang dikontrakkan pada warga sekitar. Sugito memiliki seorang istri dan tiga anak. Anak pertamanya sudah menikah, anak kedua sedang duduk di bangku SMA, sementara anak ketiganya masih SD. “Semalam, salah seorang anggota Densus menunjukkan KTP atas nama Sugito kepada istri saya.

Baca Juga :  Polisi Telusuri Sejumlah Dokumen Penerima Ijazah Palsu University Of Sumatera

Ditemani kapolres Karawang, mereka bertanya aktivitas Sugito beberapa hari ini,” ujar Nasarudin.
Hal senada dikatakan Suhaebi (36), ketua RT setempat yang membenarkan Sugito warga setempat. Bahkan dia sebagai ketua RT merasa kaget dengan insiden tersebut. Pasalnya dalam kesehariannya Sugito merupakan sosok warga yang baik, dan biasa bersosialisasi. “Pak Sugito itu sudah jadi warga sini sejak lama. Rumahnya milik sendiri, enggak aneh-aneh kok orangnya, malah rajin, bersosialisasi juga,” ujarnya.

Istri Sugito, Eny Sulastri bersama kedua anaknya, dikatakan Suhebi, dibawa ke Jakarta oleh aparat berpakaian sipil menggunakan mobil Avanza berwarna hitam.
Proses penjemputan berlangsung cepat dan hanya diketahui sejumlah tetangga, ketika enam anggota polisi berpakaian sipil membawa ke Jakarta. “Saya hanya mendapat laporan dari warga kalau istri dan anak pak Sugito dibawa orang yang mengaku kerabatnya ke Jakarta. Tapi setelah itu saya juga dimintai keterangan oleh kepolisian terkait Sugito,” kata Suhebi.

Sementara itu, orang ketiga yang diduga ikut beraksi di Thamrin, Ajad Sudrajat ternyata memalsukan alamatnya. Pasalnya, saat didatangi ke rumahnya yang tercatat di Perumnas Telukjambe RT 09 RW 07 Blok S No 202, Desa Sukaluyu, Kecamatan Telujambe Timur, ternyata alamat palsu. Pasalnya, rumah tersebut bukan atas nama Ajad Sudrajat, melainkan Solikin. Dan ada kesalahan dalam pencantuman RT, karena rumah tersebut berada di RT 02 bukan 09.

Kejadian ini membuat pemilik rumah terkejut, karena dirinya sempat dikunjungi aparat kepolisian untuk dimintai keterangan. “Iya saya kaget, di sini bukan rumah Pak Ajad,” ujar Solikin ketika ditanya Radar Karawang.

Dia menuturkan, dirinya sejak tahun 2011 tinggal di Perumnas Telukjambe, yang sebelumnya tinggal di Sauyunan. Dia membeli rumah dari pemilik yang bernama Bambang. “Dulu ada yang ngontrak, tapi saya tidak tahu. Karena saya komunikasi dengan Pak Bambang (pemilik rumah),” tutur suami dari Retno ini.

Baca Juga :  DPW PBB Kalteng Persiapkan Pelantikan dan OKP

Camat Telukjambe Timur Asep Cece juga kaget ketika ada kabar yang menyebutkan jika ada terduga teroris tinggal di wilayahnya. “Data yang tertera dalam identitas terduga pelaku teroris Sarinah Jakarta ini bodong. Data-data itu tidak valid, RT-nya pun berbeda. Kita sudah cek ternyata palsu,” ucapnya. (zd/rk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here